Duel udara antardrone di Sudan: Bayraktar Akinci rontokkan CH-95 buatan China
WikipediaAIRSPACE REVIEW – Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dilaporkan berhasil mencetak sejarah baru dalam pertempuran udara modern di pertengahan Juli 2026. Dengan menggunakan drone tempur canggih Bayraktar Akinci buatan Turkiye, SAF sukses mencegat dan menembak jatuh drone CH-95 buatan China yang dioperasikan oleh kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
— Untuk diketahui, RSF adalah kelompok paramiliter Sudan yang dibentuk pada 2013 di bawah pimpinan Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo. Kelompok bersenjata ini berakar dari milisi Janjaweed yang awalnya diresmikan pemerintah sebagai pasukan penumpasan pemberontakan yang otonom. Namun, penolakan RSF terhadap rencana integrasi pasukan memicu perang saudara terbuka dengan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) sejak April 2023. Kini, RSF beroperasi sebagai faksi pemberontak tangguh di wilayah Darfur dan Kordofan dengan mengandalkan taktik gerilya serta armada drone intai-serang jarak jauh–.
Pencegatan udara yang terjadi di wilayah barat laut El Obeid, Kordofan Utara ini, menandai pergeseran taktis yang sangat langka karena militer Sudan kini mulai menggunakan kemampuan pertempuran udara ke udara langsung dari platform pesawat tanpa awak (UCAV), alih-alih mengandalkan sistem rudal pertahanan udara berbasis darat.
Kecanggihan Radar dan Rudal Turkiye
Menurut laporan dari Clash Report, aksi duel udara ini memperlihatkan kecanggihan radar Active Electronically Scanned Array (AESA) jenis Murad 100-A dan rudal udara ke udara Roketsan Sungur yang melekat pada tubuh raksasa Akinci.
Keunggulan spesifikasi Akinci menjadi kunci utama dalam melumpuhkan drone intai lawan di udara. Drone Akinci memiliki bobot lepas landas maksimum hingga 6.000 kg dengan kapasitas angkut muatan mencapai 1.350 kilogram, serta mampu mengudara lebih dari 24 jam.
Yang paling krusial, Akinci mampu terbang di atas ketinggian 13.700 m (45.000 kaki), memberikan keuntungan posisi yang sangat besar untuk mengunci drone CH-95 maupun varian FH-95 buatan China yang hanya memiliki batas ketinggian terbang sekitar 7.000 hingga 8.000 m (23.000 hingga 26.000 kaki).
Di sisi lain, drone CH-95 milik RSF yang menjadi korban berukuran jauh lebih kecil dengan bobot lepas landas maksimal hanya 650 kg dan kapasitas muatan 170 kg, dengan ketahanan terbang berkisar antara 6 hingga 12 jam.
RSF Telah Kehilangan Lima Drone Berat
RSF juga kerap mengoperasikan varian FH-95 yang sedikit lebih besar dengan bobot maksimal 1.000 kg, kapasitas muatan 250 kg, serta keunggulan durasi terbang mencapai 30 hingga 35 jam berkat adanya sistem komunikasi satelit.
Meski drone buatan China dilengkapi dengan perangkat canggih seperti sensor elektro-optik, radar intai permukaan (SAR/GMTI), dan modul perang elektronik, kelincahan dan kecepatan Akinci yang lebih superior membuat drone-drone milisi tersebut menjadi sasaran empuk.
Kejadian di El Obeid ini menambah daftar panjang kehancuran armada udara paramiliter RSF. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, RSF dilaporkan telah kehilangan sedikitnya lima unit drone berat buatan China di berbagai front.
Bagi militer Sudan, keberhasilan ini sangat vital untuk mengamankan El Obeid yang merupakan kota simpul transportasi dan logistik paling krusial menuju wilayah barat (Darfur).
Dengan membutakan mata intai udara RSF melalui patroli drone Akinci, pasukan pemerintah berhasil memotong rantai informasi intelijen milisi, sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa peta supremasi langit dalam peperangan modern kini telah berubah total ke era pertempuran antardrone.
Baca Juga: Pemberontak RSF tembak jatuh drone Akinci Sudan dengan sistem pertahanan udara FB-10A buatan China
Meski demikian, bukan berarti SAF juga tidak pernah mengalami kerugian. Pada Oktober 2025, satu drone Akinci milik SAF berhasil dijatuhkan kelompok RSF.
Aktif Beroperasi Sejak 2025
Informasi mengenai jumlah pasti unit Bayraktar Akinci yang dibeli oleh militer Sudan dari perusahaan pertahanan Turkiye, Baykar, tidak dipublikasikan secara resmi ke publik karena sifat kesepakatan militer yang rahasia di tengah konflik.
Namun, berdasarkan laporan intelijen sumber terbuka (open-source intelligence/OSINT) dan pemantauan pergerakan armada udara, Sudan diperkirakan mengakuisisi setidaknya satu skadron kecil atau kelompok awal yang terdiri dari dua hingga empat unit drone Akinci untuk memberikan keunggulan udara operasional.
Pengiriman dan penerimaan drone ini ke tangan militer Sudan dilaporkan mulai berlangsung pada paruh kedua tahun 2024, menyusul kesepakatan terselubung senilai jutaan dolar dengan pihak pabrikan.
Armada Akinci pertama terkonfirmasi telah aktif beroperasi penuh di bawah kendali SAF pada akhir tahun 2024 dan awal 2025, memperkuat lini serang udara SAF bersama batch drone Bayraktar TB2 dan Mohajer-6 yang telah tiba lebih dulu.
Baca Juga: Iran mengirimkan drone serang Mohajer-6 ke Sudan
Kehadiran Akinci di langit Sudan pertama kali terendus secara luas oleh publik global setelah drone ini intensif digunakan dalam misi serangan presisi jauh di garis belakang pertahanan milisi RSF pada kuartal ketiga tahun 2025.
Sejak saat itu, drone Akinci menjadi aset paling bernilai bagi militer Sudan untuk melancarkan serangan udara strategis di wilayah Darfur serta mengamankan koridor logistik penting seperti di Kordofan Utara. (RNS)
