NYT: Jet Tempur Pakistan Gabung Arab Saudi Gempur Houthi di Yaman

JF-17 Block IIIIstimewa
Jet tempur JF-17 Block III Thunder.

AIRSPACE REVIEW – Jet-jet tempur Angkatan Udara Pakistan (PAF) diberitakan mulai terlibat dalam operasi serangan udara mengepung posisi milisi Houthi di Yaman.

Langkah ini menandai sinyal pertama keterlibatan langsung militer Pakistan dalam mendukung koalisi Arab Saudi melawan kelompok yang disokong Iran tersebut.

Seorang pejabat senior militer Pakistan mengonfirmasi keterlibatan armada tempur mereka kepada The New York Times (NYT).

Pejabat lainnya menambahkan bahwa peran Pakistan akan difokuskan pada dukungan udara (air support) untuk meredam ancaman drone dan rudal Houthi.

Meski demikian, pejabat tersebut menepis kemungkinan diterjunkannya pasukan darat Pakistan ke dalam wilayah Yaman.

Hingga saat ini, belum ada rincian resmi mengenai jumlah jet tempur yang dikerahkan, target yang diserang, maupun lokasi pasti koordinat operasi. Pihak militer Pakistan juga masih enggan memberikan komentar resmi.

Perjanjian Pertahanan Bersama

Keterlibatan militer Pakistan ini mengemuka setelah Arab Saudi, Pakistan, dan Turki sepakat mengaktifkan Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah (Mecca Joint Defense Agreement) dalam pertemuan darurat di Riyadh.

Pakta pertahanan yang ditandatangani pada 7 Agustus lalu tersebut diaktifkan untuk pertama kalinya guna menerapkan langkah-langkah penangkalan kolektif (collective deterrence) serta mempercepat penempatan pasukan Pakistan dan Turki di Arab Saudi.

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, mengonfirmasi pasukan Pakistan telah mengambil peran, meski ia tidak menjawab secara eksplisit saat ditanya mengenai partisipasi serangan langsung di Yaman.

Sementara itu, juru bicara militer Pakistan, Letjen Ahmed Sharif Chaudhry, menegaskan bahwa penempatan penderitaan militer di Arab Saudi bersifat defensif.

Mantan atase militer AS di Pakistan, Kolonel (Purn) David O. Smith, memperkirakan sekitar 8.000 prajurit Pakistan, termasuk unit pertahanan udara, telah ditempatkan di Arab Saudi.

Menurutnya, fokus utama pasukan tersebut adalah melindungi infrastruktur minyak penting Kerajaan Arab Saudi.

Picu Ketegangan Regional

Langkah koalisi ini dipicu oleh serangkaian serangan rudal dan drone Houthi yang menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta Bandara Internasional Abha pada 7 Oktober.

Serangan tersebut mengakibatkan tiga orang tewas dan 36 lainnya luka-luka. Sebagai balasan, koalisi mengerahkan sekitar 100 jet tempur untuk menggempur puluhan pangkalan militer, fasilitas penyimpanan rudal, dan pusat komando Houthi di Yaman.

Baca di Sini: Houthi Hujani Bandara Riyadh dengan Rudal, Lebih 300 Penerbangan Dibatalkan

Konflik yang kian memanas ini membawa dampak kemanusiaan yang signifikan, di mana lembaga PBB mencatat hampir 200.000 warga di Yaman telah terpaksa mengungsi sejak awal September.

Di sisi lain, potensi keterlibatan Pakistan berisiko merenggangkan hubungannya dengan negara tetangga, Iran.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan harapannya agar laporan mengenai pengerahan pasukan Pakistan ke Yaman tidak benar.

Secara historis, Islamabad selalu menjaga jarak dari konflik Yaman, termasuk menolak permintaan bantuan militer Arab Saudi pada tahun 2015 berdasarkan keputusan parlemen.

Namun, lanskap geopolitik dinilai berubah setelah Pakistan dan Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan bilateral pada September 2025, yang kemudian diperluas mencakup Turki melalui Perjanjian Mekkah. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *