Studi Michell Institute: Tahun 2030 AS membutuhkan 200 pembom B-21 Raider dan 300 jet siluman F-47 untuk menghadapi kekuatan China
USAF, Boeing AIRSPACE REVIEW – Mitchell Institute, sebuah lembaga think tank non-profit dan non-partisan yang berbasis di Arlington, Virginia, Amerika Serikat, dalam laporan terbarunya pada bulan Februari 2026 mengatakan Angkatan Udara AS (USAF) membutuhkan tambahan 500 pesawat pembom siluman dan jet tempur generasi keenam.
Jumlah tersebut, yang terdiri dari 200 pembom B-21 Raider dan 300 jet tempur F-47, adalah kebutuhan minimal bagi AS di tahun 2030 untuk dapat menghadapi kekuatan militer China yang tumbuh sangat cepat.
Studi tersebut menjadi peringatan keras bagi pemerintahan AS, khususnya terkait dengan rencana peningkatan kekuatan USAF.
Ditandaskan bahwa kekuatan AS saat ini masih terlalu lemah untuk mencegah kekalahan operasional di Pasifik Barat.
Didirikan tahun 2007 sebagai bagian dari Air & Space Forces Association (AFA), Mitchell Institute atau nama lengkapnya Mitchell Institute for Aerospace Studies, melaksanakan penelitian mendalam tentang bagaimana kekuatan udara dan antariksa harus digunakan dalam konflik modern.
Lembaga ini dinamai Mitchell Institute untuk menghormati Brigadir Jenderal William “Billy” Mitchell, yang dianggap sebagai Bapak Angkatan Udara AS.
Laporan terbaru tersebut menggarisbawahi perbedaan antara pasukan yang hanya mampu melakukan serangan singkat (raid) dengan pasukan yang mampu memenangkan perang jangka panjang (campaign).
Seperti diketahui, Pentagon sebelumnya telah mencanangkan untuk pengadaan 100 pembom B-21 Raider (penerus B-2 Spirit), dan 185 jet tempur generasi keenam (NGAD) F-47.
Target baru ini, lanjut Mitchell Institute, dihitung berdasarkan tingkat kesiapan yang rendah, yaitu hanya sekitar 62% pesawat USAF yang siap terbang.
“Jika terjadi perang, AS tidak memiliki cadangan yang cukup untuk menanggung kerugian pesawat (attrition),” jelas lembaga pemikir tersebut.
Dalam studinya tersebut, dikatakan bahwa China tidak hanya mengandalkan jumlah pesawat yang banyak dan modern, tetapi membangun lingkungan pertahanan yang sulit ditembus.
Beijing memiliki sistem A2/AD (Anti-Access/Area Denial) yang tangguh, yakni rudal jarak jauh dan pertahanan udara berlapis untuk mengunci wilayah Pasifik.
China juga menggunakan daratannya sebagai basis belakang yang terlindungi, sehingga memaksa AS harus memiliki pesawat dengan jarak tempuh jauh dan daya tahan tinggi, seperti B-21 dan F-47.
Untuk menyiapkan armada tambahan ini, dikatakan bahwa AS membutuhkan tambahan anggaran sekitar 40 miliar USD (sekitar Rp674,52 triliun) per tahun.
Amerika Serikat harus berpacu dengan waktu karena untuk memproduksi 500 pesawat tambahan secara operasional sebelum 2030 sangatlah sulit akibat siklus industri yang lambat.
Sebagai jalan keluarnya, Mitchell Institute merekomendasikan solusi jangka pendek, yaitu menunda pensiun pesawat lama, meningkatkan kecepatan pembelian F-35 Lightning II dan F-15EX Eagle II, serta mempercepat penggunaan pesawat tempur kolaboratif (CCA). (RNS)

Dipikir as B21 dan F 47 itu siluman yg tak terlihat 🤣 dia cuman siluman di radar tertentu ydk radar khusus apalagi dgn mata langit jelas kliatan lah
Sujar bagu AS mengejar ketinggalan dari CHINA karena biaya operasional keterlibatan mikiterb AS diseluruh dunia, sementara China sedikit mempunyai pangkalan militer di LN
Semakin banyak senjata di buat semakin besar potensi membuat kerusakan di muka bumi