Dihantam masalah overheating, jet tempur F-35 mendapat komponen penyerap panas baru

F-35 landingUSAF
Jet tempur F-35 Lightning II.

AIRSPACE REVIEW – Jet tempur siluman F-35 Lightning II kembali menghadapi tantangan serius terkait manajemen termal (suhu panas).

Untuk mengatasi masalah ini, Lockheed Martin dilaporkan telah menerima kontrak baru senilai 100 juta USD (sekitar Rp1,7 triliun) dari Komando Sistem Udara Angkatan Naval AS (NAVAIR) untuk memproduksi komponen penyerap panas (heat sink) pada sistem pengereman pesawat tersebut.

Berdasarkan kesepakatan kontrak, sebanyak 1.459 unit komponen heat sink sistem rem akan diproduksi hingga tahun 2030.

Dari total tersebut, 1.075 unit dialokasikan untuk varian F-35A dan 384 unit sisanya untuk varian F-35B.

Sebagai jet tempur mutakhir, F-35 memiliki berat lebih dari 13 ton saat bermuatan penuh. Ketika melakukan pendaratan dengan kecepatan tinggi, pesawat harus menyebarkan energi kinetik yang sangat besar dalam jarak landasan pacu yang pendek. Proses pengereman inilah yang menghasilkan suhu panas ekstrem.

Masalahnya, suhu tinggi tersebut tidak hanya berdampak pada roda, tetapi juga merambat ke infrastruktur avionik di sekitarnya.

Panas yang berlebih (overheating) ini dapat memberikan tekanan berat pada kabel, sensor, dan koneksi avionik yang krusial bagi keselamatan penerbangan.

Komponen heat sink yang baru ini nantinya dirancang khusus untuk menyerap panas ekstrem saat mendarat dan mencegahnya merusak sistem penting di sekitarnya.

Masalah manajemen termal ini memperparah krisis kapasitas perawatan tingkat depo pada program F-35 yang sudah berlangsung lama.

Badan Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO) sebelumnya sempat menyoroti bahwa tingkat kesiapan operasional armada F-35 berada di bawah target akibat kurangnya infrastruktur perawatan.

Kelangkaan komponen sistem rem yang tahan panas ini dinilai memperpanjang antrean perawatan di bengkel-bengkel militer, menunda kembalinya jet tempur ke skuadron operasional, dan berdampak langsung pada tingkat kesiapan misi tempur global.

Saat ini, terdapat lebih dari 1.100 unit F-35 yang dioperasikan oleh 19 negara di seluruh dunia.

Solusi Jangka Pendek

Para ahli kedirgantaraan menilai bahwa masalah pada sistem rem ini hanyalah pucuk dari gunung es dari persoalan manajemen termal F-35 yang jauh lebih luas.

Sistem pendingin yang ada saat ini dinilai sudah mencapai batas maksimalnya, terlebih dengan adanya paket modernisasi Block 4 yang mengintegrasikan radar baru dan komputer misi yang membutuhkan daya lebih besar.

Meskipun sistem manajemen termal generasi baru yang lebih komprehensif sedang dikembangkan oleh raksasa teknologi seperti Collins Aerospace dan Honeywell Aerospace, infrastruktur tersebut diperkirakan paling cepat baru bisa siap pada periode 2030–2032.

Oleh karena itu, pengadaan komponen penyerap panas dipandang sebagai solusi darurat yang krusial untuk menjaga keberlanjutan operasional armada F-35 saat ini. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *