AS setujui penjualan rudal Hellfire senilai Rp365 miliar ke Singapura

Rudal udara ke darat AGM-114 Hellfire US ArmyUS Army
Rudal udara ke darat AGM-114 Hellfire US Army.

AIRSPACE REVIEW – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat resmi menyetujui potensi penjualan tambahan rudal udara ke darat AGM-114R Hellfire beserta peralatan pendukungnya kepada Pemerintah Singapura.

Kesepakatan kerja sama militer ini diperkirakan bernilai total 22,3 juta USD (sekitar Rp365 miliar).

Biro Urusan Politik-Militer AS dalam rilisnya pada tanggal 30 Juni 2026 menyatakan, Singapura telah mengajukan permohonan untuk membeli tambahan 24 rudal Hellfire.

Pembelian ini menggenapi pesanan sebelumnya, sehingga total keseluruhan mencapai 67 rudal AGM-114R Hellfire.

Selain unit rudal utama yang diproduksi oleh raksasa dirgantara Lockheed Martin, paket pertahanan ini juga mencakup suku cadang rudal dan material perbaikan, pembaruan perangkat lunak dan peningkatan sistem peluncur M299, dokumen panduan teknis, logistik, serta layanan kalibrasi sistem, serta pelatihan personel operasional dan dukungan teknis dari pemerintah serta kontraktor AS selama 5 tahun ke depan.

Mitra Strategis Krusial

Pemerintah AS menyatakan bahwa penjualan senjata ini sejalan dengan kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Washington.

Singapura dinilai sebagai mitra strategis yang krusial bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Asia.

“Penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Singapura dalam menghadapi ancaman saat ini maupun di masa depan dengan memperkuat kapasitas operasi dan pelatihan Angkatan Udara Singapura,” tulis Departemen Luar Negeri AS.

Pihak Pentagon juga menegaskan bahwa pasokan senjata ini tidak akan mengubah keseimbangan kekuatan militer dasar di kawasan Asia Tenggara.

Untuk Melengkapi AH-64D Apache

Merespons persetujuan tersebut, juru bicara Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) menyatakan bahwa rudal-rudal presisi ini nantinya akan disematkan pada armada helikopter serang canggih multi-misi milik mereka, yaitu AH-64D Apache Longbow.

“Langkah akuisisi ini mutlak untuk mendukung kebutuhan latihan rutin dan operasional Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF),” ungkap MINDEF.

MINDEF juga menambahkan bahwa Singapura selalu mengambil sudut pandang strategis jangka panjang dalam setiap pengadaan sistem persenjataan.

Hal ini dilakukan demi memastikan keputusan yang diambil tetap hemat biaya (cost-effective), bijaksana, namun tetap optimal dalam menjaga kesiapan tempur dan kedaulatan negara di persimpangan maritim Selat Malaka. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *