Perang sengit miliaran dolar: Apollo tikung Castlelake demi rebut maskapai easyJet
Eric Salard/WikipediaAIRSPACE REVIEW – Dunia penerbangan Eropa mendadak memanas setelah maskapai berbiaya rendah (low-cost carrier/LCC) asal Inggris, easyJet, menjadi rebutan dua raksasa investasi (private equity) asal Amerika Serikat.
Hanya berselang beberapa hari setelah easyJet menyepakati penawaran dari Castlelake LP, raksasa investasi lainnya, Apollo Global Management, datang “menikung” dengan tawaran yang jauh lebih menggiurkan senilai £5,7 miliar atau sekitar 7,7 miliar USD (setara Rp120 triliun).
Plot Twist di Menit-Menit Terakhir
Sebelumnya, Castlelake harus berjuang ekstra keras demi meluluhkan hati jajaran direksi easyJet. Mereka ditolak sebanyak empat kali sebelum akhirnya penawaran kelima mereka di angka £6,90 per lembar saham disetujui secara prinsip.
Namun, kegembiraan Castlelake tidak bertahan lama. Apollo tiba-tiba masuk ke arena kompetisi dengan menyodorkan proposal tunai senilai £7,15 per lembar saham —selisih yang membuat nilai akuisisi melonjak hampir 1 miliar USD lebih tinggi dari tawaran Castlelake.
Mendapat tawaran yang jauh lebih menguntungkan bagi para pemegang saham, pihak easyJet langsung berputar arah.
Jajaran direksi secara bulat menyatakan bahwa mereka kini mendukung proposal dari Apollo dan batal merekomendasikan penawaran Castlelake.
Begitu kabar ini berembus, saham easyJet langsung melejit hingga 14% di bursa London, menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Rencana Apollo untuk easyJet?
Masuknya perusahaan ekuitas swasta asing biasanya memicu kekhawatiran akan adanya perombakan besar-besaran atau penghapusan identitas perusahaan. Namun, Apollo bergerak cepat untuk menenangkan publik. Mereka menegaskan berkomitmen penuh pada strategi bisnis easyJet yang sudah berjalan dan berjanji akan tetap mempertahankan merek ikonik berwarna oranye tersebut.
Meski begitu, jalan Apollo untuk menguasai easyJet tidak benar-benar mulus. Karena regulasi penerbangan di Inggris dan Uni Eropa mewajibkan maskapai regional untuk dimiliki dan dikendalikan mayoritas oleh warga negara setempat, Apollo harus segera mencari mitra strategis di Eropa agar proses akuisisi ini lolos dari hadangan hukum.
Babak Baru: Perang Harga Dimulai
Berdasarkan aturan pasar modal Inggris, Apollo diberi tenggat waktu hingga 7 Agustus 2026 untuk meresmikan tawaran mengikat ini atau mundur.
Di sisi lain, Castlelake yang memiliki batas waktu hingga 3 Agustus menyatakan sedang mempertimbangkan opsi mereka, yang menjadi sinyal kuat bahwa mereka mungkin saja kembali dengan tawaran yang lebih tinggi.
Para analis penerbangan sepakat bahwa bidding war alias perang harga resmi dimulai.
Bagi easyJet dan para pemegang sahamnya, situasi ini tentu menjadi angin segar yang sangat menguntungkan.
Kita tunggu siapa raksasa finansial AS yang akhirnya sukses menerbangkan maskapai oranye ini ke portofolio bisnis mereka. (RNS)
