Angkatan Laut AS memulai kembali uji coba penembakan railgun, berkecepatan 5 Mach dan jangkauan 185 km
NSSC AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut AS (USN) kembali melanjutkan pengujian sistem senjata railgun elektromagnetiknya pada Februari 2025 di White Sands Missile Range di New Mexico. Informasi ini diungkapkan oleh Naval Sea Systems Command (NSSC).
Upaya pengujian yang diperbarui ini dilakukan setelah program railgun sebagian besar dihentikan selama beberapa tahun karena kendala anggaran dan perubahan prioritas pengembangan.
Uji coba terbaru selama tiga hari ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data teknis yang dibutuhkan guna mengevaluasi kinerja senjata berkecepatan tinggi tersebut dalam kondisi terkontrol.
Railgun elektromagnetik ini menggunakan arus listrik kuat untuk menciptakan medan magnet yang mempercepat proyektil logam padat meluncur hingga kecepatan sangat tinggi.
Tidak seperti sistem artileri tradisional, railgun meluncurkan proyektil tanpa menggunakan propelan kimia. Sebaliknya, senjata ini mengandalkan energi listrik yang tersimpan dalam kapasitor yang dilepaskan melalui rel konduktif.
Ketika arus melewati rel, sistem ini menciptakan gaya elektromagnetik yang mendorong proyektil ke depan dengan kecepatan sangat tinggi.hingga 5 Mach dan melesat hingga jarak 100 mil laut (185 km).
Karena proyektil tersebut tidak mengandung bahan peledak, senjata ini mengandalkan energi kinetik yang dihasilkan oleh kecepatannya untuk menghantam dan merusak target yang disasarnya.
Konsep railgun elektromagnetik ini telah menarik perhatian USN pada awal tahun 2000-an sebagai senjata potensial yang mampu menyerang target pada jarak jauh melebihi jangkauan senjata konvensional.
Penelitian mengenai teknologi ini secara resmi dimulai pada tahun 2005 di bawah naungan Kantor Penelitian Angkatan Laut (Office of Naval Research), yang mendanai sistem eksperimental awal untuk menunjukkan kelayakan teknologi peluncuran elektromagnetik.
Selama beberapa tahun berikutnya, program railgun menghadapi berbagai tantangan teknik dan pendanaan.
Upaya pengembangan berulang kali dihentikan atau dikurangi karena USN mengevaluasi prioritas modernisasi yang bersaing dan hambatan teknis.
USN sendiri menguji dua prototipe railgun selama fase awal program tersebut. Satu desain dikembangkan oleh BAE Systems, sementara prototipe lainnya diproduksi oleh General Atomics.
Kedua sistem tersebut menggunakan prinsip dasar peluncuran elektromagnetik yang sama, mempercepat proyektil padat meluncur menggunakan gaya magnet yang dihasilkan oleh arus listrik yang sangat kuat. (RBS)
