Wuih! Pertama Kali KF-21 Terbang Formasi dengan U-2 Dragon Lady: Friendship Flight Soliditas AS-Korsel
7th Air ForceAIRSPACE REVIEW – Sebuah pemandangan langka sekaligus bersejarah tersaji di angkasa Laut Barat. Jet tempur supersonik buatan dalam negeri Korea Selatan, KF-21 Boramae, milik Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF) untuk pertama kalinya sukses terlibat dalam penerbangan formasi gabungan bersama pesawat pengintai strategis berelevasi tinggi milik Amerika Serikat, U-2S Dragon Lady, baru-baru ini.
Aksi udara dalam misi Friendship Flight ini menjadi simbol nyata dari makin eratnya soliditas militer dan diplomasi pertahanan antara Washington dan Seoul di tengah dinamika keamanan kawasan yang terus berkembang.
Penerbangan formasi multilapis ini melibatkan jet tempur KF-21 dari Skuadron Tempur ke-156, Wing Tempur ke-16 ROKAF, yang terbang bersisian dengan U-2S Dragon Lady, serta jet tempur F-35 Lightning II dan F-16 Fighting Falcon milik Angkatan Udara AS (USAF). Tak ketinggalan, ROKAF juga mengerahkan armada F-35, F-15K Slam Eagle, dan FA-50 Fighting Eagle untuk mengawal momen bersejarah tersebut.
Jelang Latihan Freedom Flag 26-2
Penerbangan gabungan ini digelar persis menjelang dimulainya latihan udara bersama dwitahunan berskala besar bertajuk Freedom Flag 26-2. Pihak ROKAF, dikutip Yonhap, menjelaskan bahwa integrasi udara ini bertujuan untuk membangun pengalaman operasional sekaligus memverifikasi kesiapan taktis sistem persenjataan KF-21 sebelum resmi beroperasi penuh.
Senada dengan pernyataan ROKAF, Angkatan Udara Ke-7 AS menyatakan bahwa penerbangan ini mendemonstrasikan interoperabilitas gabungan dan kesiapan tempur.
“Penerbangan persahabatan ini mendemonstrasikan interoperabilitas gabungan dan kesiapan tempur pasukan Angkatan Udara AS dan ROKAF di Semenanjung Korea, menunjukkan bagaimana angkatan udara kedua negara terintegrasi secara langsung selama operasi penerbangan,” tulis siaran resminya.
Standar NATO
Kehadiran U-2S dalam formasi ini memberikan nilai taktis tersendiri bagi pengujian sistem penerbangan Boramae. Mengingat U-2S beroperasi di ketinggian ekstrem untuk pengumpulan intelijen pencitraan dan sinyal (SIGINT/IMINT), keterlibatan jet tempur KF-21 dalam misi pengawalan dan koordinasi udara bersamanya membuktikan keandalan sistem komunikasi data-link serta integrasi radar AESA buatan Korsel ketika beroperasi dalam ekosistem pertempuran berjejaring (network-centric warfare) standar NATO.
Integrasi taktis di udara ini juga menjadi respons langsung terhadap peningkatan eskalasi militer dan manuver provokatif di Semenanjung Korea. Dengan memamerkan kolaborasi antara platform pengintai strategis AS dan jet tempur generasi 4.5 terbaru buatan Korsel, kedua negara mengirimkan pesan pertahanan yang kuat (strategic deterrence) kepada pihak lawan bahwa kesiapan tempur aliansi berada pada level tertinggi di seluruh lapisan ketinggian operasional.
Penegasan Aliansi di Tingkat Politik
Sinergi di udara ini berjalan seiring dengan penguatan komitmen di meja diplomasi. Pertemuan tatap muka pertama antara Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kang Shin-cheol, dan Menteri Perang AS, Pete Hegseth, di sela-sela ADMM-Plus ke-13 di Cebu, Filipina, kian mempertegas daya gentar aliansi kedua negara.
Dalam pembicaraan berdurasi 40 menit tersebut, Menhan Kang menegaskan bahwa kekuatan Aliansi Korsel-AS tidak dapat dan tidak boleh digoyahkan. Kedua negara juga sepakat menggelar pertemuan menteri pertahanan susulan di Washington, D.C. pada Desember mendatang, serta menyelaraskan proses pengalihan Kontrol Operasional Masa Perang (OPCON) pada tahap evaluasi Kemampuan Operasional Penuh (FOC).
Pertemuan diplomatik tingkat tinggi ini sekaligus menggarisbawahi pentingnya kemandirian industri pertahanan Korea Selatan yang tetap selaras dengan arsitektur keamanan Amerika Serikat.
Keberhasilan KF-21 beralih dari fase prototipe menuju integrasi operasional bersama USAF menunjukkan bahwa program modernisasi alutsista Seoul tidak mengurangi ketergantungan atau melonggarkan aliansi, melainkan justru memperkuat kontribusi Korea Selatan sebagai mitra seimbang dalam menjaga kestabilan keamanan kawasan Indo-Pasifik.
Calon Tulang Punggung Udara Korsel
Momen Friendship Flight ini sekaligus menandai babak baru bagi program KF-21 yang diinisiasi sejak 2015 untuk menggantikan armada tua F-4 Phantom II dan F-5E/F Tiger II. Setelah menyelesaikan masa pengembangan pertengahan tahun ini, unit produksi massal pertamanya telah diserahkan ke Pangkalan Udara Yecheon pada September lalu.
Dengan target penempatan operasional penuh pada pertengahan hingga akhir tahun depan, ROKAF berencana menambah sedikitnya 100 unit KF-21 secara bertahap hingga awal dekade 2030-an untuk dijadikan sebagai tulang punggung utama kekuatan tempur udara mereka.
Di luar kebutuhan domestik ROKAF, kesuksesan uji formasi dan interoperabilitas dengan aset strategis militer AS ini diproyeksikan akan semakin meningkatkan daya tawar KF-21 Boramae di pasar ekspor pertahanan global.
Keberhasilan pengujian lapangan ini membuktikan kepada calon negara pengguna bahwa KF-21 bukan sekadar jet tempur canggih berbiaya efisien, melainkan platform penerbangan yang teruji sanggup beroperasi mulus berdampingan dengan alutsista berstandar tertinggi milik militer Amerika Serikat. (RNS)
