Hadapi 600 Jet Tempur Siluman China dan Pakistan, India Perlu Setidaknya 500 Su-57E
ROEAIRSPACE REVIEW – Laporan analisis terbaru yang dirilis Pusat Analisis Perdagangan Senjata Dunia (TSAMTO/CAWAT) yang berbasis di Moskow menyoroti penurunan kuantitatif dan kualitatif armada Angkatan Udara India (IAF). Situasi ini dinilai memprihatinkan di tengah modernisasi masif yang dilakukan rival geopolitiknya, Pakistan dan China.
Analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Natsionalnaya Oborona edisi Oktober 2026 tersebut menyebutkan bahwa kebijakan pengadaan alutsista India beberapa tahun terakhir menjadi pemicu utama. New Delhi dinilai terlalu berfokus pada pembelian pesawat generasi keempat seperti Dassault Rafale dari Prancis dan jet tempur buatan dalam negeri LCA Tejas, yang dinilai kurang relevan menghadapi ancaman udara masa depan.
Ancaman Generasi Kelima
Laporan TSAMTO menggarisbawahi bahwa pada ambang tahun 2030, Pakistan dan China diperkirakan bakal mengoperasikan sekitar 600 unit jet tempur generasi kelima. Angka tersebut mencakup setidaknya 40 unit J-35AE milik Pakistan, serta sekitar 500 unit J-20 dan J-35 milik Angkatan Udara dan Angkatan Laut China (PLAAF dan PLAN).
Sebaliknya, India masih mengandalkan Rafale dan Tejas. Dari segi spesifikasi teknis, Rafale —yang dibeli dengan harga fantastis mencapai 160 juta euro per unit— maupun Tejas dinilai tidak lebih unggul dibanding armada utama IAF saat ini, Su-30MKI. Pesawat Su-30MKI unggul dalam hal kecepatan, kelincahan, beban muatan, hingga radius tempur.
Penggunaan rudal jarak jauh canggih seperti PL-15 dan PL-17 pada jet tempur stealth China dan Pakistan juga menjadi ancaman serius. Jet generasi keempat India diprediksi akan mengalami kesulitan besar dalam menghadapi platform siluman yang dilengkapi radar AESA broadband dan rudal jarak jauh tersebut.
Keterlambatan Program Dalam Negeri
Program jet tempur dalam negeri India juga tak luput dari sorotan. LCA Tejas yang dikembangkan sejak 1983 untuk menggantikan MiG-21 dianggap terlambat dan belum matang secara teknis. Hingga 2026, IAF baru mengoperasikan dua skuadron Tejas (30 unit kursi tunggal dan 6 unit kursi ganda) yang masih terus menjalani pembenahan akibat sejumlah insiden kecelakaan, termasuk yang menewaskan pilotnya di Dubai Airshow pada November 2025.
Pengembangan varian angkatan laut (LCA-Navy) juga resmi ditolak Angkatan Laut India karena masalah kurangnya rasio dorong terhadap bobot serta sayap yang tidak bisa dilipat. Hal ini mendorong munculnya proyek baru TEDBF yang diperkirakan baru bisa terbang pada 2032 dan diproduksi massal pada 2038 —jauh tertinggal dibanding pengoperasian jet siluman J-35 di kapal induk China.
Selain keterlambatan, proyek Tejas dinilai kehilangan arah kemandiriannya karena bergantung pada mesin pabrikan Amerika Serikat pasca-kegagalan pengembangan mesin Kaveri. Sementara itu, program jet generasi kelima nasional India, AMCA (Advanced Medium Combat Aircraft), diproyeksikan baru bisa masuk jalur produksi paling cepat pada 2035 atau 2036.
Skema Fast-Track dan Lisensi Su-57E
Sebagai langkah keluar dari krisis keseimbangan kekuatan udara, TSAMTO menilai India perlu mengambil keputusan strategis dengan mengadopsi jet tempur generasi kelima Su-57E buatan Rusia. Skema yang ditawarkan mencakup pembelian cepat sebanyak 50 unit Su-57E langsung dari Rusia, disertai lisensi produksi untuk 450 unit tambahan yang dirakit oleh Hindustan Aeronautics Limited (HAL) di dalam negeri, termasuk varian kursi ganda terbaru Su-57D.
Pengadaan Su-57E dinilai menawarkan sejumlah keuntungan strategis yang signifikan bagi India. Dari sisi kesiapan operasional, pesawat ini telah terbukti andal dalam pertempuran nyata serta telah memasuki tahap produksi massal dan pengiriman global.
Keunggulan tersebut semakin diperkuat oleh faktor kesinambungan infrastruktur, di mana Su-57 dirancang oleh biro desain Sukhoi yang sebelumnya juga membidani lahirnya Su-30MKI, sehingga transisi logistik, perawatan, hingga pelatihan pilot dapat dioptimalkan menggunakan fasilitas yang sudah ada. Selain itu, kerja sama ini membuka peluang transfer teknologi yang dapat membantu mempercepat penyelesaian proyek jet tempur domestik India, termasuk program AMCA.
Terakhir, dari segi performa tempur, Su-57 menghadirkan kemampuan siluman sejati yang didukung radar H-036 Belka dan rudal jarak jauh RVV-BD, yang memberikan keunggulan taktis yang melampaui batasan kecepatan jelajah super yang kerap dikritik pada pesawat sekelas F-35.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa pengalihan anggaran dari pengadaan jet tempur generasi keempat menuju kemitraan strategis Su-57E merupakan opsi paling rasional bagi New Delhi untuk menjaga paritas militer di kawasan Asia Selatan dan mengukuhkan statusnya sebagai kekuatan utama dunia. (AF)
