Terbang tanpa perisai rudal: Alasan fatal Air Force One VC-25B Bridge ditarik mendadak

VC-25B Bridge Air Force One 747-8iX/ @cholubaz
VC-25B Bridge Air Force One Boeing 747-8i.

AIRSPACE REVIEW – Pesawat kepresidenan Amerika Serikat terbaru, VC-25B Bridge, dilaporkan akan segera ditarik sementara dari operasional penerbangan presiden. Langkah ini diambil guna menjalani perombakan dan peningkatan kapabilitas (upgrade) besar-besaran agar kemampuannya bisa mencapai batas maksimal (maxed out).

Keputusan ini mengejutkan publik karena armada baru tersebut belum lama diperkenalkan ke hadapan umum. Namun, di balik kemegahannya, terungkap celah keamanan yang membuat dinas rahasia AS (Secret Service) dan para pakar pertahanan melayangkan kekhawatiran serius.

Celah keamanan yang rawan ini sebelumnya diungkap melalui hasil investigasi empat jurnalis senior The New York Times (NYT) yang berujung pada pemanggilan paksa mereka ke hadapan dewan juri federal.

Baca di Sini: Buntut bocornya rahasia Air Force One baru, pemerintah Trump panggil paksa jurnalis The New York Times

Ketegangan semakin meningkat karena dalam beberapa kasus, agen federal dilaporkan mendatangi langsung kediaman pribadi para jurnalis secara tatap muka untuk menyerahkan dokumen panggilan tersebut.

Berawal dari Penggantian Pesawat di Turkiye

Keraguan publik atas keandalan pesawat kepresidenan baru ini memuncak saat Presiden Donald Trump menghadiri KTT NATO di Ankata, Turkiye. Trump berangkat menggunakan pesawat VC-25B Bridge —hasil modifikasi dari pesawat Boeing 747-8i hibah Pemerintah Qatar. Namun secara mendadak, dalam perjalanan pulang, Trump beralih menggunakan pesawat VC-25A, Air Force One model lama.

Laporan dari NYT dan CBS News menyebutkan bahwa Secret Service merekomendasikan pertukaran pesawat tersebut demi alasan keselamatan. Saat itu, situasi geopolitik sedang memanas akibat eskalasi konflik dengan Iran.

Pesawat baru yang ditumpangi Presiden AS ternyata tidak memiliki sistem penangkal serangan rudal (defensive countermeasures) dan keandalan sistem komunikasi yang setara dengan Air Force One lama.

Baca di Sini: Heboh Trump mendadak ganti pesawat saat pulang dari Turkiye, ada hubungannya dengan ancaman Iran?

Ketika dikonfirmasi wartawan di Pangkalan Angkatan Udara Andrews pascakembali dari sebuah agenda acara, Trump mengakui rencana penarikan pesawat tersebut.

“Pesawat itu punya banyak kapabilitas. Namun setahu saya, dalam waktu sekitar satu bulan ke depan, mereka akan mengirimnya untuk di-upgrade secara maksimal (maxed out). Prosesnya akan memakan waktu sekitar satu bulan,” ujar Trump.

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, turut membenarkan bahwa selama masa upgrade yang dijadwalkan pada musim gugur mendatang, Presiden akan kembali menggunakan armada VC-25A yang lama.

Tanpa Penangkal Rudal dan Enkripsi Khusus

Pesawat Air Force One sejatinya bukan sekadar armada jet mewah, melainkan sebuah pusat komando udara bergerak sekaligus benteng pertahanan utama yang terhubung langsung dengan National Command Authority untuk perintah nuklir darurat.

Armada standar terdahulu, VC-25A, dibangun dari basis Boeing 747-200 dengan perisai laser canggih AN/AAQ-24 Nemesis serta sistem jammer inframerah AN/ALQ-204 Matador untuk membutakan dan membengkokkan arah rudal pencari panas.

Pesawat lama ini juga dilapisi proteksi dari radiasi gelombang elektromagnetik (EMP) akibat ledakan nuklir, lengkap dengan deretan sensor di berbagai sudut badan pesawat yang siap mendeteksi peluncuran rudal musuh secara real-time.

Baca di Sini: Di balik layar proses modifikasi 747-8i hadiah dari Qatar menjadi VC-25B Bridge Air Force One

Sebaliknya, pada jet VC-25B Bridge bekas milik Qatar ini, benteng pertahanan vital tersebut belum terlihat terpasang saat peluncuran resminya pada Juni lalu. Konversi kilat selama 10 bulan oleh kontraktor pertahanan L3Harris disinyalir dilakukan terburu-buru demi mengejar tenggat waktu perayaan Hari Kemerdekaan AS ke-250 pada 4 Juli, sehingga mengorbankan kelengkapan sistem keamanannya.

Tantangan Integrasi dalam Waktu Singkat

Para pengamat militer dan pertahanan dari The War Zone (TWZ) mempertanyakan seberapa jauh peningkatan yang dapat dilakukan hanya dalam kurun waktu satu bulan. Mengintegrasikan sistem pertahanan udara canggih pada badan pesawat raksasa biasanya membutuhkan pengujian frekuensi radio, pengujian fisik, serta sertifikasi keselamatan penerbangan yang memakan waktu lama.

Meski demikian, penggunaan sistem pertahanan modular yang sudah teruji untuk armada Boeing 747, seperti sistem pod DIRCM, menjadi salah satu opsi tercepat yang mungkin disematkan.

Langkah bongkar-pasang armada ini pada akhirnya menyoroti kerumitan panjang dalam program pengadaan Air Force One di Amerika Serikat. Program utama pengadaan dua jet pengganti VC-25B dari Boeing terus mengalami penundaan jadwal serta pembengkakan biaya, di mana unit pertama diperkirakan baru siap dikirim paling cepat pada tahun 2028.

Di sisi lain, armada lama VC-25A yang sudah beroperasi puluhan tahun kini semakin sulit dan mahal untuk dirawat akibat kelangkaan suku cadang Boeing 747-200 di pasaran global.

Senator Jeanne Shaheen dari Komite Angkatan Bersenjata Senat AS menegaskan bahwa kelemahan pada pesawat baru ini memang sudah menjadi perhatian sejak awal, dan keputusan untuk melakukan perombakan total ini diharapkan dapat menjamin keselamatan Presiden AS secara optimal di masa mendatang. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *