Bukan cuma jet siluman, ini rahasia Inggris rombak total RAF dengan anggaran Rp5.960 triliun
EdgewingAIRSPACE REVIEW – Pemerintah Inggris secara resmi telah merilis Rencana Investasi Pertahanan (Defence Investment Plan/DIP) yang sangat dinantikan. Dengan total suntikan dana mencapai £298 miliar (sekitar Rp5.960 triliun) selama empat tahun ke depan, kebijakan ini menandai peningkatan belanja pertahanan terbesar bagi Inggris sejak era 1980-an.
Langkah strategis ini diambil guna merespons dinamika geopolitik global yang kian memanas serta mempercepat transisi militer menuju era digital dan otonom.
Bagi Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force/RAF), cetak biru finansial ini menjadi angin segar yang memberikan kepastian hukum dan anggaran bagi sejumlah program pesawat tempur utama mereka.
Meroket ke Angka 2,7% PDB
Seperti diberitakan Aviation Week, rencana investasi baru Inggris ini menambahkan dana segar sebesar £15 miliar (sekitar Rp300 triliun) di atas alokasi anggaran sebelumnya.
Hasilnya, anggaran Kementerian Pertahanan (MoD) Inggris diproyeksikan melonjak dari £62,2 miliar (sekitar Rp1.244 triliun) pada tahun 2025/2026 menjadi £79,1 miliar (sekitar Rp1.582 triliun) pada tahun 2029/2030.
Secara persentase, pengeluaran pertahanan Inggris akan menyentuh 2,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2027/2028 —level tertinggi sejak berakhirnya Perang Dingin pada dekade 1990-an.
Kontrak Rp172 Triliun untuk GCAP
Pemenang utama dari pengumuman DIP ini tidak lain adalah program jet tempur generasi keenam, Global Combat Air Programme (GCAP). Program trilateral yang digarap bersama Italia dan Jepang ini (dikenal sebagai proyek Tempest di Inggris) mendapatkan kepastian pendanaan masif senilai £8,6 miliar (sekitar Rp172 triliun).
Sebagai bagian dari percepatan proyek ini, kontraktor utama Edgewing telah dianugerahi kontrak senilai £4,6 miliar atau sekitar $6,1 miliar (sekitar Rp92 hingga Rp94 triliun) untuk fase pengembangan lanjutan selama 18 bulan ke depan.
Langkah ini memastikan bahwa purwarupa (demonstrator) jet tempur siluman masa depan ini tetap berada di jalur yang tepat untuk terbang perdana pada tahun 2030.
Strategi Hybrid Air Force
Salah satu poin paling revolusioner dalam DIP kali ini adalah investasi besar-besaran senilai lebih dari £5 miliar (sekitar Rp100 triliun) untuk pengembangan drone dan sistem otonom. RAF tengah mempersiapkan diri untuk membangun konsep kekuatan udara hibrida (Hybrid Air Force).
RAF mengalokasikan dana £300 juta (sekitar Rp6 triliun) untuk mengembangkan jet tempur otonom tanpa awak (drone tempur pendamping/CCA) yang akan terbang berdampingan melindungi pesawat berawak generasi ke-5.
Drone dengan kemampuan perang elektronik (electronic warfare) canggih ini ditargetkan mulai masuk kedinasan operasional penuh pada akhir tahun ini untuk membutakan radar musuh.
Modernisasi F-35 dan Upgrade Typhoon
Di samping investasi teknologi masa depan, kekuatan lini depan RAF saat ini juga mendapatkan porsi modernisasi yang signifikan.
Inggris mengonfirmasi akan membeli unit tambahan pesawat siluman generasi kelima F-35, yang mencakup varian F-35A berkemampuan ganda (dual-capable).
Kemudian, anggaran sebesar £1,1 miliar (sekitar Rp22 triliun) dikucurkan khusus untuk program pemeliharaan, keberlanjutan, dan peningkatan sistem persenjataan serta avionik armada Eurofighter Typhoon agar tetap mematikan di medan tempur modern.
Kendati membawa peningkatan masif pada kekuatan tempur udara, suntikan dana melimpah ini harus dibayar dengan keputusan pahit di sektor lain.
Untuk mendanai lompatan teknologi otonom ini, militer Inggris terpaksa melakukan rasionalisasi dengan memensiunkan beberapa armada helikopter tua serta pesawat pengumpul intelijen berawak.
Peran pengawasan tersebut nantinya akan sepenuhnya dialihkan ke sistem tanpa awak (uncrewed systems) yang dinilai lebih efisien dan minim risiko korban jiwa. (RNS)
