US Navy ingin drone tempur otonom baru berjarak tempuh ekstrem, adopsi filosofi Rusia?

Drone tanker Boeing MQ-25 StingrayUS Navy
Drone tanker Boeing MQ-25 Stingray.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) sedang bersiap melakukan lompatan besar dalam sejarah penerbangan militer. Mereka baru saja merilis permintaan informasi kepada industri pertahanan untuk mengembangkan pesawat tempur tanpa awak (drone) berbasis kapal induk yang memiliki kemampuan luar biasa: mampu terbang dengan radius tempur minimal 1.000 mil laut (1.852 km) tanpa perlu melakukan pengisian bahan bakar di udara (air refueling).

Langkah ambisius ini merupakan bagian dari inisiatif skala besar yang disebut Air Wing of the Future (AWOTF). Melalui program ini, US Navy ingin merombak total komposisi armada udara mereka di masa depan, beralih dari ketergantungan penuh pada pilot manusia ke sistem terintegrasi yang menggabungkan pesawat berawak dan otonom.

Bukan Target Sembarangan

Bila kita cermati, angka 1.800 km bukanlah target sembarangan. Jarak ini hampir dua kali lipat dari jangkauan operasional jet tempur andalan mereka saat ini, F/A-18E/F Super Hornet.

Tuntutan jangkauan yang radikal ini lahir dari kebutuhan strategis di wilayah Indo-Pasifik. Dengan meningkatnya kekuatan militer China —khususnya sistem Anti-Access/Area Denial (A2/AD) seperti rudal balistik anti-kapal jarak jauh— kapal induk AS kini menghadapi risiko besar jika harus mendekat ke area konflik.

Baca Juga: GJ-11 UCAV akan dioperasikan di kapal induk baru Type 003 Fujian Angkatan Laut China

Dengan memiliki drone tempur berjarak jelajah ekstrem, memungkinkan kapal induk AS dapat tetap berada di posisi aman yang jauh dari jangkauan rudal musuh, sementara armada pesawat tanpa awaknya tetap bisa masuk jauh ke wilayah lawan untuk menyerang atau mengintai.

Praktik strategi ini sebenarnya telah diimplementasikan oleh Amerika Serikat dalam perang dengan Iran baru-baru ini di mana kapal induk mereka ditempatkan jauh dari jangkauan rudal-rudal Iran.

Filosofi Rancang Bangun Jarak Jauh Rusia

Menariknya, demi mewujudkan ambisi radius ekstrem pada platform taktis ini, AS kini terpaksa menengok ke belakang dan mengadopsi filosofi rancang bangun yang dahulu dipopulerkan oleh Rusia (Uni Soviet). Setidaknya, ini yang terlintas dan tak mungkin dinafikan walau karena faktor kesamaan saja misalnya.

Seperti kita tahu, berbeda dengan doktrin Barat yang sejak era Perang Dingin terbiasa mengandalkan jet tempur berukuran ringkas dengan sokongan armada pesawat tanker (air refueling), jet tempur Rusia —seperti rumpun keluarga Sukhoi Su-27 Flanker— dirancang dengan filosofi kemandirian jarak jauh sejak awal. Karena wilayah geografis yang luas dan tingginya kerentanan pesawat tanker di garis depan, Rusia menjejalkan tanki bahan bakar internal raksasa ke dalam struktur utama (fuselage dan sayap) pesawat mereka.

Kini, menghadapi ancaman A2/AD yang siap merontokkan pesawat tanker penyokongnya di Pasifik, US Navy terpaksa mengadopsi prinsip kemandirian Rusia tersebut. Bedanya, AS melompat lebih jauh dengan menerapkan konsep tanki masif ini pada drone otonom berbasis kecerdasan buatan (AI).

Dengan menghilangkan kokpit dan sistem pendukung kehidupan pilot, seluruh ruang kosong pada struktur drone dimaksimalkan untuk bahan bakar, melahirkan mesin tempur taktis otonom dengan radius jelajah setara heavy fighter.

Multifungsi dan Murah

Mengacu kepada dokumen yang dirilis oleh Naval Air Systems Command (NAVAIR), pesawat tanpa awak masa depan ini harus memiliki arsitektur modular yang memungkinkannya berganti peran sesuai kebutuhan misi.

Kemampuan yang diincar tersebut meliputi serangan presisi dan superioritas udara, perang elektronik (EW) dan pengintaian (ISR), komunikasi dan dukungan logistik, serta dukungan pengisian bahan bakar udara ekstra (kompatibel dengan drone tanker MQ-25 Stingray).

Baca Juga: Angkatan Laut AS akan kerahkan tanker nirawak MQ-25 Stingray pertama pada 2026, untuk mendukung serangan jarak jauh

US Navy tidak mencari pesawat supermahal. Mereka mengadopsi filosofi yang mirip dengan program Collaborative Combat Aircraft (CCA) milik Angkatan Udara AS, yaitu memproduksi pesawat tanpa awak yang relatif terjangkau secara massal.

Pesawat otonom ini nantinya akan bertindak sebagai “pendamping setia” yang siap menembus zona berbahaya, membawa senjata tambahan, atau menjadi umpan demi melindungi jet tempur berawak generasi keenam masa depan, F/A-XX.

Berbekal Pengalaman Masa Lalu

Konsep jet tanpa awak di kapal induk sebenarnya bukan hal baru bagi US Navy. Pada tahun 2013, mereka sukses menguji demonstrator Northrop Grumman X-47B yang berhasil lepas landas dan mendarat secara mandiri di kapal induk. Keberhasilan tersebut kemudian melahirkan MQ-25 Stingray, drone tanker pertama mereka.

Kini, proyek baru ini merupakan evolusi alami berikutnya: mengubah peran drone dari sekadar pesawat pengisi bensin menjadi mesin tempur ofensif jarak jauh yang mematikan di garis depan.

Pihak industri pertahanan diberikan waktu hingga pertengahan Agustus 2026 untuk mengajukan proposal dan ide mereka.

Keputusan ini diyakini akan menjadi cetak biru fundamental yang mengubah total cara Angkatan Laut AS memproyeksikan kekuatan tempur mereka di samudra dunia selama beberapa dekade ke depan.

Menanti Respons Raksasa Industri

Hingga pertengahan Juli 2026, secara resmi belum ada pengumuman mengenai pabrikan mana saja yang telah memberikan respons tertulis kepada pihak militer AS, dalam hal ini US Navy. Hal ini terbilang wajar mengingat US Navy memberikan tenggat waktu yang cukup longgar, yaitu hingga 13 Agustus 2026.

Kendati demikian, melihat konstelasi dan peta kekuatan industri dirgantara AS saat ini, barisan pemain utama yang dipastikan akan berebut kontrak prestisius ini tidak lepas dari pemain-pemain lama dan besar.

Northrop Grumman mungkin akan menjadi kandidat terkuat yang memegang kartu as, berkat rekam jejak sukses mereka dalam menguji demonstrator flying wing X-47B di masa lalu. Karakteristik aerodinamika tanpa ekor tersebut dinilai sangat efisien untuk penerbangan jarak jauh, sehingga Northrop kemungkinan besar tinggal menyodorkan versi evolusi lanjutan dari platform tersebut demi mengejar target radius 1.800 km.

Langkah ini tentu akan mendapat tantangan berat dari Boeing, yang bermodalkan MQ-25 Stingray, drone tanker yang sudah resmi beroperasi di dek kapal induk US Navy.

Bagi Boeing, memodifikasi arsitektur internal MQ-25 agar mampu membawa persenjataan (payload strike) alih-alih tangki inter-tanker tentu menjadi langkah logis yang sangat efisien.

Baca Juga: GA-ASI pamerkan pesawat tempur kolaboratif YFQ-42A di Dubai Airshow 2025

Di sisi lain, General Atomics (GA-ASI) juga dipastikan tidak akan tinggal diam. Mengandalkan cetak biru dari Gambit Series serta modal pengalaman berharga mereka dalam program Collaborative Combat Aircraft (CCA) milik Angkatan Udara AS, pabrikan ini kemungkinan besar akan menawarkan pendekatan produksi massal yang jauh lebih ekonomis.

Sementara itu, Lockheed Martin melalui divisi legendarisnya, Skunk Works, diproyeksikan bakal meramaikan persaingan dengan menyodorkan portofolio konsep siluman canggih berkemampuan otonom tinggi yang disesuaikan khusus untuk karakteristik ekstrem di laut.

Kejutan Opsi VTOL

Menariknya, di tengah persiapan para raksasa dirgantara tersebut, dokumen RFI (Request for Information) yang dirilis NAVAIR ternyata memuat satu poin klausul tambahan yang cukup mengejutkan para pengamat militer.

Selain mencari drone konvensional yang dioperasikan via katapult kapal induk (carrier-based), US Navy rupanya juga meminta pihak industri untuk memikirkan opsi pengembangan varian VTOL (Vertical Take-Off and Landing).

Persyaratan taktis ini mengindikasikan bahwa Pentagon tidak ingin platform penyerang otonom jarak jauh ini hanya eksklusif menjadi milik kapal induk besar kelas Nimitz atau Gerald R. Ford.

Ke depan, mereka menginginkan varian drone ini memiliki fleksibilitas tinggi agar bisa diluncurkan langsung dari dek sempit kapal perusak (Destroyer/DDG) maupun kapal pangkalan seluler (Expeditionary Sea Base/ESB) di tengah samudra. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *