Ukraina pamer “elephant walk” pengebom nirawak berbasis pesawat sport ringan
Serhii SternenkoAIRSPACE REVIEW – Militer Ukraina telah melakukan serangan serentak massal pertamanya menggunakan pesawat ringan yang dimodifikasi menjadi pesawat pengebom yang dapat digunakan kembali dan dikendalikan dari jarak jauh.
Serhii Sternenko, penasihat Menteri Pertahanan Ukraina, pada 13 Juli 2026 menerbitkan foto-foto yang menunjukkan setidaknya sepuluh pesawat ringan yang dipersenjatai dengan bom berdaya ledak tinggi melakukan “elephant walk” di landasan.
Ia menambahkan, skadron pengebom tanpa awak tersebut telah digunakan menyerang pusat logistik bawah tanah milik militer Rusia di Armyansk, Krimea.
Armyansk terletak di leher sempit semenanjung Krimea, merupakan jalur darat utama yang digunakan pasukan Rusia untuk memindahkan pasukan, bahan bakar, dan peralatan antara wilayah daratan yang dikuasai Rusia dan Krimea.
Pesawat Ringan Sipil
Pengebom nirawak tersebut dibangun menggunakan platform pesawat ultraringan Skyranger “Swift” dan “Nynja”. Pesawat ini dirakit di Ukraina dari kit komersial yang awalnya ditujukan untuk pesawat rekreasi dan hobi atau kebutuhan sipil (General Aviation)
Setiap pesawat telah dilucuti bagian kontrol kokpitnya dan diganti dengan sistem kamera dan elektronik kendali jarak jauh.
Keluarga Skyranger biasanya ditenagai oleh mesin Rotax 912 yang menghasilkan 80 – 100 hp dan dapat membawa muatan mendekati 330 kg, tergantung pada konfigurasinya.
Baca Juga: Ukraina ubah pesawat An-28 jadi pemburu Shahed: Luncurkan drone pencegat P1-SUN dari udara
Sementara model yang lebih baru dengan tangki bahan bakar yang lebih besar dapat terbang selama kurang lebih tiga jam dengan kecepatan jelajah 160 km/jam.
Kombinasi jangkauan, muatan, dan biaya rendah tersebut, menjadikan pengebom nirawak ini senjata yang efisien tapi tetap mematikan.
Bom Era Uni Soviet
Pesawat dengan desain sederhana ini dipersenjatai dengan satu bom OFAB-100-120, senjata era Uni Soviet yang awalnya dirancang untuk jet tempur seperti Su-17, Su-25, dan MiG-29.
Bom tersebut memiliki berat total 100 kg dan berisi sekitar 42 kg bahan peledak dengan daya ledak tinggi yang dapat menghancurkan jembatan, depot BBM dan penyimpanan amunisi, juga tempat perlindungan diperkuat beton. (RBS)
