KNDS luncurkan LORAS, SPH kaliber 155 mm dengan jangkauan hingga 100 km
YahooAIRSPACE REVIEW – Produsen pertahanan terkemuka Eropa, KNDS, secara resmi memperkenalkan demonstrator teknologi howitzer swagerak (SPH) terbaru mereka yang diberi nama LORAS (LOng Range Artillery System) di pameran pertahanan bergengsi Eurosatory 2026 di Paris, Prancis.
Sistem ini hadir dengan arsitektur laras 58-kaliber baru yang dirancang untuk menjembatani celah kemampuan (capability gap) antara artileri medan konvensional dan sistem roket peluncur ganda (MLRS).
Selama ini, mayoritas sistem SPH standar NATO seperti CAESAR, PzH 2000, dan RCH 155 mengandalkan laras 155 mm dengan panjang 52-kaliber.
Laras jenis ini umumnya memiliki daya jangkau antara 30 hingga 40 km menggunakan amunisi konvensional, atau maksimal 50 hingga 60 kilometer dengan amunisi berpemandu khusus.
Ukuran Laras Bertambah Panjang
LORAS mendobrak batasan tersebut dengan memperpanjang larasnya menjadi 58-kaliber, di mana ukuran laras bertambah sekitar 93 sentimeter (dari 8,06 m menjadi 8,99 m).
Dikombinasikan dengan ruang bakar (chamber) yang lebih besar dan tekanan yang ditingkatkan, laras yang lebih panjang ini mampu memaksimalkan kecepatan melesatnya peluru (muzzle velocity).
Hasilnya, LORAS diklaim mampu menembakkan amunisi daya ledak tinggi (high-explosive) standar hingga jarak 60 kilometer, serta mencapai jarak fantastis 80 hingga 100 km jika menggunakan amunisi presisi khusus. Jangkauan sejauh ini biasanya hanya bisa dicapai oleh sistem roket terpandu.
Kompatibel dengan Standar NATO
Meski menawarkan performa mutakhir, keunggulan utama LORAS terletak pada fleksibilitasnya.
Sistem ini dirancang agar tetap sepenuhnya kompatibel dengan ekosistem amunisi standar NATO (JBMoU). Artinya, negara-negara pengguna tidak perlu membuang atau mengganti stok amunisi 155 mm yang sudah mereka miliki untuk CAESAR atau PzH 2000.
Mereka bisa langsung menggunakannya di sistem LORAS, walaupun performa maksimal 100 km baru akan tercapai dengan amunisi generasi baru yang dioptimalkan khusus.
Langkah ini dinilai sangat strategis bagi operasional jangka panjang, mengingat biaya logistik dan pengadaan amunisi artileri jauh lebih murah dan memiliki kapasitas pasokan yang lebih besar dibandingkan dengan sistem roket.
Otomatisasi Tinggi dan Perlindungan Kru
Pada demonstrator yang dipamerkan, sistem persenjataan LORAS diintegrasikan ke dalam kubah tanpa awak (unmanned turret) jenis Artillery Gun Module (AGM) yang dipasang pada sasis kendaraan roda rantai (seperti varian RCH 155).
LORAS memiliki bobot tempur di bawah 45 ton. Untuk kapasitas amunisi mampu membawa hingga 30 proyektil utuh dan 144 muatan pendorong modular (modular charges).
Laju tembakan otomatis sepenuhnya, mampu menembakkan lebih dari 8 peluru per menit. Sistem ini hanya membutuhkan dua personel berkat sistem otomatisasi yang masif, sehingga mengurangi risiko paparan bahaya terhadap kru di medan perang.
Didukung mesin bertenaga 900 kW, mampu melaju hingga kecepatan 70 km/jam di jalan raya dengan jarak tempuh operasional mendekati 500 kilometer.
Shoot-and-Scoot 2.0
KNDS juga membekali LORAS dengan kemampuan taktis modern seperti metode Shoot-and-Scoot 2.0 yakni menembak lalu langsung berpindah tempat untuk menghindari balasan musuh.
Sistem ini juga memiliki kemampuan menembak sambil bergerak (firing on the move), serta fitur Multiple Round Simultaneous Impact (MRSI) di mana beberapa peluru yang ditembakkan berturut-turut dengan sudut berbeda dapat jatuh di target yang sama secara bersamaan.
Kehadiran LORAS di Eurosatory 2026 menandai babak baru bagi pengembangan artileri Eropa yang siap menggeser target-target yang dulunya hanya bisa dijangkau oleh artileri roket mahal, kini cukup dengan meriam tabung konvensional yang lebih efisien. (RBS)
