Libatkan Triton, Poseidon, dan Rivet Joint: Misi pengintaian udara AS di Kuba meningkat drastis
Istimewa AIRSPACE REVIEW – Aktivitas militer Amerika Serikat di wilayah Karibia mengalami peningkatan tajam. Berdasarkan data pelacakan penerbangan terbaru, militer AS secara drastis meningkatkan frekuensi misi pengintaian udara di dekat wilayah Kuba. Hal ini memicu kekhawatiran akan terjadinya eskalasi ketegangan di kawasan tersebut.
Laporan terbaru mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat 25 misi pengintaian yang terdeteksi sejak awal Februari 2026.
Peningkatan ini terjadi di tengah retorika keras Presiden AS Donald Trump yang kembali menempatkan Kuba dalam radar kebijakan luar negeri AS yang agresif.
Dalam rangkaian misi tersebut, Pentagon mengerahkan berbagai aset intelijen udara kelas berat untuk memantau pergerakan di pulau tersebut.
Sejumlah alutsista yang teridentifikasi dikerahkan di antaranya meliputi drone pengintai maritim ketinggian tinggi yang mampu beroperasi dalam durasi lama MQ-4C Triton, pesawat spesialis pemburu kapal selam dan pengintaian maritim P-8A Poseidon, dan pesawat intelijen elektronik yang berfungsi menyadap sinyal komunikasi dan memetakan radar pertahanan musuh RC-135V/W Rivet Joint.
Data penerbangan menunjukkan pesawat-pesawat tersebut sering terbang dalam jarak hanya 64 km (40 mil) dari garis pantai Kuba dan fokus pada area strategis seperti Havana serta pangkalan militer di wilayah timur.
Ancaman Trump
Lonjakan aktivitas pengintaian ini tidak lepas dari pernyataan provokatif Donald Trump. Dalam pernyataannya baru-baru ini, Trump mengklaim telah menginstruksikan komandan militer untuk menggerakkan gugus tugas kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) mendekati perairan Kuba sebagai bentuk unjuk kekuatan.
Trump secara eksplisit menyebut Kuba sebagai target strategis berikutnya, menyusul ketegangan serupa dengan Iran.
Ia menyatakan bahwa “fajar baru” sedang tiba bagi Kuba, yang diartikan oleh banyak analis sebagai sinyal kemungkinan intervensi atau tekanan militer yang lebih besar.
Selain pengintaian udara, Amerika Serikat juga memperketat tekanan melalui blokade energi alias pengetatan arus masuk minyak ke Kuba untuk melumpuhkan ekonomi domestik.
Selain itu, AS juga memberlakukan sanksi baru terhadap perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan dengan militer Kuba.
Hingga saat ini, Havana belum memberikan respons resmi terkait peningkatan aktivitas penerbangan di perbatasan mereka.
Namun demikian, situasi di Karibia kini berada dalam pengawasan ketat komunitas internasional guna menghindari konflik terbuka. (RF)

