Landasan pacu Bandara Sana’a dibom, pesawat Iran gagal mendarat, Yaman kembali membara
Clash Report, WikipediaAIRSPACE REVIEW – Situasi di Yaman kembali berada di ambang krisis militer yang serius. Sebuah pesawat komersial milik Mahan Air asal Iran gagal mendarat di Bandara Internasional Sana’a setelah landasan pacu bandara tersebut dijatuhi bom.
Peristiwa bermula pada hari Senin (13/7), ketika pesawat Airbus A340 Mahan Air terbang dari Teheran menuju Sana’a dengan misi menjemput dan membawa pulang delegasi kelompok pemberontak Houthi.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan bahwa izin penerbangan yang diajukan Iran sebelumnya telah ditolak.
Meski tidak mengantongi izin dan sempat mendapat peringatan dari Angkatan Udara Arab Saudi, pesawat Iran tersebut tetap nekat melanjutkan penerbangan dan memasuki ruang udara Yaman.
Landasan Pacu Dihancurkan
Guna mencegah pesawat Iran menyentuh landasan, serangan udara langsung diluncurkan dan menghantam landasan pacu utama Bandara Sana’a.
Akibat rusaknya jalur pendaratan, pesawat A340 Mahan Air tersebut terpaksa mengalihkan rute (divert) ke Al Hudaydah, sebuah kota pelabuhan di Laut Merah yang juga dikuasai oleh Houthi. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat di sana sebelum akhirnya terbang kembali ke Teheran.
Terkait siapa dalang di balik pengeboman tersebut, terjadi saling tuduh. Kelompok Houthi langsung menuding jet tempur Arab Saudi yang melakukan serangan udara tersebut.
Sementara itu, pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah resmi Yaman mengklaim operasi itu dilakukan demi menjaga kedaulatan wilayah udara mereka dari penyusupan asing tanpa izin.
Presiden Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman, Rashad al-Alimi, menegaskan bahwa setiap operasional penerbangan internasional ke wilayah yang dikuasai Houthi wajib mematuhi prosedur hukum dan persetujuan dari pemerintah resmi.
Bagi mereka, membuka rute langsung Teheran-Sana’a secara ilegal bukan hanya pelanggaran kedaulatan, melainkan juga potensi penguatan logistik militer antara Iran dan Houthi.
Ancaman Balasan dan Risiko Penerbangan Sipil
Ketegangan sebetulnya sudah memanas sejak awal Juli, di mana Houthi sempat mengancam akan menyerang bandara-bandara dan aset strategis Arab Saudi jika penerbangan dari Iran terus-menerus dihalangi.
Kini, dengan terjadinya serangan fisik pada infrastruktur bandara, para pengamat memperingatkan risiko besar bagi keselamatan penerbangan sipil di kawasan Semenanjung Arab.
Eskalasi yang melibatkan rudal, drone, maupun serangan udara di sekitar koridor udara komersial dapat mengancam keselamatan maskapai internasional yang melintas di wilayah tersebut.
Baca Juga: Saudia membantah telah memasok lima pesawat berbadan lebar Boeing 777-200ER ke Iran
Sebagai tambahan informasi, maskapai Mahan Air yang terlibat dalam insiden ini merupakan perusahaan swasta Iran yang telah lama dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat.
Washington menuduh Mahan Air kerap menyediakan dukungan logistik bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, tuduhan yang selalu dibantah oleh pihak Teheran.
Ultimatum Ruang Udara
Sementara itu, media Timur Tengah memberitakan, Kementerian Pertahanan Yaman mempertegas bahwa operasi militer dilakukan menyusul peringatan berulang kali terkait penerbangan langsung antara Teheran dan Sana’a.
Menteri Pertahanan Yaman, Taher al-Aqili, menyatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan mitra regional dan internasional demi menyelesaikan masalah ini secara damai. Namun, mereka menyimpulkan bahwa tindakan militer menjadi langkah yang harus diambil setelah upaya diplomasi menemui jalan buntu.
Ia menegaskan bahwa pasukan Yaman akan merespons setiap pelanggaran ruang udara negara di masa mendatang dengan menggunakan segala cara yang tersedia.
Konfrontasi ini mencerminkan meluasnya cakupan konflik di Yaman, di mana perselisihan kini merembet melampaui garis depan pertempuran militer hingga ke perebutan kendali atas infrastruktur strategis dan lembaga kedaulatan negara.
Baca Juga: Israel mengklaim berhasil menghancurkan pesawat kenegaraan A340 “Iran Force One”
Meskipun Houthi telah mengelola Bandara Sana’a selama lebih dari satu dekade, pihak pemerintah tetap bersikeras bahwa seluruh penerbangan internasional berada di bawah yurisdiksi hukum mereka, serta menolak keras adanya jalur langsung antara Iran dan wilayah yang dikuasai Houthi.
Sebaliknya, pihak Houthi berargumen bahwa mereka berhak mengoperasikan bandara tersebut sebagai otoritas de facto di ibu kota, sekaligus menuduh pemerintah membatasi perjalanan sipil.
Sekilas Tentang Bandara Sana’a
Bandara Internasional Sana’a (IATA: SAH, ICAO: OYSN) merupakan pintu gerbang udara utama sekaligus infrastruktur paling strategis di Yaman. Terletak sekitar 13 hingga 15 kilometer di sebelah utara ibu kota Sana’a, bandara ini memiliki peran ganda yang sangat vital, baik secara sipil, kemanusiaan, maupun militer.
Sana’a International Airport memiliki satu landasan pacu aspal tunggal dengan arah 18/36 sepanjang 3.252 m dan lebar 45 meter. Spesifikasi ini mampu melayani pesawat berbadan lebar (wide-body) seperti Airbus A340 atau Boeing 777.
Terletak di dataran tinggi Yaman pada elevasi 7.216 kaki (2.199 m) di atas permukaan laut, Bandara Sana’a memiliki satu terminal penumpang utama yang dibangun pertama kali pada dekade 1970-an. Sebelum konflik pecah, bandara ini menjadi hub utama bagi maskapai nasional Yemenia (Yemen Airways).
Bandara Sana’a merupakan fasilitas bersama (joint-use) sipil-militer. Kompleks landasan pacu bandara ini berbagi area langsung dengan Pangkalan Udara Al-Dailami yang merupakan pangkalan udara militer terbesar di Yaman utara. (RNS)
