India semakin dekat dengan mega kontrak 114 jet tempur Rafale senilai Rp630 triliun: 90 akan dibangun di dalam negeri
BoeingMan777/ShutterstockAIRSPACE REVIEW – India semakin dekat untuk merealisasikan kesepakatan pertahanan bernilai fantastis dengan Prancis. Pemerintah India dilaporkan telah memfinalisasi Letter of Request (LoR) atau Surat Permintaan resmi untuk pengadaan 114 jet tempur multiperan generasi 4,5, Rafale, bagi Angkatan Udara India (IAF). The Times of India memberitakan pada Selasa, 26 Mei 2026.
“LoR tersebut sudah siap dan diperkirakan akan dikirim ke Prancis dalam beberapa minggu ke depan,” ujar sumber dari pihak pertahanan India.
Sebagai informasi, LoR merupakan dokumen resmi antarpemerintah (government-to-government) yang digunakan untuk memulai proses pengadaan pertahanan skala besar di bawah kerangka kerja sama internasional.
Nilai estimasi awal untuk mega proyek ini diperkirakan mencapai sekitar 3,25 lakh crore Rupee (atau sekitar Rp630 triliun).
Skema Produksi Lokal “Make-in-India”
Di bawah draf kesepakatan yang diajukan, hampir 90 dari total 114 jet tempur tersebut direncanakan untuk diproduksi di dalam negeri India.
Produksi ini akan melibatkan kemitraan strategis antara perusahaan kedirgantaraan Prancis, Dassault Aviation, dengan perusahaan lokal India di bawah inisiatif nasional “Make-in-India”.
Sementara itu, 24 unit pesawat sisanya akan dikirim langsung dari Prancis dalam kondisi siap terbang (fly-away condition).
Target kandungan lokal (tingkat komponen dalam negeri) untuk jet tempur yang diproduksi di India ini ditargetkan mencapai hampir 50 persen.
Kepala Staf Angkatan Udara India, Air Chief Marshal A.P. Singh, dijadwalkan melakukan kunjungan dinas ke Prancis pada awal Juni.
Kunjungan ini bertepatan sesaat sebelum Perdana Menteri Narendra Modi bertolak ke Prancis pada 15–17 Juni untuk menghadiri KTT G7.
Kehadiran Singh di Prancis diharapkan dapat memberikan dorongan akhir bagi kelancaran kerja sama ini.
Penandatanganan Kontrak Ditargetkan Akhir Tahun
Penandatanganan kontrak final sendiri ditargetkan dapat terlaksana pada akhir tahun ini, setelah melalui tahap negosiasi harga akhir serta mendapatkan persetujuan resmi dari Komite Kabinet untuk Keamanan (CCS) India.
Kesepakatan 114 jet Rafale untuk Angkatan Udara ini berjalan terpisah dari pengadaan yang dilakukan oleh Angkatan Laut India.
Sebelumnya, Angkatan Laut India juga telah menyepakati pembelian 26 unit Rafale Marine dari Dassault untuk operasional kapal induk mereka pada April tahun lalu.
Saat ini, IAF sudah mengoperasikan 36 unit Rafale yang dibeli melalui perjanjian antarpemerintah pada September 2016 lalu.
Kebutuhan Mendesak
Program Pengadaan Pesawat Tempur Multiperan (MRFA) India, yang mencakup pengadaan 114 jet ini, sangat krusial bagi militer India.
Langkah ini diambil guna menutupi celah kapabilitas udara yang kritis akibat menyusutnya jumlah skuadron tempur IAF secara drastis —dari yang idealnya 42,5 skadron kini merosot hingga ke angka mengkhawatirkan, yaitu 29 skadron.
Modernisasi ini dinilai mendesak di tengah dinamika regional, mengingat negara tetangga, Pakistan, saat ini sedang dalam proses mengakuisisi 40 unit jet tempur generasi kelima J-35.
Di sisi lain, India juga terus mendorong industri domestik Hindustan Aeronautics Ltd (HAL) untuk mempercepat pengiriman jet tempur lokal Tejas Mk-1A, sembari menyiapkan pengembangan jet siluman masa depan mereka, AMCA (Advanced Medium Combat Aircraft), yang diperkirakan baru siap beroperasi pada tahun 2035. (PN)
