Kenali drone taktis Airbus U030 Flexrotor, jalankan misi patroli 14 jam di Laut Baltik

Drone U030 Flexrotor buatan Airbus HelicoptersAirbus Helicopters
Drone U030 Flexrotor buatan Airbus Helicopters.

AIRSPACE REVIEW – Perairan Laut Baltik kini mendapatkan pengawasan ekstra ketat dari udara. Sistem Pesawat Tanpa Awak (UAS) taktis buatan Airbus Helicopters, U030 Flexrotor, secara resmi telah memulai operasi pengawasan maritim di kawasan strategis tersebut.

Pengoperasian ini dilakukan atas nama Badan Keselamatan Maritim Eropa (European Maritime Safety Agency/EMSA) melalui kontrak kerangka kerja senilai €30 juta (sekitar Rp525 miliar).

Langkah tersebut sekaligus menandai debut operasional pertama Flexrotor di Eropa untuk mendukung otoritas penjaga pantai di negara-negara Baltik, seperti Estonia, Latvia, dan Finlandia.

Pengawasan Waktu Nyata dan Terintegrasi

Dalam menjalankan tugasnya, Flexrotor dibekali dengan muatan sensor canggih berbasis Elektro-Optik/Inframerah (EO/IR) serta sistem radar.

Selama penerbangan, data intelijen yang dikumpulkan disiarkan secara waktu nyata (real-time) ke Pusat Data RPAS EMSA. Skema ini memungkinkan otoritas terkait memantau situasi lapangan secara presisi dan bertindak cepat terhadap potensi ancaman keamanan maritim maupun pencemaran lingkungan.

“Pengoperasian di kawasan Baltik membuktikan kemampuan U030 Flexrotor untuk beroperasi secara efektif di berbagai wilayah maritim sekaligus mendukung fungsi penting penjaga pantai,” ujar Victor Gerin-Roze, Head of Uncrewed Aerial Systems di Airbus Helicopters.

Keunggulan Teknis dan Performa Udara

U030 Flexrotor dirancang khusus untuk menjalankan misi Intelligence, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance (ISTAR) di medan yang menantang.

Dari segi operasional, drone ini mengusung kemampuan Vertical Takeoff and Landing (VTOL) yang memungkinkannya lepas landas dan mendarat secara vertikal di area sangat terbatas.

Flexrotor hanya membutuhkan ruang operasional berukuran 3,7 × 3,7 meter persegi, sehingga sangat fleksibel untuk diluncurkan baik dari darat maupun dek kapal patroli.

Meski masuk dalam kategori UAS Group 2 dengan berat lepas landas maksimum 25 kg dan kapasitas muatan (payload) hingga 8 kg, Flexrotor menawarkan efisiensi bahan bakar yang luar biasa.

Drone ini sanggup menempuh daya tahan terbang nonstop selama 12 hingga 14 jam, menjadikannya sarana pemantauan jangka panjang yang tangguh di perairan terbuka.

Tahap Produksi Operasional

Pengoperasian ini menandai transisi penting Flexrotor dari tahap evaluasi menuju misi rutin pemerintah.

Dengan fleksibilitas peluncuran yang tinggi serta performa sensor yang presisi, drone ini menjadi solusi efisien bagi Eropa dalam menjaga keamanan garis pantai, pemantauan batas maritim, serta penindakan aktivitas ilegal di perairan regional.

U030 Flexrotor pada dasarnya telah masuk ke tahap produksi operasional bertahap (serial production) untuk memenuhi pesanan khusus pertahanan dan pemerintah, namun bukan diproduksi secara massal untuk pasar konsumen luas.

Drone taktis ini awalnya dikembangkan oleh perusahaan asal Amerika Serikat, Aerovel, sebelum akhirnya diakuisisi oleh Airbus Helicopters pada awal 2024. Integrasi ini memperkuat portofolio produk UAS taktis Group 2 milik Airbus untuk memenuhi kebutuhan pasar militer dan pengawasan maritim internasional.

Baca Juga: Ini dia U145: Helikopter H145 versi tanpa awak dari Airbus untuk misi masa depan

Keandalan drone ini telah dibuktikan melalui penggunaannya oleh instansi pertahanan global, khususnya di Amerika Serikat. Departemen Perang AS (US DoW) dan Angkatan Laut AS (US Navy) telah menggelar Flexrotor dalam berbagai pengujian operasional ISTAR, termasuk peluncuran langsung dari atas kapal perusak rudal kelas Arleigh Burke.

Selain itu, di wilayah Amerika Utara, perusahaan kedirgantaraan Kanada, Voyageur Aviation, juga menjadi salah satu pengguna perintis untuk mendukung kebutuhan operasional di wilayah Arktik.

Baca Juga: Kombinasi maut Akıncı dengan munisi pintar Al Tariq: Mampu hantam target dari jarak 120 km

Penetrasi pasarnya terus meluas hingga ke kawasan Eropa dan Indo-Pasifik. Di Eropa, melalui kontrak dengan EMSA, Flexrotor kini secara resmi dioperasikan untuk menjaga kedaulatan perairan di negara-negara Baltik.

Sementara di kawasan Asia-Pasifik, perusahaan Drone Forge di Australia juga telah mengadopsi armada Flexrotor untuk misi pengawasan pantai dan infrastruktur maritim, mempertegas statusnya sebagai drone taktis bertaraf internasional yang siap gelar di berbagai belahan dunia. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *