Teknologi Kebal Jamming dan Serangan Malam di Balik Akuisisi 60.000 Drone Kamikaze AS
US ArmyAIRSPACE REVIEW – Departemen Perang Amerika Serikat (DoW) tengah mempersiapkan pesanan massal sebanyak 60.000 unit drone serang sekali pakai (drone kamikaze) dari sembilan perusahaan teknologi pertahanan. Langkah strategis ini diambil setelah selesainya ajang uji coba Gauntlet II, yang merupakan putaran kedua dari Drone Dominance Program.
Dalam kompetisi tersebut, perusahaan Perennial Autonomy dan Neros berhasil mendominasi daftar peringkat dan masing-masing berhak menerima kuota pesanan awal tertinggi sebanyak 8.000 drone.
Pengumuman hasil pengujian ini disampaikan oleh Defense Innovation Unit (DIU) yang mengelola program tersebut bersama Test Resource Management Center, menyusul evaluasi ketat yang dilakukan selama sebulan penuh pada Agustus 2026 di Fort Carson, Colorado.
Pemenang Kompetisi
Total pesanan tersebut dibagi secara merata ke dalam dua kategori misi utama, yaitu Deep Strike (serangan jarak jauh) dan Close Quarters Battle (pertempuran jarak dekat), dengan alokasi masing-masing sebanyak 30.000 drone.
Besaran pesanan yang diterima setiap produsen disesuaikan dengan peringkat akhir mereka pada masing-masing kategori.
Pada misi Deep Strike, Perennial Autonomy memimpin dengan skor 80,1 dan mendapatkan 8.000 unit, disusul oleh Hyperscale (7.000 unit), Neros (6.000 unit), Skycutter (5.000 unit), dan Swarm Defense Technologies (4.000 unit).
Sementara itu, pada kategori Close Quarters Battle, Neros mencatatkan skor tertinggi sebesar 88,1 dan mengamankan 8.000 unit, diikuti oleh ORQA US (7.000 unit), XTEND (6.000 unit), Vector (5.000 unit), dan ModalAI (4.000 unit).
Pencapaian ini menjadikan Neros sebagai satu-satunya perusahaan yang berhasil masuk dalam jajaran pemenang di kedua kategori sekaligus, sehingga mengantongi total alokasi hingga 14.000 drone.
Standar Pengujian
DoW menginformasikan, proses pengujian pada Gauntlet II menerapkan skenario misi find-fix-finish, di mana drone dituntut untuk mampu menemukan, mengonfirmasi, hingga menghancurkan target sasaran.
Pengujian untuk kategori Deep Strike mewajibkan drone menembus dan menghantam target dari jarak sejauh 15 kilometer.
Di sisi lain, kategori pertempuran jarak dekat menguji kelincahan serta keandalan manuver drone di dalam ruang-ruang sempit seperti bangunan, termasuk pengujian pada kondisi malam hari.
Tidak hanya itu, seluruh drone juga diuji dalam mengatasi serangan perang elektronik (electronic warfare) dari sistem antidrone yang berusaha melakukan jamming atau melumpuhkan mereka.
Penilaian akhir tidak semata-mata mengandalkan performa terbang, melainkan juga menggabungkan evaluasi langsung dari operator militer serta penilaian atas kapasitas manufaktur dan keamanan rantai pasok masing-masing produsen.
Setiap Regu Dilengkapi Drone Kamikaze
Program ambisius ini berakar dari instruksi Sekretaris Pertahanan Pete Hegseth pada Juli 2025 yang menargetkan agar setiap regu Angkatan Darat AS (US Army) sudah dibekali drone serang sekali pakai pada akhir tahun fiskal 2026.
Pemerintah AS merencanakan total anggaran sekitar 1,1 miliar USD (sekitar Rp17,6 triliun) yang tersebar dalam empat fase guna memperkuat basis industri domestik untuk drone murah berstatus expendable (habis pakai).
Info Lainnya: US Army menguji drone kamikaze Atlas dengan jangkauan 130 km
Sejalan dengan upaya memperketat keamanan nasional, syarat pada fase kedua ini secara tegas melarang penggunaan komponen vital seperti motor dan baterai dari negara-negara tertentu, khususnya Tiongkok.
Setelah kesuksesan Gauntlet II, pihak berwenang bersiap melanjutkan ke tahap Gauntlet 2.5 yang berfokus pada drone pengebom pembawa amunisi, sebelum nantinya menggelar Gauntlet 3 dalam kurun waktu enam bulan mendatang.
Pergeseran Doktrin Pertahanan dan Kemandirian Industri
Bila disimak, langkah agresif DoW tersebut menandai terjadinya pergeseran doktrin militer secara signifikan dari ketergantungan pada alutsista konvensional berbiaya tinggi menuju pengadopsian teknologi taktis berbiaya rendah namun mematikan (low-cost expendable weapons).
Pengalaman dari konflik modern di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa dominasi medan tempur kini sangat ditentukan oleh kuantitas dan fleksibilitas drone murah.
Dengan menargetkan setiap regu taktis dilengkapi drone serang sekali pakai, AS sedang memperluas jangkauan tempur infantri di garis depan secara massal, sekaligus memangkas biaya operasional per penghancuran target (cost-per-kill) dalam menghadapi potensi perang berskala besar.
Di sisi lain, kebijakan ini mencerminkan urgensi AS untuk melepaskan diri dari ketergantungan rantai pasok industri pertahanan Tiongkok.
Larangan penggunaan komponen vital seperti baterai dan motor asal Tiongkok dalam kompetisi Gauntlet II merupakan sinyal tegas untuk merestrukturisasi ekosistem manufaktur dalam negeri.
Melalui skema kompetisi terbuka dan alokasi pesanan bertahap, pemerintah AS secara tidak langsung memacu inovasi cepat di sektor swasta serta membina industri pertahanan domestik yang adaptif, tangguh, dan siap menghadapi ancaman gangguan rantai pasok global di masa depan. (RNS)
