Jatuh cinta total pada Gripen, Brasil tidak akan membeli jet tempur lain pengganti AMX

Gripen BrasilFAB
Jet tempur F-39E Gripen FAB.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Brasil (Força Aérea Brasileira/FAB) telah merekomendasikan kepada Pemerintah Brasil untuk tidak membeli penganti jet AMX yang sudah uzur dan fokus pada satu tipe jet tempur modern F-39 Gripen yang dibeli dari Swedia.

Hal itu diajukan FAB agar Angkatan Udara Brasil tidak mengoperasikan beragam jet tempur berbagai tipe demi memusatkan seluruh kemampuan serangan dan superioritas udaranya pada satu jenis pesawat saja.

Langkah strategis ini diambil di tengah restriksi anggaran yang ketat dalam upaya modernisasi kekuatan udara secara bertahap.

Meski fokus investasi pada satu platform generasi terbaru dianggap efisien, keputusan ini tak urung memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat militer terkait kemampuan FAB dalam menjaga wilayah udara Brasil yang luas.

Brasil memiliki wilayah negara yang mencapai 8,5 juta kilometer persegi serta perbatasan darat sepanjang 17 ribu kilometer.

Akhir Era Jet Legendaris AMX

Jet tempur AMX A-1M, yang dikembangkan bersama oleh Brasil dan Italia, telah mengabdi selama lebih dari 30 tahun sejak akhir dekade 1980-an.

Pesawat ini menjadi tulang punggung FAB untuk misi serangan darat, dukungan udara jarak dekat, pengintaian taktis, dan pelatihan operasional.

Meskipun sebelumnya telah menerima modernisasi sistem avionik, navigasi, perang elektronik, dan persenjataan pintar demi memperpanjang usia pakainya, penuaan struktur pesawat (airframe), biaya perawatan yang melonjak, serta semakin sulitnya pasokan suku cadang membuat program perpanjangan usia jet ini tidak lagi layak diteruskan.

Seiring dengan pensiunnya AMX dan akan disusul jet F-5M Tiger II dalam beberapa tahun ke depan, F-39 Gripen akan memegang kendali penuh di lini depan pertahanan udara Brasil.

Produksi Lokal dan Negosiasi Batch Kedua

Saat ini, Brasil terikat kontrak untuk 36 unit Gripen dengan Swedia, yang terdiri dari 28 unit kursi tunggal (F-39E) dan 8 unit kursi ganda (F-39F).

Pengiriman jet tempur yang mendapat julukan Smart Fighter ini terus berjalan dan sebagian proses produksi telah dialihkan ke dalam negeri, di fasilitas Embraer di Gavião Peixoto (São Paulo).

Hal ini merupakan hasil dari komitmen transfer teknologi berskala besar antara Saab dan industri dirgantara Brasil.

Bahkan pada tahun 2026 ini, Gripen pertama yang dirakit sepenuhnya di Brasil telah resmi diperkenalkan ke publik, menandai tonggak sejarah baru kemandirian teknologi ruang angkasa negara tersebut.

Perusahaan lokal Brasil kini mampu memproduksi komponen struktural, mengembangkan perangkat lunak, hingga mengintegrasikan sistem jet tempur canggih tersebut.

Untuk memperkuat armada, Pemerintah Brasil saat ini tengah menegosiasikan pembelian batch kedua Gripen sebanyak 20 unit pesawat tambahan.

Jika kesepakatan ini terwujud, total armada Gripen Brasil akan mencapai 56 unit. Angka ini memang meningkat dari rencana awal, namun Komandan FAB mengakui jumlah tersebut masih di bawah target ideal operasional, yakni sekitar 66 unit pesawat, sesuai kebutuhan ideal.

Keunggulan Teknologi vs Risiko Logistik global

Dari segi kapabilitas, F-39 merupakan salah satu jet tempur paling mutakhir di kelasnya. Pesawat ini dilengkapi dengan radar AESA Raven ES-05, sensor inframerah IRST Skyward-G, sistem perang elektronik terintegrasi, serta arsitektur terbuka yang mempermudah modernisasi di masa depan.

Selain itu, Gripen dikenal memiliki biaya operasional terendah di antara jet tempur multiperan modern Barat, faktor krusial yang membuatnya memenangkan tender Program F-X2 Brasil.

Baca Juga: Gripen Brasil dilengkapi tautan data E-LynX buatan Israel

FAB menekankan, Gripen memiliki filosofi operasional yang sangat efisien. Pesawat dirancang untuk perawatan cepat dengan personel minimum, memungkinkan proses pengisian bahan bakar dan persenjataan kembali dilakukan dalam waktu singkat agar jet bisa segera mengudara lagi.

Namun, ketergantungan pada satu jenis pesawat juga membawa tantangan strategis. Pengamat militer mengingatkan adanya risiko rantai pasok global.

Meskipun diproduksi secara lokal di Brasil, beberapa komponen vital Gripen tetap dipasok oleh negara asing. Misalnya, mesin F414 diproduksi oleh GE Aerospace dari Amerika Serikat, sementara radar AESA dan sensor elektroniknya melibatkan vendor-vendor dari Eropa.

Di tengah ketegangan geopolitik dunia atau potensi sanksi ekonomi, gangguan logistik global dapat berdampak langsung pada kesiapan operasional armada jet Brasil.

Peran Strategis Gripen F

Pensiunnya armada AMX juga mengubah peta pelatihan pilot tempur Brasil. Selama puluhan tahun, AMX berfungsi sebagai jembatan transisi dari pesawat latih lanjut menuju jet tempur lini depan.

Tanpa adanya jet tempur perantara, varian kursi ganda Gripen F kini memegang peran yang sangat strategis.

Didesain khusus sesuai permintaan Brasil, Gripen F bukan sekadar pesawat latih biasa. Jet ini mempertahankan kemampuan tempur penuh dan siap ditugaskan untuk misi perang elektronik yang kompleks serta koordinasi taktis di medan laga.

Untuk menekan biaya, FAB juga memperkuat pelatihan dengan simulator berteknologi tinggi guna mempercepat adaptasi para pilot mudanya.

Hati-hati Bergantung pada Satu Pemasok

So, pilihan Brasil untuk mengoperasikan satu tipe pesawat tempur modern, memang mencerminkan tren global saat ini yang lebih mengutamakan kualitas teknologi platform yang mumpuni ketimbang kuantitas jumlah pesawat.

Di tahun-tahun mendatang, seiring dengan ditarik mundurnya jet AMX dan F-5M, F-39 Gripen akan memikul beban berat sendirian sebagai benteng utama pertahanan udara dan kekuatan serang Brasil.

Baca Juga: Jet serang darat AMX A-1 yang sudah tidak terbang menjadi bahan studi universitas di Brasil

Catatan dari Airspace Review tentu satu, jaga baik-baik hubungan dengan Amerika Serikat. Bagaimana pun, AS masih memegang kunci vital terkait mesin yang digunakan Gripen.

Seandainya terjadi konflik atau perselisihan diplomasi dengan AS, Washington tentu tidak akan segan-segan untuk menekan Brasil dan mengembargo komponen mesin yang digunakan pada jet Gripen. Tanpa mesin, apakah pesawat tempur bisa terbang?

Hal ini bukan isapan jempol, banyak negara telah merasakan pahitnya jeweran AS dalam berbagai kasus. Termasuk Turkiye, misalnya, yang harus merengek-rengek meminta kepada AS untuk dimasukkan kembali ke Program F-35 dan diserahkannya jet tempur siluman yang nyata-nyata sudah dibeli oleh Ankara dari Lockheed Martin itu.

Swedia tentu bukannya tidak bisa membuat mesin pesawat sendiri. Namun hal ini membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar untuk pada akhirnya bisa benar-benar mandiri.

Khusus untuk mesin jet Gripen E/F, Swedia tidak mengembangkan mesin sendiri, melainkan menggunakan mesin General Electric F414-GE-39E (varian dari F414G) buatan Amerika Serikat seperti telah disinggung.

Melalui perusahaan dalam negeri GKN Aerospace Sweden (dahulu Volvo Aero), Swedia saat ini memegang hak penuh untuk melakukan pengembangan lokal terkait sistem pemeliharaan, perbaikan, dan ketersediaan suku cadang jangka panjang (Product Support) untuk Angkatan Udara Swedia.

GKN Aerospace ditunjuk sebagai pabrikan bersertifikat untuk memproduksi beberapa komponen kunci mesin tersebut. Jadi, tetap masih ada peluang untuk mempertahankan kesinambungan mesin yang digunakan, selama relasi politik Stockholm dan Washington terjalin baik. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *