Lawan Pemberontak, Mali Kembali Terima Drone Tempur AKINCI dari Turkiye
BaykarAIRSPACE REVIEW – Pasukan junta militer Mali secara resmi kembali menerima pengiriman armada drone tempur canggih buatan Turkiye, Baykar Bayraktar AKINCI. Penerimaan ini disampaikan langsung oleh pihak militer Mali melalui akun Facebook resmi mereka menyusul upacara serah terima yang digelar baru-baru ini.
Meski komando pasukan junta militer tidak merinci jumlah pasti unit yang diterima pada pengiriman kali ini, tayangan siaran televisi nasional Mali menampilkan tiga unit drone AKINCI. Drone tersebut tampak dilengkapi dengan amunisi berpemandu laser presisi tinggi MAM-L serta bom luncur MAM-T buatan perusahaan pertahanan asal Turki, Roketsan.
Pengiriman ini merupakan tahap ketiga yang tercatat dalam pasokan drone AKINCI ke Mali, setelah pengiriman sebelumnya pada November 2024 dan Februari 2026.
Berdasarkan nomor seri yang tertera pada badan pesawat nirawak tersebut, Mali diperkirakan telah menerima total delapan unit AKINCI.
Bayraktar AKINCI merupakan drone kelas berat yang dikembangkan oleh perusahaan asal Turki, Baykar. Pesawat nirawak ini memiliki bobot lepas landas maksimum hingga 6 ton, kapasitas muatan (payload) mencapai 1.350 kg, serta daya jangkau operasional melebihi 4.300 km.
Penguatan Pengaruh Pertahanan di Afrika Barat
Langkah Mali mengadopsi teknologi militer Turkiye sebenarnya telah dimulai sejak 2022 melalui penerimaan drone Bayraktar TB2. Saat itu, Mali menjadi negara kelima di kawasan Afrika Barat yang mengoperasikan drone buatan Baykar.
Wilayah Afrika Tengah dan Barat kini menjadi pasar baru bagi industri persenjataan Turkiye, terutama setelah penarikan pasukan militer Prancis dari kawasan tersebut.
Baca Juga: Pemberontak Mali rebut helikopter Mi-24 tentara pemerintah dalam serangan di Sahel
Sebelumnya, militer Prancis ditempatkan di Mali pada periode 2013 hingga 2022 dalam rangka Operasi Serval dan Barkhane untuk membendung kelompok pemberontak, termasuk jaringan yang terafiliasi dengan ISIS.
Rusia dan China
Selain Turkiye, kawasan ini juga menarik minat Rusia dan China melalui dukungan politik, akses sumber daya alam, dan pasokan senjata.
Belum lama ini, kapal kargo asal Rusia yang terkena sanksi internasional dilaporkan mengirimkan pasokan senjata skala besar ke Mali melalui Togo.
Baca Juga: Rusia gelar kekuatan udara terintegrasi di Mali: Dari jet serang hingga helikopter berat
Peralatan militer yang dikirim mencakup kendaraan tempur lapis baja BTR-82A, kendaraan tempur infanteri BMP-3, kendaraan taktis Tigr, serta kendaraan lapis baja VP11 buatan China.
Rangkaian pasokan senjata ini mengindikasikan peningkatan dukungan Kremlin terhadap junta Mali yang tengah menghadapi tekanan berat. Pemerintah militer Mali saat ini kehilangan kendali atas sebagian besar wilayahnya menyusul serangan masif dari koalisi pemberontak yang melibatkan kelompok jihadis JNIM dan pasukan Tuareg. (PN)
