MBDA CROSSBOW, senjata ‘Serangan Dalam’ murah yang siap diproduksi massal
MBDA UKAIRSPACE REVIEW – Produsen rudal terbesar di Eropa, MBDA, sukses mengembangkan dan menguji coba senjata serangan dalam (Deep Strike) berbasis darat terbaru yang diberi nama CROSSBOW.
Langkah ini menandai perubahan paradigma baru dalam industri pertahanan global, di mana senjata pemukul jarak jauh kini dirancang untuk diproduksi secara cepat, massal, dan berbiaya rendah demi merespons karakteristik perang modern seperti yang terjadi di Ukraina.
Proses pengembangan CROSSBOW terbilang sangat impresif dan memecahkan rekor waktu industri tradisional.
Hanya dalam waktu sembilan bulan di tahun 2025, rudal ini berhasil bertransformasi dari sekadar cetak biru di atas meja desain menjadi demonstrasi uji tembak langsung (live-firing).
MBDA tercatat sukses melakukan dua kali uji tembak dalam kurun waktu tiga bulan (Desember 2025 dan Februari 2026).
Menariknya, MBDA membiayai penuh proyek ini menggunakan sumber daya internal perusahaan tanpa menunggu adanya kontrak resmi atau pesanan dari pemerintah terlebih dahulu.
Pendekatan agresif ini sengaja diambil agar sistem senjata tersebut bisa langsung siap diproduksi massal pada tahun 2026 untuk memenuhi kebutuhan mendesak negara-negara sekutu.
Sistem Serangan Satu Arah
Pengalaman dari perang intensitas tinggi di Ukraina menunjukkan bahwa tingkat konsumsi amunisi di medan tempur sangatlah masif.
Selama ini, negara-negara Barat mengandalkan rudal jelajah canggih sekelas Storm Shadow atau SCALP yang berharga jutaan dolar per unitnya. Akibatnya, stok amunisi cepat menipis dan sulit digantikan dalam waktu singkat.
CROSSBOW hadir sebagai bagian dari strategi “smart mass” (kuantitas cerdas) MBDA. Rudal ini dirancang sebagai sistem serangan satu arah (one-way attack/kamikaze) berbasis darat yang jauh lebih murah, namun tetap memiliki efek operasional yang mematikan.
Untuk menekan biaya produksi dan mempercepat manufaktur, MBDA menggunakan arsitektur modular yang menggabungkan subsistem militer standar dengan komponen komersial yang tersedia luas di pasar (commercial off-the-shelf).
Muatan 300 Kg
Meski berbiaya lebih murah dibandingkan rudal jelajah konvensional, CROSSBOW memiliki spesifikasi teknis dan jangkauan yang sangat mematikan.
Sistem ini mampu menjangkau target hingga jarak lebih dari 800 km. Jarak ini membuat CROSSBOW sanggup menghantam aset strategis musuh jauh di balik garis pertahanan depan.
CROSSBOW membawa beban mematikan (payload) seberat 300 kg, yang dioptimalkan untuk misi penetrasi dan menghancurkan target bernilai tinggi.
Senjata ini dirancang khusus untuk melumpuhkan pusat komando dan kendali (command & control centers), fasilitas logistik, depot amunisi, serta infrastruktur militer kritis musuh.
CROSSBOW dilengkapi dengan mesin turbojet dan sistem navigasi berbasis visual (image-based navigation).
Keunggulan ini membuat rudal tetap mampu mengunci target secara presisi meski beroperasi di lingkungan peperangan elektronik (electronic warfare) yang pekat, di mana sinyal satelit (GNSS/GPS) sengaja diacak oleh musuh.
Bebas dari Komponen AS
Pengembangan CROSSBOW dipimpin oleh MBDA cabang Inggris (UK) di bawah program pertahanan strategis.
Salah satu keunggulan penting dari rudal ini adalah pemotongan komponen yang terikat dengan rantai pasok Amerika Serikat (AS).
Dengan tidak menggunakan komponen berpemandu dari AS, CROSSBOW terbebas dari regulasi ekspor ketat ITAR (International Traffic in Arms Regulations) milik Amerika.
Dengan begitu memberikan fleksibilitas penuh bagi negara-negara Eropa dalam hal penggunaannya maupun potensi transfer cepat ke sekutu seperti Ukraina. (RBS)
