Uji coba CCA sukses: Integrasi F-35 dan drone MQ-20 Avenger buka era baru kekuatan udara

F-35 dan MQ-20 AvengerUSAF

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) kembali mencatat pencapaian penting dalam evolusi pertempuran udara masa depan.

Dalam sebuah uji coba yang belum pernah dilakukan sebelumnya, jet tempur siluman F-35 Lightning II berhasil mengambil alih kendali operasional atas drone (pesawat tanpa awak) MQ-20 Avenger selama misi simulasi berlangsung.

Demonstrasi mutakhir ini merupakan bagian dari program Collaborative Combat Aircraft (CCA). Program ini diinisiasi oleh militer AS untuk mengembangkan generasi baru pesawat tanpa awak berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang mampu bertempur di samping jet tempur berawak dalam skenario konflik intensitas tinggi.

Latihan ini melibatkan kolaborasi dari berbagai pihak papan atas, termasuk General Atomics Aeronautical Systems selaku pabrikan drone, Kantor Program Bersama F-35, skadron uji USAF, Lockheed Martin, serta perusahaan perangkat lunak Autonodyne.

Selama penerbangan uji coba, pilot F-35 mengirimkan perintah langsung ke MQ-20 melalui arsitektur digital canggih.

Hebatnya, drone tersebut dapat langsung mengeksekusi perintah secara mandiri (otonom) tanpa memerlukan kendali jarak jauh konvensional seperti yang biasa dilakukan operator di stasiun bumi.

Berbeda dengan drone tradisional, konsep CCA menggunakan kecerdasan buatan agar pesawat tanpa awak dapat menerima target dan menjalankan misi secara independen.

Di bawah konsep ini, pilot jet tempur bertindak layaknya seorang “komandan formasi”. Pilot dapat mengarahkan beberapa drone sekaligus, sementara fokus dirinya tetap terjaga untuk membaca situasi taktis dan ancaman di sekitarnya.

Uji coba bersama F-35 ini menandai evolusi besar dari eksperimen serupa yang sebelumnya pernah dilakukan pada jet tempur F-22 Raptor.

Masuknya F-35 ke dalam program ini memperluas opsi operasional militer AS, mengingat F-35 diproyeksikan sebagai platform tempur utama USAF untuk dekade-dekade mendatang.

Meskipun Avenger digunakan sebagai platform uji coba matang untuk mematangkan sistem otonom dan sensor, USAF telah memilih proyek lain, yakni YFQ-42A dari General Atomics dan YFQ-44A Fury dari Anduril Industries, untuk fase pertama pengembangan drone operasional masa depan mereka.

USAF menargetkan untuk membeli ratusan pesawat CCA ini dalam sepuluh tahun ke depan. Langkah ini diambil untuk menciptakan kekuatan udara yang lebih masif, tangguh, dan efisien dari segi anggaran.

Sebagai perbandingan, jika satu jet tempur generasi kelima bisa memakan biaya lebih dari 80 juta USD (sekitar Rp1,42 triliun), drone kolaboratif ini akan jauh lebih murah dan bisa dikirim ke wilayah berbahaya berisiko tinggi tanpa mengorbankan nyawa pilot manusia.

Di masa depan, drone CCA diharapkan mampu mengemban misi pengintaian tingkat lanjut, perang elektronik (electronic warfare), menyerang target darat, hingga memperluas jangkauan radar jet tempur pendampingnya.

Program ini nantinya juga akan diintegrasikan dengan arsitektur masa depan Next Generation Air Dominance (NGAD) yang melibatkan jet tempur baru F-47. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *