Gempur ‘Tomato Killer’, KRI Pulau Fani-731 sukses uji tembak meriam 20 mm Searanger
TNI ALAIRSPACE REVIEW – Gelombang laut utara Jawa menjadi saksi ketangguhan alutsista TNI Angkatan Laut. KRI Pulau Fani (PFN)-731 sukses menggelar uji fungsi amunisi kaliber 20×128 mm menggunakan meriam canggih Oerlikon Searanger 20 mm pada Selasa (21/7).
Latihan ini digelar khusus untuk menguji performa, keandalan, dan efektivitas amunisi demi memastikan persenjataan kapal perang TNI AL selalu berada dalam kondisi siap tempur.
Tak tanggung-tanggung, sasaran terapung berbentuk Tomato Killer (sasaran tembak terapung dengan warna mencolok) menjadi target gempuran dalam uji coba ini.
Aksi gempur tersebut ditinjau langsung oleh Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Laut (Kadislitbangal), Laksamana Pertama TNI Danny Hotler Bahtera, yang turut bertolak (onboard) di KRI Pulau Fani, didampingi tim ahli dari Dissenlekal, Dislitbangal, serta Labinsen.
Dalam pengujian tersebut, meriam Searanger melepaskan sebanyak 20 butir amunisi melalui tiga rentetan metode penembakan yang berbeda: single, rapid, dan burst. Seluruh amunisi melesat presisi dan berhasil memenuhi parameter teknis yang ditentukan tanpa kendala.
Keberhasilan uji fungsi ini menegaskan komitmen TNI AL, khususnya Koarmada II, untuk terus menjaga kesiapan operasional alutsista dan sistem persenjataan pada level optimal demi mengawal kedaulatan laut Nusantara.
Tentang KRI Pulau Fani-731
KRI Pulau Fani-731 merupakan salah satu pemburu ranjau (Mine Countermeasures Vessel) tercanggih buatan galangan kapal Abeking & Rasmussen di Jerman yang resmi memperkuat Satuan Kapal Ranjau Koarmada II TNI Angkatan Laut sejak tahun 2023.
Kapal yang mengusung nama pulau terluar di Papua Barat Daya ini dirancang dengan dimensi panjang 61,4 meter, lebar 13 meter, serta sarat air 3,9 meter untuk bermanuver lincah di kawasan perairan kepulauan.
Ditenagai oleh mesin diesel modern yang memampukannya menembus kecepatan maksimum hingga 18 knot, KRI Pulau Fani dibangun menggunakan material baja non-magnetik khusus (non-magnetic steel) serta memiliki jejak akustik yang sangat rendah, menjadikannya sangat aman dan hampir tak terdeteksi oleh ranjau laut modern yang mengandalkan sensor magnetik maupun getaran suara.
Teknologi Intai dan Penanggulangan Ranjau Modern
Keunggulan utama kapal perang berbobot penuh sekitar 1.100 ton ini terletak pada integrasi teknologi intai dan penanggulangan ranjau yang amat modern. KRI Pulau Fani dibekali sistem sonar pemburu ranjau beresolusi tinggi untuk memetakan dasar laut secara presisi, serta mengoperasikan kapal tanpa awak (Unmanned Surface Vessel) dan Remotely Operated Vehicle (ROV) yang sanggup mendekati, mengidentifikasi, hingga memusnahkan ranjau dari jarak aman.
Baca Juga: TNI AL resmi terima dua kapal perang terbaru: KRI Pulau Fani-731 dan KRI Pulau Fanildo-732
Sementara untuk pertahanan diri di permukaan, kapal dengan awak sekitar 48 personel ini mengandalkan meriam kendali jarak jauh (Remote Control Weapon System) 20 mm Searanger buatan Rheinmetall yang presisi dalam menghalau ancaman udara maupun permukaan.
Dengan perpaduan spesifikasi dan teknologi canggih ini, KRI Pulau Fani tidak hanya bertugas mengamankan jalur pelayaran vital Nusantara dari bahaya ranjau, tetapi juga sangat diandalkan dalam misi pencarian bawah air (SAR) berkat kemampuan pemetaan dasar lautnya yang luar biasa. (PN)
