AIRSPACE REVIEW – BAE Systems mengumumkan telah memenangkan kontrak dari Pangkalan Angkatan Udara Robins di Georgia untuk mendukung dan memodernisasi sistem pertahanan canggih (Advanced Defensive System/ADS) pesawat intai U-2 Dragon Lady milik Angkatan Udara AS (USAF).
Berdasarkan kesepakatan tersebut, perusahaan pertahanan dari Inggris tersebut akan bertanggung jawab untuk mempertahankan performa sistem AN/ALQ-221 ADS melalui dukungan servis lapangan berkelanjutan, perbaikan sistem, serta pembaruan perangkat lunak (software).
Langkah ini bertujuan agar armada U-2 USAF mampu mendeteksi dan menghadapi ancaman elektronik yang terus berkembang di wilayah udara yang diperebutkan.
Sistem AN/ALQ-221 merupakan paket peperangan elektronik (EW) terintegrasi yang menyediakan peringatan radar dan tindakan pencegahan elektronik (countermeasures).
Sistem ini sangat krusial bagi kelangsungan hidup U-2 saat menjalankan misi Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (ISR) pada ketinggian di atas 70.000 kaki.
Dengan sensor jarak jauh dan pemrosesan data di dalam pesawat, sistem AN/ALQ-221 akan memberikan kesadaran situasional serta perlindungan mandiri bagi pilot terhadap sistem pertahanan udara lawan yang canggih.
Tim Angulas, Direktur Area Produk U-2 di BAE Systems, menyatakan modernisasi ini adalah bagian dari warisan panjang perusahaan dalam teknologi peperangan elektronik.
“Berevolusi, memodernisasi, dan mempertahankan sistem EW adalah DNA kami. Upaya kami memastikan sistem ini dapat beroperasi secara efektif sepanjang siklus hidupnya,” ujarnya dikutip dalam rilis perusahaan.
Meskipun U-2 telah beroperasi selama tujuh dekade sejak tahun 1956, desain modular dan arsitektur avionik terbukanya memungkinkan BAE Systems untuk dengan cepat mengembangkan dan menguji kemampuan baru.
Modernisasi ini memastikan bahwa meskipun USAF berencana untuk mulai memensiunkan armada U-2 di masa depan, pesawat ini tetap memiliki kemampuan tempur yang mumpuni selama masih berada dalam inventaris aktif.
Pekerjaan pemeliharaan dan pengembangan sistem ini akan dipusatkan di fasilitas BAE Systems di Nashua, New Hampshire, dengan dukungan perwakilan teknis yang tersebar di berbagai pangkalan operasi di seluruh dunia.
New Hampshire merupakan salah satu pusat keunggulan BAE Systems di Amerika, terutama untuk teknologi EW.
Cegah Perang Nuklir
Pesawat U-2 Dragon Lady dibuat oleh divisi rahasia Lockheed yang dikenal sebagai Skunk Works di bawah kepemimpinan desainer legendaris Clarence “Kelly” Johnson pada pertengahan era 1950-an.
Pesawat ini dirancang dengan struktur yang sangat ringan dan sayap panjang menyerupai pesawat glider agar mampu terbang stabil di stratosfer, melampaui jangkauan radar dan rudal pertahanan udara lawan pada masa Perang Dingin.
Meskipun awalnya ditujukan sebagai alat pengintai sementara sebelum satelit tersedia, keandalan desainnya membuat pesawat ini terus bertransformasi melewati berbagai zaman.
Secara teknis, varian modern seperti U-2S ditenagai oleh mesin General Electric F118-101 yang memungkinkannya menjelajah hingga jarak lebih dari 11.000 km dengan kecepatan sekitar 760 km/jam.
Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan terbang di ketinggian ekstrem, di mana pilot harus mengenakan pakaian bertekanan penuh layaknya astronot untuk bertahan hidup.
Kemampuan sensor modularnya yang fleksibel memungkinkan pesawat ini menangkap data intelijen elektronik dan citra visual dengan ketajaman yang sering kali melampaui kemampuan satelit orbit bumi.
Dalam panggung sejarah dunia, Dragon Lady memegang peranan yang sangat krusial sekaligus penuh risiko.
Pesawat ini menjadi pusat perhatian global saat insiden jatuh tertembaknya pilot Francis Gary Powers di wilayah Uni Soviet pada 1960.
Peristiwa tersebut kemudian memicu ketegangan diplomatik luar biasa antara dua negara adidaya.
Selain itu, U-2 merupakan aktor kunci di balik terungkapnya bukti keberadaan rudal nuklir Uni Soviet selama Krisis Rudal Kuba tahun 1962, di mana penemuan ini berhasil mencegah dunia terperosok ke dalam perang nuklir.
Hingga hari ini, melalui modernisasi sistem pertahanan dari BAE Systems, jet intai legendaris U-2 tetap menjadi mata di langit yang tak tergantikan bagi militer Paman Sam. (RF)

