Operasi Amfibi dalam sejarah peperangan di dunia

USMC_ Operasi AmfibiUSMC
ROE

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Ciri pokok Operasi Amfibi adalah serangan dengan pengerahan kapal perang yang juga bisa didukung oleh pesawat terbang. Tujuannya adalah untuk mengamankan kawasan pantai yang akan didarati. Sesudah dirasa cukup aman, maka pasukan pendarat diturunkan dari kapal. Dengan perahu atau tank amfibi yang dapat bergerak di air maupun di daratan, pasukan pun didaratkan untuk merebut pantai tumpuan dari tangan musuh.

Aksi militer yang disebut pendaratan amfibi ini, umumnya merupakan pendahuluan dari sebuah operasi militer yang bersifat masif. Tujuan pokok operasi amfibi adalah mengusir musuh dari pantai dan kemudian mendudukinya sebagai sebagai pangkalan pijak bagi serbuan lebih besar ke pedalaman.

Atau, bisa juga perebutan pantai ini bertujuan untuk pembuatan pangkalan laut atau udara agar mendekati wilayah musuh sekaligus mencegah mencegah dimanfaatkannya wilayah pantai itu oleh musuh. Jika sifatnya invasi, maka pendaratan besar susulan di pangkalan pantai yang sebelumnya telah direbut pasukan amfibi, umumnya tidak lagi dimasukkan ke dalam kategori operasi amfibi.

Kata amfibi sendiri diserap dari bahasa Inggris amphibian. Namun awal dari istilah ini sebenarnya berasal dari bahasa Yunani, yaitu amphi yang artinya kedua-duanya, serta bios yang artinya hidup. Disimpulkan bahwa pengertian amfibi diterapkan untuk jenis hewan vertebrata yang di tengah evolusinya dari hewan air ke hewan darat, sehingga mereka dapat hidup di air maupun darat seperti katak dan salamander.

Sejak Kerajaan Mesir Kuno

Sekalipun peralatan khusus untuk operasi pendaratan militer dari laut merupakan temuan dan buatan di era modern, sejatinya sejak peradaban manusia telah berkenalan, akrab, dan hidup bersama laut, penggunaan kekuatan amfibi pun telah mereka kenal. Sejarah mencatat bahwa sekitar 1200 SM, Kerajaan Mesir Kuno acap kali telah menjadi sasaran serangan oleh kekuatan yang datangnya dari laut, misalnya orang dari pulau-pulau di Laut Tengah dan  pesisir selatan Eropa.

Orang Mesir yang menamakan para penyerang itu sebagai “Orang Laut”, umumnya berhasil memukul mundur para penyerang tersebut. Namun ada pula yang berhasil menduduki wilayah Mesir, seperti orang Pilistin di kawasan Palestina.

Pada sekitar masa yang sama, 12 abad SM, orang Yunani ketika menyerang Troy  juga harus membuat pijakan lebih dulu di pantai. Demikian pula sewaktu orang Persia menyerang Yunani di Teluk Marathon tahun 490 SM, begitu berhasil mendarat mereka harus segera membuat pangkalan pertahanan.

Bangsa Romawi juga banyak memakai cara pendaratan amfibi untuk menaklukkan daerah-daerah seberang lautan, antara lain Kepulauan Inggris mengalami serbuan amfibi Romawi pada tahun 55 SM tatkala Julius Caesar mendaratkan legiunnya di dekat Dover sekarang. Pendaratan ini dilawan dengan sengit oleh orang  Inggris Celtic, sehingga pihak Romawi harus mendekatkan kapal-kapal mereka ke pantai agar tembakan katapel dari kapal-kapalnya dapat menjangkau pantai yang dipertahankan musuh. Bagi Inggris, serbuan dari laut ke daratannya kemudian terjadi berulang kali, seperti invasi orang Saxon, Viking, dan Norman.

Namun pengetahuan dan kemampuan tentang peperangan amfibi ini tidaklah hanya terbatas pada orang-orang Eropa dan sekitarnya. Pada abad ke-15 laksamana China yang tersohor dari masa Dinasti Ming,  yaitu Cheng Ho atau Zheng He, juga memimpin ekspedisi kekuatan maritim China ke negeri-negeri pantai Samudra Hindia.

Kurang lebih 600 tahun yang lalu, pada bulan Juli 1405, armada raksasa pimpinannya yang terdiri dari 317 kapal dan hampir 28.000 orang, mulai melakukan pelayaran pertamanya dari tujuh kali pelayarannya dalam kurun waktu antara 1405 hingga 1433. Kekuatan armada maupun pasukan yang dibawa Cheng Ho begitu besar, sehingga semua tempat yang didatanginya tidak memberikan perlawanan. Enam ratus tahun peringatan pelayaran Cheng Ho inilah yang sekarang diperingati di berbagai negara yang pernah didatanginya, dari Asia Tenggara hingga pantai timur Afrika.

Dalam masa berikut, Inggris termasuk yang paling mampu memanfaatkan kekuatan lautnya untuk peperangan amfibi dengan baik. Dalam sejarahnya, maka  kemampuan dan kekuatan maritim Inggris umumnya lebih perkasa dari kekuatannya di darat. Misalnya rangkaian serangan amfibinya yang dipimpin Francis Drake berhasil merebut daerah atau pulau-pulau yang semula dikuasai Spanyol di Karibia pada abad ke-16.

Juga perebutan Gibraltar tahun 1704 dilakukan lewat pendaratan amfibi. Begitu pula Quebec di Kanada yang tadinya koloni Prancis, direbut Inggris dengan operasi amfibi pada 1759.  Sebaliknya penguasaan laut oleh Inggris, Britannia rules the waves, merupakan penggentar atau detterent terhadap upaya musuhnya untuk menyerbu Inggris dari laut. Sehingga kekuatan kontinental Eropa  sebesar dan sehebat  Prancis di bawah  Kaisar Napoleon pun tidak mampu menyeberangi Selat Channel yang sempit untuk pendaratan amfibi di pantai Inggris.

Namun itu adalah contoh keberhasilan. Banyak pula yang gagal dalam operasi amfibi masa-masa itu, terutama karena kapal-kapalnya masih memakai layar. Sehingga secara teknis lebih menyulitkan dalam operasi pendaratan.

Pada abad ke-19 kesulitan itu ditambah dengan semakin jauhnya jangkauan tembak meriam pantai, serta mulai dikenalnya ranjau laut. Juga pengorganisasian pasukan di darat semakin memperbesar risiko atau bahaya suatu operasi pendaratan dari laut, karena dengan cepat bala bantuan dapat dikirim ke pantai yang diancam serbuan amfibi.

Persenjataan untuk pertahanan pantai pun semakin mematikan, seperti mulai dipakainya senapan mesin, senapan bermagasin, serta artileri tembak cepat. Sehingga pada akhir abad ke-19, orang pun mulai mempertanyakan apakah operasi pendaratan amfibi masih punya masa depan?

Tetap relevan

Namun bertentangan dengan kekhawatiran tersebut, abad ke-20 ternyata menunjukkan bahwa operasi amfibi malah semakin relevan. Sekalipun pengalaman pahit dan berdarah-darah dialami operasi amfibi Sekutu di Gallipoli (Turki) tahun 1915, hal itu tidaklah menyurutkan penggunaan cara berperang ini. Malah dari pengalaman amat mahal Gallipoli ini, para ahli perencana amfibi melakukan telaah mengenai kegagalan tersebut untuk menemukan cara-cara terbaik dalam peperangan amfibi. Oleh Inggris dan terutama Amerika, hasil penelitian itulah yang mereka terapkan kemudian dalam Perang Dunia II.

Begitu pula Jepang, berdasar pengalaman dalam perangnya dengan Russia tahun 1904-05, juga mengembangkan kemampuan operasi amfibinya. Sehingga tatkala pecah perang di Pasifik dengan pengeboman Pearl Harbor Desember 1941, maka Jepang pun menerapkan operasi amfibinya di medan Pasifik serta di Asia Tenggara. Misalnya di P. Jawa mereka mendaratkan pasukan dari laut di Banten, Eretan, dan Tuban sekaligus. Pendaratan itu semuanya berhasil, sehingga dengan cepat mereka menggulung kekuatan pasukan Hindia Belanda di Jawa.

Hampir semua pihak yang terlibat dalam setiap perang besar  menggunakan operasi amfibi, antara lain karena terjadinya kemajuan dalam pengembangan sistem, teknologi, taktik, serta peralatan termasuk  persenjataan dalam peperangan amfibi.

Dalam PD II, Jerman Nazi pun punya rencana besar untuk menginvasi Inggris dengan pendaratan amfibi, yang diberi nama sandi Singa Laut. Namun ketika sebelumnya melakukan pendaratan amfibi di Norwegia, banyak kapalnya yang karam sehingga berdampak negatif terhadap rencana Singa Laut. Operasi ini kemudian dibatalkan, lebih-lebih  sesudah Luftwaffe kalah dari RAF dalam upaya penguasaan udara di atas Selat Channel, sementara Royal Navy (AL Inggris) pun masih merajai lautan. Ketidakberdayaan Jerman Nazi ini merupakan pengulangan apa yang pernah dialami Napoleon dahulu.

Sesudah PD II selesai,  maka kemampuan untuk melancarkan operasi amfibi muncul sebagai aset strategisi di tangan negara-negara yang menang perang. Dengan teknologi dan perlengkapan baru, kekuatan amfibi dapat diangkut dengan cepat dan didaratkan dalam jumlah yang besar sekaligus bersama peralatan pendukungnya, seperti tank dan sebagainya. Sehingga negara yang memiliki kekuatan amfibi mampu melakukan aksinya terhadap tempat maupun waktu yang dipilihnya sendiri, dengan kekuatan dan keunggulan yang jelas melebihi lawannya di darat. Kekuatan dan mobilitas tinggi kekuatan amfibi ini pun menjadi bahan penting pertimbangan politik yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk menangkal maupun menekan lawan.

Pada masa selanjutnya terlihat berbagai penggunaan kekuatan amfibi secara efektif dalam krisis maupun konflik di dunia, seperti dalam Perang Korea dengan pendaratan Inchon yang terkenal itu (1950), Krisis Suez (1956), Lebanon (1958), Vietnam (1964-75), Malvinas/Falkland (1982), Grenada (1983), serta Perang Teluk (1990-1991).

Gabungan atau kombinasi dari kekuatan yang terlatih ditambah dukungan berbagai perlengkapan seperti kemampuan dan kecepatan kapal transpor, berbagai jenis kapal pendarat, kendaraan amfibi dan helikopter, sungguh merupakan kekuatan hebat untuk berbagai tujuan, termasuk operasi kemanusiaan atau membantu korban bencana alam seperti tsunami di Aceh. Namun yang terpokok tetaplah  untuk tujuan militer, yaitu operasi penyerbuan ke pantai musuh. 

-RB/JDN-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *