Baru keluar pabrik, dua F-35B Inggris terpaksa parkir dua bulan di Portugal karena kerusakan teknis

F-35B tertahan di Azores Portugal kerena kerusakan teknisThe Telegraph

AIRSPACE REVIEW – Dua jet tempur siluman F-35B Lightning II milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) sempat tertahan di Kepulauan Azores, Portugal, selama lebih dari dua bulan.

Penundaan yang sangat lama ini terjadi setelah kedua pesawat generasi kelima tersebut mengalami masalah teknis saat melakukan penerbangan transfer dari Amerika Serikat menuju Inggris.

Kedua jet tempur yang baru saja keluar dari jalur produksi Lockheed Martin di Texas ini merupakan bagian dari gelombang terakhir untuk melengkapi pesanan pertama Inggris sebanyak 48 unit F-35B.

Setelah perbaikan intensif, kedua pesawat tersebut akhirnya dilaporkan bisa melanjutkan penerbangan menuju pangkalan operasional mereka di RAF Marham pada Kamis (21/5/2026).

Kronologi peristiwa bermula pada tanggal 20 Maret 2026, ketika kedua jet tersebut terbang dalam formasi bersama tiga jet F-35B lainnya untuk menyeberangi Samudra Atlantik Utara.

Sementara tiga pesawat berhasil menyelesaikan penerbangan tanpa insiden hingga ke Inggris, dua jet lainnya terpaksa melakukan pendaratan darurat yang tidak direncanakan di Bandara Internasional Lajes, yang terletak di Pulau Terceira, Azores.

Pendaratan darurat dilakukan setelah terdeteksinya gangguan teknis yang dinilai membahayakan keselamatan misi.

Insiden ini memicu perhatian karena durasi penahanan pesawat di landasan pacu yang dinilai tidak biasa.

Meskipun pendaratan darurat selama penerbangan transfer lintas samudra adalah hal yang lumrah, tertahannya jet tempur tersebut hingga dua bulan di Azores menyoroti rumitnya tantangan logistik dalam mengoperasikan pesawat tempur generasi kelima.

Proses pemeliharaan dan perbaikan F-35B sangat bergantung pada peralatan khusus, perangkat lunak diagnostik tingkat lanjut, serta teknisi bersertifikasi tinggi.

F-35B merupakan varian dengan kemampuan lepas landas pendek dan pendaratan vertikal (STOVL). Jenis ini menjadi andalan kekuatan tempur udara utama Inggris yang dioperasikan bersama oleh RAF dan armada penerbangan Angkatan Laut Inggris (Fleet Air Arm).

Jet tempur senilai £88 juta (Rp1,78 triliun) per unitnya ini diproyeksikan untuk beroperasi di atas kapal induk HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales.

Hingga saat ini, otoritas militer Inggris belum merilis detail mengenai jenis kerusakan teknis spesifik yang dialami oleh kedua pesawat tempur tersebut.

Namun, peristiwa ini kembali mempertegas laporan dalam beberapa tahun terakhir mengenai tantangan global yang dihadapi oleh negara-negara pengguna F-35 terkait rantai pasokan logistik, ketersediaan suku cadang, dan pemeliharaan sistem pesawat yang sangat kompleks.

Di sisi lain, insiden ini juga membuktikan kembali betapa pentingnya peran strategis Pangkalan Udara Lajes di Azores.

Lokasinya yang berada di tengah Atlantik Utara menjadikannya titik tumpu dan penyelamat krusial bagi pesawat-pesawat militer NATO yang melakukan transit antara Amerika Utara, Eropa, Afrika, dan Timur Tengah saat menghadapi situasi darurat di udara. (PN)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *