Intip rencana Israel yang akan menempatkan kapal selamnya di Tanduk Afrika

Kapal selam kelas Dolphin Angkatan Laut IsraelIlan Rom/Wikimedia
Kapal selam kelas Dolphin Angkatan Laut Israel.

AIRSPACE REVIEW – Israel dilaporkan sedang menjajaki kemungkinan untuk menempatkan armada kapal selamnya di lepas pantai Tanduk Afrika. Pelabuhan Berbera di Somaliland dibidik sebagai pangkalah bagi kapal selam kelas Dolphin miliknya.

Seperti dilaporkan Defence-Network, upaya Tel Aviv dinilai sangat strategis mengingat posisi geografis Pelabuhan Berbera yang terletak persis di seberang Yaman.

Dengan menempatkan armada bawah air di lokasi tersebut, Israel akan memiliki titik pengamatan yang ideal untuk memantau aktivitas kelompok Houthi Yaman serta pengaruh Iran di Teluk Aden dan bagian selatan Laut Merah.

Aset Paling Krusial

Kapal selam kelas Dolphin merupakan salah satu aset paling krusial bagi pertahanan Israel. Di samping mengamankan jalur pelayaran utama di Laut Mediterania dan melindungi platform gas lepas pantai miliknya, armada ini juga dirancang untuk misi jarak jauh.

Saat ini, setidaknya satu kapal selam kelas Dolphin dilaporkan telah disiagakan di Teluk Persia untuk mengantisipasi potensi eskalasi dari Iran.

Dari segi kapabilitas tempur, kapal selam ini mampu meluncurkan berbagai jenis rudal berpemandu.

Salah satu senjata andalannya adalah rudal jelajah Popeye Turbo buatan domestik Israel, yang diperkirakan memiliki jangkauan serang minimal 1.500 km.

AS Juga Akan Membangun Pangkalan Militer di Somaliland

Hingga saat ini, memang belum ada konfirmasi resmi mengenai durasi jangka panjang pengerahan kapal selam tersebut di wilayah tersebut.

Kendati demikian, kepemimpinan Somaliland —wilayah yang memisahkan diri dari Somalia— menyambut baik investasi dari Israel dan telah membuka akses ke pelabuhan-pelabuhan mereka.

Di sisi lain, dinamika geopolitik di wilayah tersebut kian memanas setelah adanya laporan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga tengah mempertimbangkan untuk mengakui kemerdekaan Somaliland secara resmi, dengan imbalan izin pendirian pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Israel Negara Pertama Mengakui Kemerdekaan Somaliland

Sementara itu, Menteri Pertahanan Somaliland Mohamed Yusuf Ali mengatakan kepada Reuters bahwa Israel tidak memiliki pangkalan di Somaliland.

Namun demikian, setelah Somaliland menyatakan kemerdekaannya dengan memisahkan diri dari Somalia, negara itu meminta Israel untuk berinvestasi di bidang pertanian dan sektor lainnya.

Dikatakan pula bahwa Israel adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Somaliland pada bulan Desember 2025.

Yusuf Ali ikut dalam kunjungan delegasi besar Somaliland ke Israel minggu ini, menandai kunjungan resmi pertama Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi.

Untuk diketahui, pada 18 Mei 1991, Somaliland secara sepihak mendeklarasikan kemerdekaannya.

Meski saat ini beroperasi sebagai negara demokratis yang stabil dengan pemerintahan, mata uang, dan tentara sendiri, Somaliland belum mendapatkan pengakuan kedaulatan resmi dari PBB.

Berlokasi Strategis di Tanduk Afrika

Berlokasi strategis di Tanduk Afrika, Somaliland telah menikmati otonomi yang efektif –perdamaian serta stabilitas yang relatif– sejak tahun 1991, ketika memisahkan diri dari Somalia saat negara itu dilanda perang saudara.

Di sisi yang lain, Somali Guardian melaporkan pada hari Minggu bahwa Israel telah membuka pangkalan intelijen di Somaliland dan ada diskusi tentang kemungkinan pendirian pangkalan militer Israel.

Namun, di sela-sela forum bisnis yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Israel di Tel Aviv, Ali menepis laporan yang menyebut Israel sedang bernegosiasi untuk mendirikan pangkalan militer di negaranya.

“Tidak ada kehadiran militer Israel atau pangkalan militer di Somaliland,” kata dia. “Tetapi Israel membantu Somaliland, mereka mendukung pelatihan beberapa polisi dan militer kami.”

Israel Membantu Somaliland dalam Misi-misi Operasi Rahasia

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, usai pertemuan dengan Presiden Somaliland mengatakan bahwa ia ingin memperdalam hubungan keamanan, ekonomi, dan diplomatik dengan Somaliland. Kedua negara berniat memerangi “terorisme” di wilayah tersebut.

“Selama bertahun-tahun kami bekerja sama secara diam-diam dalam serangkaian operasi yang akan tetap dirahasiakan,” kata Katz.

Michael Lotem, Duta Besar Israel untuk Somaliland, menolak berkomentar. Israel mengatakan pengakuan mereka bukanlah langkah permusuhan terhadap Somalia.

Pada bulan Februari, Abdullahi mengatakan kepada media bahwa meskipun Somaliland berharap untuk kerja sama militer di masa depan dengan Israel, pembangunan pangkalan militer Israel belum dibahas.

Selama konferensi tersebut, Abdullahi mengatakan ia berupaya memperdalam hubungan ekonomi Israel-Somaliland, dan menyebut Israel sebagai “teman yang berharga dan dapat diandalkan.”

“Somaliland terbuka untuk bisnis, dan Somaliland siap untuk investasi Israel,” ujarnya.

Somaliland sangat ingin memanfaatkan keahlian teknologi Israel di bidang pertanian dan peternakan, pengelolaan air, energi terbarukan, perawatan kesehatan, dan keamanan siber, lanjut Abdullahi. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *