Korea Selatan berencana kembangkan drone K-Lucas berdasarkan desain Shahed-136 Iran

Drone LUCAS buatan Amerika SerikatUS Army
Drone LUCAS buatan Amerika Serikat.

AIRSPACE REVIEW – Korea Selatan berencana untuk mengerahkan sistem drone bunuh diri jarak jauh, meniru model Shahed-136 milik Iran.

Langkah ini diambil di tengah perlombaan militer global untuk memproduksi senjata massal berbiaya murah setelah drone terbukti mengubah lanskap peperangan di berbagai konflik, seperti di Ukraina.

Menteri Pertahanan Korea Selatan, Ahn Gyu-back, menyatakan Seoul akan mempercepat penempatan drone kamikaze jarak jauh versi Korea yang dikenal sebagai K-Lucas.

Sistem ini merupakan bagian dari strategi drone dan antidrone yang lebih luas, mengingat drone murah kini digunakan dalam jumlah besar dan secara mendasar telah mengubah taktik perang.

Terinspirasi Drone Shahed Iran

Sistem K-Lucas direkayasa balik (reverse-engineered) dari Shahed-136 Iran, sebuah drone serang satu arah yang dirancang untuk menghantam target tetap dan hancur saat benturan.

Korea Selatan tidak mendapatkan cetak biru atau melakukan kerja sama resmi dengan Iran. Proses rekayasa balik disinyalir dimungkinkan melalui beberapa jalur.

Pertama adalah akses melalui bangkai drone Shahed-136 (Geran-2 Rusia) yang didapat dalam perang Ukraina. Banyak di antara drone ini jatuh dalam kondisi utuh atau hanya rusak sebagian setelah dilumpuhkan oleh sistem perang elektronik (EW) atau ditembak jatuh.

Ukraina dan sekutu Barat (termasuk AS) telah membongkar dan meneliti komponen-komponen ini secara mendalam, lalu membagikan data teknisnya kepada sekutu dekat seperti Korea Selatan.

Rahasia utama Shahed-136 bukanlah teknologinya yang canggih, melainkan pada kesederhanaannya. Drone ini ditenagai oleh mesin tiruan MD-550 (mesin dua tak buatan Jerman yang banyak dijual bebas untuk pesawat pemodelan) dan menggunakan cip mikrokontroler serta modul GPS komersial yang mudah ditemukan di pasar sipil.

Bagi negara dengan industri teknologi tinggi sekalas Korea Selatan, meniru arsitektur sirkuit dan bodi delta-wing seperti itu sangatlah mudah begitu mereka memahami konsep fungsionalnya.

Selain itu, dilaporkan juga bahwa Korea Selatan melakukan adopsi desain FLM-136 LUCAS (Low-cost Uncrewed Combat Attack System), drone kamikaze yang dikembangkan oleh Amerika Serikat, yang juga mencontoh konsep Shahed-136.

K-Lucas diduga merupakan adopsi lokal berbasis kemitraan teknologi dan transfer informasi dari program LUCAS milik militer AS.

Untuk diketahui, drone LUCAS ini telah dilibatkan dalam operasi militer AS di Venezuela dan Timur Tengah.

Melatih Setengah Juta “Prajurit Drone”

Penggunaan drone murah ini dinilai efektif untuk menguras pertahanan udara musuh tanpa ketergantungan pada rudal mahal.

Untuk programnya ini, Korea Selatan menargetkan untuk memperoleh lebih dari 20.000 drone berbiaya rendah pada tahun 2030, termasuk drone pengintai jarak pendek dan amunisi berkeliaran kecil berbasis kecerdasan buatan (AI).

Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran Seoul terhadap kemampuan drone Korea Utara yang terus berkembang dan mengancam infrastruktur militer serta sipil Korea Selatan.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan akan merestrukturisasi Komando Operasi Drone menjadi Markas Besar Drone Pertahanan Nasional (National Defense Drone Headquarters).

Selain itu, mereka berencana melatih 500.000 “Prajurit Drone” agar pengoperasian teknologi ini menjadi keahlian dasar di seluruh angkatan bersenjata.

Logika penggunaan drone murah ini sebelumnya juga telah diterapkan oleh Rusia di Ukraina menggunakan desain Iran, serta oleh Amerika Serikat yang mengembangkan drone satu arah bernama LUCAS dengan basis desain serupa. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Rapkula86 berkata:

    Iran memang pioneer. Dari zaman Ibnu Sina, Al – khawarizmi dll yang kemudian diikuti barat yang melahirkan Eistein

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *