US Army evaluasi DropShip untuk misi pengiriman logistik ke medan berisiko tinggi

US Army evaluasi DropShip untuk mengirim logistik ke medan perangPyka
US Army evaluasi DropShip untuk mengirim logistik ke medan perang.

AIRSPACE REVIEW – Pyka,, perusahaan rintisan yang berbasis di Alameda, California, mengumumkan pesawat nirawak DropShip buatan mereka telah diuji oleh Angkatan Darat AS (US Army) dalam Project Convergence Capstone 6.

Kegiatan ini merupakan sebuah acara demonstrasi teknologi militer berskala besar di mana angkatan bersenjata menguji peralatan dan konsep baru bersama para prajurit dalam kondisi lapangan yang realistis.

Penerjunan Muatan Secara Presisi

Dalam simulasi yang dilaksanakan pada pertengahan 2026 ini, DropShip sukses menyelesaikan misi logistik sejauh 32 km dari Gulfport ke Diamondhead, Mississippi, sepenuhnya dikendalikan secara otonom.

Drone digunakan mengangkut ransum makanan siap saji (MRE) dan peralatan medis, sekaligus melakukan simulasi evakuasi korban dari landasan pacu yang sederhana, serta terbang melintasi jarak jauh ke lokasi operasi terpencil dan terdepan.

DropeShip berhasil membuktikan kemampuannya melepaskan beberapa muatan kargo seberat 90 kg secara mandiri dari ketinggian 9.000 m, dengan akurasi pendaratan dalam radius 15 m dari koordinat target.

Pengembangan Cepat

Pengembangan platform ini dilaksanakan secara cepat oleh Pyka, dari pengerjaan konsep awal hingga keberhasilan uji coba penerjunan udara presisi hanya dalam kurun waktu 8 bulan saja.

Drone dirancang untuk memindahkan pasokan ke tempat yang sulit dijangkau dan berisiko tinggi, baik karena tidak ada landasan udara yang dapat digunakan di dekatnya atau karena mengirim pesawat berawak akan membahayakan nyawa pilot.

Dalam sebuah misinya, Dropship mampu mengangkut logistik taktis, pasokan medis, atau transfer aset penting lainnya hingga seberat 249 kg.

Baca Juga: Bermitra dengan ERC System, Rheinmetall produksi Victor U250: Drone kargo serbaguna berkapasitas 250 kg

Dibekali sistem propulsi hibrida, drone menggabungkan tenaga pembakaran internal konvensional untuk daya tahan penerbangan jarak jauh dengan mode serba listrik yang lebih tenang dan senyap.

Hal ini memberi operator pilihan untuk beralih ke mode operasi yang hampir tanpa suara selama bagian paling sensitif dari sebuah misi, seperti pendekatan akhir ke area yang diawasi ketat oleh lawan.

Drone juga dapat lepas landas dan mendarat pada landasan pendek yang kasar atau tidak dipersiapkan (unprepared short surfaces).

Jangkauan operasional drone cukup jauh hingga jarak 5.633 km dan mampu terbang sekitar 45 menit. (RBS)

Foto: Pyka

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *