‘Anak Singa’ kembali terbang: Sri Lanka sukses menguji jet tempur Kfir C12 hasil upgrade

Jet tempur Kfir Sri LankaSLAF
Jet tempur Kfir Sri Lanka.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Sri Lanka (SLAF) baru saja menorehkan tonggak sejarah penting dalam modernisasi kekuatan udaranya. Jet tempur Kfir C12 yang telah ditingkatkan teknologinya sukses melaksanakan penerbangan uji coba pertamanya di Pangkalan Udara SLAF Katunayake.

Pesawat legendaris yang dijuluki “Lion Cub” atau Anak Singa ini akhirnya kembali mengangkasa setelah melewati serangkaian pengujian darat dan integrasi sistem yang panjang.

Proyek modernisasi ini merupakan hasil kerja sama strategis antara teknisi internal SLAF dengan para spesialis dari Israel Aerospace Industries (IAI).

Kerja sama tersebut didasarkan pada kontrak senilai 50 juta dolar AS yang ditandatangani pada tahun 2021 silam.

Langkah ini sengaja diambil oleh pemerintah Sri Lanka untuk membangkitkan kembali armada jet tempur mereka yang sempat diistirahatkan selama beberapa tahun karena alasan teknis dan operasional.

Suntikan Teknologi Modern

Melalui program restorasi ini, jet tempur era 1970-an tersebut mendapatkan suntikan teknologi modern yang signifikan. Peningkatan utama meliputi adopsi glass cockpit digital mutakhir yang dirancang khusus untuk mengurangi beban kerja pilot di dalam kabin.

Selain itu, pesawat ini juga dilengkapi dengan sistem avionik dan sistem misi terbaru untuk meningkatkan kesadaran situasional, navigasi, serta komunikasi.

Tidak kalah penting, integrasi sistem tempur yang baru kini mendukung penggunaan senjata berpemandu presisi untuk misi udara-ke-udara maupun udara-ke-darat, lengkap dengan restorasi struktural menyeluruh demi memperpanjang usia operasionalnya.

Menjadi Platform Multiperan

Secara total, program modernisasi ini mencakup peningkatan pada lima unit pesawat warisan masa lalu untuk disulap menjadi platform tempur multiperan yang modern.

Proyek ini merestorasi empat unit jet tempur varian Kfir C2 dan C7 menjadi standar Kfir C12 yang jauh lebih canggih, serta meningkatkan satu unit pesawat latih Kfir TC2 ke standar pelatihan modern.

Jet tempur Kfir sendiri pertama kali dibeli oleh Sri Lanka dari Israel pada pertengahan tahun 1990-an untuk dioperasikan oleh Skadron Tempur No. 10, di mana armada ini memegang peran krusial dalam operasi militer dalam negeri yang berakhir pada tahun 2009.

Operator Kfir Terakhir di Dunia

Penerbangan uji coba perdana yang bersejarah ini disaksikan langsung oleh Sekretaris Kementerian Pertahanan Sri Lanka, Marsekal Pertama (Purn.) Sampath Thuyacontha, bersama Panglima Angkatan Udara, Marsekal Bandu Edirisinghe.

Keberhasilan proyek ini menempatkan Sri Lanka ke dalam posisi yang sangat unik di dunia militer global.

Saat ini, Sri Lanka menjadi satu dari sangat sedikit operator jet tempur Kfir yang masih tersisa di dunia, berdampingan dengan Angkatan Udara Kolombia dan perusahaan taktis militer swasta asal Amerika Serikat, ATAC.

Dengan tuntasnya program peningkatan ini, Sri Lanka kini siap memperketat pengawasan dan meningkatkan kesiapan pertahanan di wilayah udara serta batas maritim kedaulatan mereka.

Tersisa Lima Unit

Saat ini, Angkatan Udara Sri Lanka memiliki total lima unit jet tempur Kfir yang tersisa di dalam armada aktif mereka.

Sebelumnya, sejak pertengahan tahun 1990-an hingga era 2000-an, Sri Lanka sempat membeli total sekitar 14 unit jet Kfir (termasuk varian C2, C7, dan pesawat latih TC2) dari Israel.

Seiring berjalannya waktu, beberapa pesawat rontok akibat kecelakaan, aus karena sering digunakan selama perang sipil yang berakhir pada 2009, hingga akhirnya menyisakan 5 unit pesawat yang sempat tidak dapat diterbangkan (grounded).

Kelima unit tersisa inilah yang dimasukkan ke dalam program modernisasi bersama Israel Aerospace Industries (IAI) untuk di-upgrade menjadi standar Kfir C12, yang terdiri dari empat varian tunggal (sebelumnya varian C2 dan C7), dan satu unit varian latih kursi ganda (sebelumnya varian TC2).

Dengan selesainya program upgrade ini, kelima “Anak Singa” tersebut akan memiliki masa pakai yang diperpanjang setidaknya hingga 10 tahun ke depan dengan kesiapan tempur yang jauh lebih modern. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *