Pertama di dunia, drone YFQ-44A berhasil tembakkan rudal AIM-120 AMRAAM

Loyal Wingman YFQ-44A meluncurkan rudal AIM-120 AMRAAMUSAF
Drone Loyal Wingman YFQ-44A meluncurkan rudal AIM-120 AMRAAM.

AIRSPACE REVIEW – Untuk pertama kalinya, pesawat tempur tanpa awak (drone) otonom YFQ-44A yang dikembangkan oleh Anduril Industries sukses melakukan uji tembak rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM menggunakan amunisi asli (live fire).

Pencapaian ini merupakan tonggak sejarah penting dalam pengembangan penerbangan militer masa depan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).

Uji coba bersejarah ini menjadi bagian dari program Collaborative Combat Aircraft (CCA), sebuah inisiatif USAF untuk mengembangkan konsep “Loyal Wingman” atau pesawat pendamping otonom yang akan bertempur bersama jet tempur berawak masa depan.

Uji Coba di Gurun Mojave

Uji coba mutakhir ini berlangsung di atas kawasan Gurun Mojave, California. Drone YFQ-44A lepas landas dengan membawa rudal AIM-120 AMRAAM yang terpasang pada bagian eksternal badan pesawat.

Selama misi berlangsung, sistem otonom pada drone berhasil mendeteksi, melacak, dan mengunci target secara mandiri sebelum akhirnya melepaskan tembakan rudal.

Keberhasilan ini memvalidasi integrasi penuh antara sensor canggih, sistem misi, kecerdasan otonom, dan sistem persenjataan pada platform tersebut.

Baca Juga: Drone tempur Anduril YFQ-44A Fury mulai diuji terbang dengan membawa rudal AIM-120 AMRAAM

Kepala Staf Angkatan Udara AS, Jenderal Kenneth Wilsbach, menegaskan pentingnya uji coba ini. Melalui akun media sosialnya, ia menyatakan bahwa tes ini membuktikan kematangan seluruh rantai pertempuran (kill chain) dari drone YFQ-44A.

Drone tersebut tidak hanya sekadar meluncurkan senjata, tetapi juga mampu melakukan pelacakan target secara aktif selama misi berlangsung.

Keputusan Menembak Tetap di Tangan Manusia

Meskipun YFQ-44A dirancang dengan tingkat otonomi yang sangat tinggi, USAF menegaskan bahwa keputusan akhir untuk melepaskan tembakan mematikan tetap berada di bawah kendali penuh manusia.

Sesuai dengan kebijakan militer AS terkait penggunaan sistem senjata otonom, rudal AIM-120 hanya diluncurkan setelah mendapatkan otorisasi resmi dari operator manusia yang mengawasi jalannya misi.

Sebelum uji coba dengan amunisi asli ini dilakukan, USAF telah melakukan serangkaian kampanye uji terbang intensif menggunakan rudal tiruan (inersia) untuk memvalidasi aspek struktural, aerodinamika, dan sistem kontrol pesawat.

Masa Depan Pertempuran Udara

Proyek YFQ-44A milik Anduril Industries mencatat rekor pengembangan yang sangat cepat. Drone ini melakukan penerbangan perdana pada Oktober 2025, hanya 556 hari setelah proyek dimulai. Kecepatan ini dimungkinkan berkat strategi USAF yang memanfaatkan proses digital, arsitektur terbuka, dan metode produksi massal yang lebih fleksibel.

YFQ-44A merupakan satu dari dua platform yang terpilih untuk fase pertama program CCA, bersanding dengan drone YFQ-42A dari General Atomics.

Baca Juga: YFQ-42A dari General Atomics dan YFQ-44A dari Anduril Industries resmi bertarung untuk dipilih USAF menjadi Loyal Wingman F-35A

Nantinya, drone-drone otonom ini dirancang untuk beroperasi berdampingan dengan jet tempur siluman utama AS seperti F-35 Lightning II, F-22 Raptor, F-15EX Eagle II, serta jet tempur generasi masa depan, F-47.

Kehadiran CCA akan memperluas jangkauan deteksi sensor, mendukung perang elektronik, melakukan pengintaian, serta menambah daya gempur serangan udara jarak jauh tanpa mempertaruhkan nyawa pilot manusia.

Sebagai langkah awal, USAF berencana untuk mengakuisisi sedikitnya 150 unit pesawat pada fase pertama program CCA.

Dalam rencana jangka panjang, Angkatan Udara AS menargetkan penambahan armada hingga sekitar 1.000 unit drone kolaboratif untuk memperkuat dominasi udara mereka di masa depan. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *