Ini Kemampuan Ranpur Amfibi AWAV 8X8 yang Ditawarkan Thailand ke Indonesia

Chaiseri AWAV 8x8The Standard
Ranpur Amfibi Chaiseri AWAV 8X8.

AIRSPACE REVIEW – Lini kendaraan tempur amfibi Korps Marinir TNI Angkatan Laut berpotensi mendapatkan penambahan armada baru dari kawasan Asia Tenggara. Dalam pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Pemerintah Thailand secara resmi menawarkan 36 unit Amphibious Wheeled Armoured Vehicle (AWAV) buatan pabrikan dalam negerinya, Chaiseri, untuk mendukung kesiapan operasi pendaratan amfibi Indonesia.

Ranpur amfibi AWAV dirancang khusus dengan konfigurasi penggerak 8X8 yang memberikan mobilitas tinggi di darat serta stabilitas optimal saat menerjang medan berlumpur atau berbatu di area pantai.

Untuk kemampuan manuver di perairan terbuka, ranpur ini mengandalkan sistem pendorong waterjet ganda di bagian belakang, memungkinkannya melaju cepat dari kapal pendarat menuju garis pantai sasaran.

Dari segi proteksi, AWAV mengusung konstruksi lambung berstandar STANAG NATO yang sanggup menahan tembakan proyektil kaliber sedang serta serpihan artileri.

Baca Juga: Chaiseri kirimkan panser amfibi AWAV 8X8 pertama kepada Korps Marinir Thailand

Sistem perlindungan bawah kendaraan juga dirancang khusus untuk meminimalisasi dampak ledakan ranjau darat maupun Improvised Explosive Device (IED), menjamin survivabilitas personel di dalamnya.

Dari segi kapasitas angkut, AWAV 8X8 dirancang dapat membawa hingga 11 personel, terdiri dari 3 awak kendaraan (komandan, pengemudi, dan penembak) serta 8 personel pendarat infanteri marinir dengan perlengkapan tempurnya. Kompartemen pasukan di bagian belakang dilengkapi ramp hidrolik untuk memudahkan keluar-masuk pasukan secara cepat di zona pendaratan.

Persenjataan

Untuk opsi persenjataan, selain dapat dilengkapi modul Remote Control Weapon Station (RCWS) berkaliber 12,7 mm atau peluncur granat otomatis 40 mm, kubah senjatanya juga fleksibel diintegrasikan dengan meriam otomatis kaliber 30 mm.

Fleksibilitas ini memungkinkan AWAV berperan tidak hanya sebagai kendaraan pengangkut personel (APC), tetapi juga sebagai kendaraan tempur infanteri (IFV) yang memberikan bantuan tembakan jarak dekat.

Menopang performa tempurnya, AWAV dibekali berbagai sistem pendukung modern seperti Central Tire Inflation System (CTIS) untuk menyesuaikan tekanan ban di tanah lunak atau pasir, sistem pemadam kebakaran otomatis di ruang mesin dan kabin, serta kamera navigasi malam day/night thermal vision.

Ranpur ini juga mengusung sistem pendingin udara (AC) khusus kabin dan proteksi NBC (Nuklir, Biologi, Kimia) untuk mendukung kenyamanan serta keselamatan personel selama operasi berlangsung.

Kendaraan Pendarat Modern

Pengembangan AWAV 8X8 sendiri berawal dari upaya Chaiseri Defense untuk memenuhi kebutuhan mandiri negeri Gajah Putih akan kendaraan pendarat modern. Proyek ini diluncurkan guna menghadirkan platform amfibi kelas berat yang dirancang khusus untuk menghadapi karakteristik medan pesisir regional, sekaligus meremajakan armada pendarat era terdahulu.

Sejak memasuki lini produksi, puluhan unit ranpur ini telah diserahkan dan dioperasikan secara aktif oleh Korps Marinir Kerajaan Thailand (Royal Thai Marine Corps/RTMC). Sebelum resmi dinas aktif di satuan kavaleri laut Thailand, AWAV telah melewati pengujian ketat di berbagai medan, mulai dari pendaratan pantai berpasir hingga navigasi di perairan berarus deras.

Meskipun sejauh ini operasional utamanya masih terbatas di lingkungan militer Thailand, Chaiseri mulai gencar mengekspansi pasar internasional. Penawaran resmi 36 unit ke Indonesia ini menjadi langkah diplomasi pertahanan penting bagi Thailand untuk mendemonstrasikan keandalan alutsista buatan lokalnya di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga: Susul Korps Marinir Thailand, Filipina pesan panser amfibi AWAV 8×8 dari Chaiseri

Jika disandingkan dengan platform sejenis di kancah global, AWAV 8X8 menawarkan keunggulan rasio daya terhadap bobot (power-to-weight ratio) yang cukup impresif berkat mesin diesel bertenaga 711 HP pada bobot tempur 25,7 ton.

Karakteristik teknis ini membuatnya lebih bertenaga dibandingkan ranpur amfibi regional seperti VN-1 8X8 buatan NORINCO China yang dibekali mesin sekitar 440 HP, maupun Pandur II 8X8 berbasis teknologi Ceko yang mengusung mesin 450 HP.

Di sisi lain, meski berada di kelas yang lebih ringan dari Amphibious Combat Vehicle (ACV) milik Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) yang berbobot 30 ton, AWAV 8X8 tetap mampu menyamai kecepatan renang ACV di angka 10 hingga 13 km/jam berkat dorongan waterjet ganda, menjadikannya opsi ranpur pendarat yang sangat kompetitif untuk karakteristik operasi perairan tropis Asia Tenggara. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *