Intip kecanggihan KF-21 Boramae, Thailand bersiap garap masa depan dirgantara
Royal Thai EmbassyAIRSPACE REVIEW – Dalam rangka mempererat hubungan bilateral dan memodernisasi kekuatan udara, delegasi tingkat tinggi Angkatan Udara Thailand (RTAF) melakukan kunjungan kerja strategis ke Republik Korea pada 5 hingga 10 Juli lalu.
Kunjungan tersebut dipimpin oleh Letnan Jenderal Polisi Santi Kaewsanthi selaku Wakil Komandan Polisi, didampingi oleh jajaran pejabat kepolisian dan militer Thailand di Seoul, termasuk Komisaris Polisi Sorapat Phetchromongkhon, Polisi Somkiat Rodphothong, dan petugas interpretasi Polisi Pridaaphon Theerathani.
Fokus utama dari kunjungan ini adalah meninjau langsung perkembangan teknologi penerbangan militer di Korea Aerospace Industries (KAI).
Baca Juga: Alhamdulillah, Indonesia rampungkan pembayaran akhir jet KF-21 Boramae: Menuju akuisisi 48 unit
Delegasi Thailand, seperti diberitakan Royal Thai Embassy, mendapatkan kesempatan eksklusif untuk menyimak pemaparan teknis serta melihat dari dekat jet tempur generasi terbaru, KF-21 Boramae. Proyek canggih ini dinilai sangat krusial bagi masa depan dan peningkatan kapabilitas RTAF.
Selain memantau KF-21, delegasi Thailand juga meninjau Pusat Pemeliharaan dan Perbaikan (MRO) jet latih tempur T-50 Golden Eagle yang selama ini telah digunakan oleh Thailand.
Kunjungan ke Markas Black Eagles
Rangkaian agenda berlanjut ke Pangkalan Angkatan Udara Wonju, yang menjadi rumah bagi Wing Udara ke-8 dan ke-53. Pangkalan ini merupakan basis operasional bagi pesawat T-50 dan FA-50, sekaligus menjadi markas dari tim aerobatik legendaris Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF), Black Eagles.
Pertemuan di pangkalan ini menjadi wadah diskusi yang produktif. Kedua belah pihak saling bertukar pandangan mengenai sistem pemeliharaan, dukungan teknis, serta strategi operasi pesawat tempur demi memastikan kesiapan armada di masa depan.
Tidak hanya fokus pada teknologi militer, kunjungan ini juga membawa misi diplomasi yang penting. Delegasi Thailand memanfaatkan momentum ini untuk mempublikasikan Peringatan 90 Tahun RTAF dan mengundang badan-badan aliansi strategis di Korea Selatan untuk ikut berpartisipasi dalam perayaan bersejarah tersebut.
Di sela-sela agenda utama, delegasi juga menggelar pertemuan hangat dengan para mahasiswa militer Thailand yang tengah menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara dan Angkatan Navy Korea.
Kunjungan diakhiri dengan peninjauan ke Kantor Asisten Duta Besar Angkatan Udara Thailand di Seoul untuk memberikan dukungan moral kepada para personel yang bertugas di sana.
Hubungan Bilateral yang Kian Solid
Secara keseluruhan, misi strategis ini berjalan dengan sukses dan mencapai seluruh target yang telah ditentukan.
Kunjungan ini tidak hanya membuka peluang transfer teknologi yang berharga bagi Thailand, tetapi juga berhasil memperkuat hubungan diplomatik dan kerja sama pertahanan yang kokoh antara Angkatan Udara Kerajaan Thailand dan Angkatan Udara Republik Korea.
Pengguna T/FA-50 di ASEAN
Korea Selatan, khususnya Korea Aerospace Industries (KAI), telah menjadi produsen jet latih maupun jet tempur yang laris di pasar global. Selain menembus ke negara-negara di berbagai belahan dunia, jet latih T-50 Golden Eagle maupun jet tempur-serang ringan FA/-50 Fighting Eagle juga digunakan oleh negara-negara di ASEAN.
Karakteristiknya yang fleksibel —bisa menjadi pesawat latihan lanjutan (Lead-In Fighter Trainer/LIFT) sekaligus pesawat serang ringan (Light Combat Aircraft/LCA)— membuatnya sangat diminati untuk modernisasi angkatan udara di kawasan ini.
Hingga saat ini, ada empat negara ASEAN yang resmi mengoperasikan atau memesan armada dari keluarga T-50/FA-50.
Indonesia
Indonesia melalui TNI Angkatan Udara adalah pengguna pertama T-50 di ASEAN. Jakarta mengakuisisi T-50i dengan pemesanan awal 16 unit pada tahun 2011 (pesawat dikirim pada periode 2013-2014) untuk menggantikan Hawk Mk 53.
Pada tahun 2021, Indonesia menambah pesanan 6 unit lagi. Proses pengiriman batch tambahan ini dijadwalkan berlangsung bertahap dari akhir tahun 2025 hingga tahun 2026.
Pesawat T-50i dioperasikan oleh Skadron Udara 15 di Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur. Meski berstatus jet latih lanjut, T-50i milik TNI AU telah dilengkapi dengan radar eksternal dan gun internal standar tempur, sehingga siap mengemban misi taktis dan serang ringan.
Filipina
Negara Kedua adalah Filipina. Manila memilih varian yang murni dioptimalkan untuk pertempuran udara ke udara dan udara ke darat ringan guna mengisi kekosongan setelah memensiunkan jet tempur F-5 mereka.
Filipina mengakuisisi 12 FA-50PH pada tahun 2014 dan selesai dikirim pada 2017. Filipina juga baru saja menandatangani kontrak tambahan untuk 12 unit varian FA-50 yang lebih mutakhir, dengan jadwal pengiriman antara tahun 2026 hingga 2030.
Pesawat ini dioperasikan oleh Skadron Tempur ke-5. Armada FA-50PH Filipina memiliki rekam jejak combat-proven (teruji tempur) yang sangat sukses saat digunakan untuk membombardir posisi milisi pro-ISIS dalam pertempuran Marawi tahun 2017.
Thailand
Negara pengguna ketiga di ASEAN adalah Thailand. Bangkok mengakuisisi T-50TH untuk menggantikan armada uzur L-39 Albatros. RTAF total mengoperasikan 14 unit yang dipesan dalam beberapa fase sejak tahun 2015.
Pesawat berpangkalan di Skadron 401 di mana T-50TH digunakan sebagai jet LIFT sebelum para pilot transisi ke jet tempur utama seperti F-16 atau Saab Gripen.
Namun, melalui program upgrade berkala, Thailand menyematkan radar Elta EL/M-2032, Link-T datalink, dan pod sasaran Sniper ATP, membuat kemampuan tempur taktisnya kini menyamai FA-50.
Malaysia
Pengguna keempat di ASEAN adalah Malaysia. Melalui angkatan udaranya (RMAF/TUDM), Kuala Lumpur mengakusisi varian paling canggih FA-50M Block 20 pada tahun 2023.
Kontrak fase pertama bernilai sekitar 920 juta USD untuk 18 unit pesawat, dengan pengiriman perdana dijadwalkan mulai tahun 2026 ini.
Baca Juga: Perdana Menteri Malaysia meminta pengiriman FA-50M dipercepat dari jadwal semula tahun 2026
FA-50M dilengkapi dengan radar Active Electronically Scanned Array (AESA), kemampuan pengisian bahan bakar di udara (in-flight refueling), serta integrasi rudal jarak jauh melampaui cakrawala (Beyond Visual Range/BVR). Pesawat ini diplot untuk menggantikan peran MiG-29 dan F-5E yang sudah pensiun.
Melalui adopsi massal di empat kekuatan udara utama ini, keluarga T-50/FA-50 secara tidak langsung membentuk standardisasi logistik, pelatihan, dan interoperabilitas taktis yang cukup solid di ruang udara Asia Tenggara. (RNS)
