Ukraina kehilangan dua jet tempur MiG-29 dalam sehari

Ukrainian MiG-29 fighter jetAFU
Ukrainian MiG-29 fighter jet.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Ukraina kehilangan dua jet tempur MiG-29 dalam waktu kurang dari 24 jam. Rentetan insiden ini menandai tekanan berat yang dihadapi oleh pasukan Ukraina setelah lebih dari empat tahun konflik berkepanjangan melawan Rusia.

Meskipun terjadi dalam situasi yang berbeda, kedua kejadian ini menyoroti tantangan besar dalam menjaga operasional armada jet tempur era Uni Soviet.

Jatuh Saat Misi Tempur

Otoritas Ukraina mengatakan, kejadian terbaru terjadi pada malam hari antara Jumat dan Sabtu, saat sebuah MiG-29 jatuh ketika menjalankan misi tempur di wilayah Poltava.

Beruntung, pilot pesawat berhasil melontarkan diri (eject) dengan selamat. Tim pencari dan penyelamat segera mengevakuasi pilot ke fasilitas medis dalam kondisi stabil dan tidak dalam situasi kritis.

Hingga saat ini, militer Ukraina menyatakan belum ada bukti bahwa pesawat tersebut ditembak jatuh oleh musuh.

Sebuah komisi teknis telah dibentuk untuk menyelidiki penyebab kecelakaan, termasuk menganalisis kemungkinan kegagalan mekanis, masalah struktural, faktor manusia, hingga gangguan elektronik (jamming).

Serangan Drone di Pangkalan Udara

Beberapa jam sebelum peristiwa di Poltava, satu jet tempur MiG-29 lainnya hancur akibat serangan Rusia di lapangan terbang Voznesensk, wilayah Mykolaiv.

Berdasarkan rekaman yang beredar, jet tempur tersebut dihantam saat sedang bersiap untuk lepas landas.

Beruntung, pilot tidak berada di dalam kokpit saat serangan terjadi, dan tidak ada korban jiwa di antara kru darat.

Serangan tersebut diduga kuat menggunakan drone kamikaze jenis Geran-4, yang merupakan evolusi terbaru dari lini drone Rusia.

Berbeda dengan pendahulunya, Geran-4 menggunakan mesin turbojet yang membuatnya melaju jauh lebih cepat, memperpendek waktu respons sistem pertahanan udara Ukraina, dan meningkatkan efektivitas serangan terhadap target di pangkalan udara.

Pesawat Telah Dimodernisasi

Kehilangan ini terjadi di tengah peningkatan intensitas serangan jarak jauh oleh Rusia yang mengoordinasikan rudal balistik, rudal jelajah, dan ratusan drone sekaligus untuk menggempur infrastruktur militer dan logistik Ukraina.

Kondisi ini memaksa pilot-pilot Ukraina melakukan penerbangan harian dengan intensitas yang sangat tinggi.

Selain misi pertahanan udara, MiG-29 Ukraina dituntut melakukan serangan darat, mendukung pasukan infanteri, dan menekan sistem antipesawat Rusia.

Meski dikembangkan sejak era 1970-an, MiG-29 Ukraina telah dimodernisasi agar mampu membawa persenjataan modern Barat, seperti rudal anti-radiasi AGM-88 HARM, serta bom pintar JDAM-ER (AS) dan AASM Hammer (Prancis).

Namun, armada ini tetap kalah kelas dibanding jet tempur modern Rusia seperti Su-35S dan Su-30SM2 yang memiliki radar lebih kuat dan rudal udara-ke-udara jarak jauh.

Untuk menyiasatinya, pilot Ukraina sering kali harus terbang sangat rendah memanfaatkan kontur bumi agar terhindar dari radar musuh —sebuah taktik berbahaya yang meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan kelelahan struktural pada pesawat produksi tahun 1980-an tersebut.

Transisi ke Pesawat Barat Masih Terbatas

Saat ini, Ukraina sedang dalam proses transisi bertahap ke jet tempur Barat dengan mulai mengoperasikan F-16 kiriman sekutu Eropa dan bersiap menerima Mirage 2000-5 dari Prancis.

Kendati demikian, jumlah pesawat Barat yang tiba masih belum cukup untuk menggantikan sepenuhnya peran jet-jet warisan Soviet seperti MiG-29, Su-27, Su-24, dan Su-25 yang menanggung beban pertempuran harian.

Bagi Kyiv, kehilangan setiap jet tempur bukan hanya soal hilangnya perangkat keras militer bernilai tinggi, melainkan juga kehilangan aset waktu dan personel, mengingat pelatihan pilot tempur membutuhkan waktu bertahun-tahun serta investasi yang sangat besar. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *