Dua kali jatuh dalam sebulan, kisah lolosnya pilot F-15E AS dari friendly fire dan rudal Iran

F-15E-Strike-Eagle-3USAF

AIRSPACE REVIEW – Kisah bertahan hidup di medan perang selalu menarik perhatian, namun sangat sedikit yang bisa menandingi keberuntungan sekaligus ketangguhan seorang pilot Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).

Pilot yang tidak disebutkan namanya demi alasan keamanan ini berhasil lolos dari maut setelah pesawatnya ditembak jatuh dua kali hanya dalam waktu satu bulan dalam konflik melawan Iran pada tahun 2026.

Kasus yang baru-baru ini diungkap oleh media spesialis militer AS dan dilaporkan pertama kali oleh CBS News ini dinilai sangat langka.

Hal ini diyakini sebagai pertama kalinya sejak Perang Vietnam seorang pilot jet tempur USAF jatuh dua kali dalam satu kampanye militer yang sama.

Insiden Pertama: Tembakan Kawan Sendiri (Friendly Fire)

Kisah luar biasa ini bermula pada Maret 2026, di hari-hari awal Operasi Epic Fury —operasi serangan AS terhadap sasaran-sasaran di Iran.

Dalam situasi pertempuran yang kacau dan dipenuhi serangan drone serta rudal balistik, jet tempur F-15E Strike Eagle yang ia piloti teridentifikasi secara keliru oleh pasukan Kuwait.

Akibat insiden salah target tersebut, tiga pesawat F-15E AS jatuh terkena tembakan kawan (friendly fire) oleh jet tempur F/A-18 Hornet Kuwait.

Beruntung, seluruh enam awak pesawat (termasuk pilot ini) berhasil menggunakan kursi lontar dan selamat.

Insiden Kedua: Tertembak Rudal Iran

Meski baru saja mengalami trauma psikologis dan fisik akibat proses ejeksi, pilot tersebut langsung kembali ke garis depan.

Pada 3 April 2026, saat menjalankan misi serangan jauh ke dalam wilayah strategis Iran, pesawat F-15E yang ia terbangkan dengan tanda panggilan (callsign) “DUDE44” dihantam oleh rudal darat ke udara (SAM) milik musuh.

Pesawat tersebut jatuh di wilayah teritorial Iran. Diketahui, jet tersebut berasal dari Skadron Tempur ke-494 di bawah Sayap Tempur ke-48 yang berbasis di RAF Lakenheath, Inggris.

Operasi Penyelamatan Besar-besaran

Setelah melontarkan diri untuk kedua kalinya, pilot dan operator sistem senjata (WSO) jatuh terpisah di wilayah musuh.

Sang pilot berhasil ditemukan dan dievakuasi hanya beberapa jam kemudian oleh tim pencari dan penyelamat tempur khusus (CSAR) AS menggunakan helikopter HH-60W Jolly Green II dan pesawat HC-130J Combat King II.

Namun, sang WSO menghadapi situasi yang jauh lebih kritis. Karena mengalami cedera akibat ejeksi, ia terpaksa bersembunyi selama kurang lebih 36 jam di daratan Iran, sementara pasukan lokal melakukan pencarian intensif.

Pasukan Iran dilaporkan sempat berada sangat dekat dengan lokasi persembunyiannya sebelum akhirnya tim penyelamat AS berhasil menjemputnya.

Misi penyelamatan WSO ini berubah menjadi salah satu operasi CSAR terbesar dalam beberapa dekade terakhir bagi militer AS.

Operasi tersebut melibatkan koordinasi masif yang mengerahkan sekitar 155 hingga 180 pesawat, termasuk jet tempur, pembom, pesawat tanker, jet perang elektronik, hingga platform intelijen untuk mengamankan area.

Evaluasi Kerentanan Jet Tempur

Peristiwa ini memicu kembali perdebatan di internal militer mengenai ancaman sistem pertahanan udara modern.

Meskipun Strike Eagle merupakan salah satu pilar kekuatan udara AS yang tangguh (mampu terbang di atas Mach 2 dan membawa lebih dari 10 ton persenjataan), jet ini tetap rentan saat beroperasi di ruang udara musuh yang dijaga ketat.

Sebagai respons, USAF kini tengah mempercepat integrasi sistem Eagle Passive Active Warning Survivability System (EPAWSS), sebuah perangkat perang elektronik baru untuk meningkatkan kemampuan bertahan hidup armada F-15E dan F-15EX.

Di luar kecanggihan teknologi, sorotan utama tetap tertuju pada ketahanan fisik sang pilot.

Setiap kali melakukan ejeksi dari jet tempur, tubuh manusia dipaksa menerima tekanan gravitasi yang sangat ekstrem yang berisiko tinggi menyebabkan cedera parah pada tulang belakang, leher, dan anggota tubuh lainnya.

Selamat dari satu kali ejeksi dalam pertempuran sudah merupakan mukjizat. Namun, berhasil bertahan hidup dari dua kali ejeksi dalam waktu kurang dari sebulan di perang yang sama merupakan sebuah catatan sejarah yang hampir tidak ada tandingannya dalam sejarah penerbangan militer modern abad ke-21. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *