Arab Saudi borong 20.000 APKWS II senilai Rp31 triliun untuk menangkal serangan drone

F-15SA Arab Saudi dan APKWS IIUSAF, Wikipedia
F-15SA Arab Saudi dan APKWS II.

AIRSPACE REVIEW – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara resmi telah menyetujui potensi kesepakatan penjualan militer senilai 2 miliar USD (sekitar Rp31 triliun) kepada Kerajaan Arab Saudi. Dalam paket ini Arab Saudi akan memborong hingga 20.000 unit kit pemandu laser Advanced Precision Kill Weapon System II (APKWS II).

Langkah masif ini diambil Riyadh di tengah meningkatnya tensi keamanan di Timur Tengah, menyusul eskalasi serangan pesawat nirawak (drone) dari Iran serta memanasnya kembali konflik dengan pemberontak Houthi di Yaman.

Berdasarkan detail kesepakatan, Arab Saudi membagi pesanan tersebut ke dalam dua kelompok, yaitu sebanyak 10.000 unit varian udara ke udara untuk menembak jatuh drone serang jarak jauh (kamikaze drone) serta rudal jelajah kelas rendah, serta 10.000 unit varian udara ke darat untuk serangan presisi tinggi terhadap target di darat.

Strategi Cerdas

Menariknya, paket ini berfokus pada sistem pemandu modularnya, termasuk tabung peluncur roket LAU-131/A, motor roket Mk66, dan hulu ledak berkekuatan tinggi Mk-152 dengan sensor pemicu jarak dekat (proximity fuze).

Keputusan Arab Saudi memilih APKWS II dinilai sebagai strategi finansial yang sangat cerdas. Selama bertahun-tahun menghadapi serangan drone Houthi, Arab Saudi harus menguras kantong karena menggunakan rudal udara ke udara konvensional seperti AIM-120 AMRAAM yang berharga sekitar 1 juta USD (sekitar Rp15,5 miliar) per unit, atau AIM-9X Sidewinder seharga 450.000 USD (sekitar Rp7 miliar) per unit untuk menjatuhkan drone murah.

Sebagai perbandingan, satu unit kit pemandu APKWS II hanya berkisar antara 15.000 hingga 20.000 USD (sekitar Rp230 juta – Rp310 juta). Ditambah komponen roketnya, senjata ini menjadi solusi super hemat untuk menyapu bersih kawanan drone musuh di langit.

Senjata Baru Jet Tempur Saudi

Sistem APKWS II bekerja dengan cara mengubah roket tak terpimpin kaliber 70 mm yang murah menjadi amunisi pintar berpemandu laser.

Senjata ini bersifat plug-and-play dan kemungkinan besar akan dipasang pada armada jet tempur utama Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi (RSAF), yaitu F-15SA dan Eurofighter Typhoon.

“Penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi dalam menjauhkan ancaman saat ini maupun di masa depan dengan memperkuat pertahanan dalam negeri mereka,” tulis pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS.

Baca Juga: AS setujui penjualan 21.500 roket APKWS II ke Israel, Qatar, dan UEA untuk menangkal serangan drone

Sebelumnya, efektivitas APKWS II sebagai pemusnah drone telah teruji oleh militer AS di Timur Tengah dan saat ini juga aktif digunakan oleh jet-jet F-16 Ukraina untuk meredam serangan drone Rusia.

Dengan pembelian skala raksasa ini, Arab Saudi menegaskan posisinya untuk tidak lagi kecolongan oleh taktik perang drone murah di kawasannya.

Lebih Rinci Tentang APKWS II

Sistem APKWS II merupakan Program Militer Resmi Militer AS yang dikerjakan oleh BAE Systems dari Inggris namun diproduksi di AS. Sistem ini merupakan salah satu inovasi paling revolusioner dalam dunia militer modern karena konsepnya yang mengubah roket konvensional tanpa pemandu menjadi amunisi pintar berpemandu laser melalui teknologi modular yang pintar.

Alih-alih memproduksi roket utuh yang mahal dari nol, sistem ini berbentuk kit pemandu tengah yang disisipkan di antara hulu ledak roket kaliber 70 mm standar di bagian depan dan motor roket penggerak di bagian belakang.

Saat ditembakkan, sirip-sirip kecil pada kit tengah akan terbuka dan bekerja sama dengan sensor pencari laser optik untuk mengarahkan roket tepat sasaran dengan tingkat kerusakan sampingan yang sangat minim, menjadikannya senjata yang sangat ideal untuk pertempuran presisi.

Baca Juga: USAF menguji F-15E yang dilengkapi enam tabung peluncur untuk 42 roket APKWS II berbiaya rendah: Lebih efektif untuk menghadapi ancaman drone

Seiring berkembangnya dinamika ancaman di medan perang, kemampuan APKWS II kini tidak lagi terbatas pada varian udara ke darat konvensional yang biasa digunakan untuk menghancurkan kendaraan lapis baja ringan atau pos pertahanan musuh.

Militer modern kini juga mengandalkan varian udara ke udara yang telah dioptimalkan secara khusus untuk misi penangkis pesawat nirawak atau Counter-UAS.

Tekonologi Pemicu Jarak Dekat

Varian pertahanan udara ini dilengkapi dengan teknologi pemicu jarak dekat, yang memungkinkan hulu ledak roket meledak secara otomatis ketika mendeteksi posisi drone serang jarak jauh atau rudal jelajah rendah di dekatnya tanpa harus menabrak target tersebut secara fisik.

Keunggulan utama yang membuat banyak negara memburu teknologi ini terletak pada efisiensi biaya yang sangat ekstrem jika dibandingkan dengan penggunaan rudal pertahanan udara konvensional.

Selain hemat anggaran, ukurannya yang ringkas membuat jet tempur seperti F-15SA atau Eurofighter Typhoon mampu membawa amunisi ini dalam jumlah yang jauh lebih banyak dalam satu kali terbang, sekaligus memberikan efisiensi logistik yang tinggi karena sistem ini langsung kompatibel dengan infrastruktur peluncur roket lama yang sudah dimiliki oleh militer. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *