Pemberontak Mali rebut helikopter Mi-24 tentara pemerintah dalam serangan di Sahel

Pemberontak Mali berhasil merebut heli Mi-24 tentara pemerintahVia X

AIRSPACE REVIEW – Situasi keamanan di wilayah Sahel pada 27 April 2026, semakin memanas setelah kelompok pemberontak di Mali utara, yang dikenal sebagai Kerangka Strategis Permanen untuk Perdamaian, Keamanan, dan Pembangunan (CSP-PSD), mengklaim telah merebut sebuah helikopter serang Mi-24 buatan Rusia.

Kejadian ini merupakan pukulan telak bagi militer Mali dan mitra tentara bayaran Rusia dari Wagner Group (sekarang dikenal sebagai Korps Afrika) yang telah aktif membantu pemerintah pusat dalam memerangi separatis dan kelompok militan di wilayah tersebut.

Laporan dari lapangan menyebutkan, helikopter Mi-24 tersebut terpaksa melakukan pendaratan darurat atau berhasil dilumpuhkan di dekat perbatasan Aljazair setelah terlibat dalam pertempuran sengit di sekitar wilayah Tinzaouatene.

Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan para pejuang pemberontak berdiri di depan helikopter yang relatif masih utuh, menandakan bahwa aset udara tersebut kini berada di bawah kendali mereka.

Ofensif yang dilancarkan oleh pemberontak Tuareg ini telah berlangsung selama beberapa hari terakhir, Reuters melaporkan.

Mereka mengklaim telah menewaskan dan melukai puluhan tentara Mali serta tentara bayaran Rusia, selain menghancurkan kendaraan lapis baja dan menyita sejumlah besar persenjataan.

Kehilangan helikopter Mi-24 —yang dikenal sebagai “tank terbang” karena daya hancurnya yang besar— menjadi simbol kerentanan pasukan pro-pemerintah di medan tempur Sahel yang luas dan keras.

Helikopter yang direbut tersebut memiliki nomor registrasi TZ-07H, yang merupakan bagian dari paket bantuan militer Rusia yang dikirim ke Mali pada Maret 2022.

Hal ini juga memperburuk citra efektivitas pasukan Rusia yang sebelumnya dianggap sebagai solusi cepat bagi masalah keamanan di Mali setelah penarikan pasukan Prancis.

Para analis militer menunjukkan bahwa keberhasilan pemberontak merebut teknologi militer canggih ini dapat mengubah dinamika konflik.

Selain kehilangan dukungan udara yang krusial, pasukan pemerintah Mali kini harus menghadapi kenyataan bahwa moral pasukan pemberontak sedang meningkat pesat.

Pertempuran di wilayah Tinzaouatene telah memaksa warga sipil melarikan diri ke perbatasan Aljazair.

Hingga saat ini, pemerintah transisi Mali dan pihak Moskow belum memberikan pernyataan resmi mengenai jatuhnya helikopter tersebut atau jumlah korban jiwa di pihak mereka.

Konflik di Mali tetap menjadi pusat perhatian internasional, mengingat wilayah Sahel merupakan titik panas bagi aktivitas kelompok radikal dan perebutan pengaruh geopolitik antara kekuatan Barat dan Rusia.

Dengan jatuhnya aset udara penting ini ke tangan pemberontak, upaya stabilisasi di Mali tampaknya akan menghadapi jalan yang semakin terjal. (RW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *