Bumerang Maut di Selat Formosa: Torpedo yang Diluncurkan Berputar Balik Menyerang USS Tang
US NavyAIRSPACE REVIEW – Di tengah membaranya kancah Perang Pasifik, USS Tang (SS-306) tampil sebagai salah satu kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) yang paling perkasa dan ditakuti musuh.
Kapal selam bertubuh raksasa tersebut menjalankan peran vital sebagai gugus tugas pembawa prajurit dan perlengkapan perang yang melintasi ganasnya Samudra Pasifik.
Ketangguhannya terbukti saat kapal ini mampu menembus perairan pertahanan musuh hingga mendekati daratan utama Jepang. Seluruh armada pelayaran militer maupun logistik Jepang dibuat kewalahan oleh pergerakannya yang tak terdeteksi.
Di bawah komando Letnan Kolonel (Letkol) Laut Richard H. O’Kane, USS Tang mencatatkan prestasi gemilang yang amat sulit ditandingi oleh kapal perang Amerika lainnya pada masa itu.
Setiap pelayaran patrolinya selalu membawa pulang hasil buruan yang fantastis bagi pihak Sekutu.
Reputasi O’Kane sebagai ahli taktik perang bawah laut menjadikan USS Tang sebagai ujung tombak serangan siluman. Namun, kejayaan luar biasa tersebut harus menemui titik balik secara tak terduga!
Patroli Kelima di Selat Formosa
Memasuki bulan kedelapan masa operasinya, USS Tang melakukan patroli kelimanya di salah satu lokasi perburuan favorit mereka, yaitu perairan Selat Formosa.
Selat Formosa atau Selat Taiwan adalah jalur perairan yang memisahkan daratan utama Tiongkok (Provinsi Fujian) di sebelah barat dengan Pulau Taiwan di sebelah timur.
Saat fajar menyingsing pada 25 Oktober 1944, kapal tersebut berlabuh dan bersiap melancarkan serangan kejutan selanjutnya.
Suasana di dalam kapal diselimuti optimisme tinggi karena pencapaian misi yang sudah melampaui target. Sang kapten kapal pun merasa sangat puas dengan kinerja operasional seluruh awak kapalnya.
Rekor kejayaan Tang memang tak terbantahkan sepanjang perjalanan patroli tersebut. Hanya dalam rentang dua malam sebelum fajar di hari itu, O’Kane dan timnya berhasil melancarkan serangkaian serangan permukaan yang menghancurkan tiga kapal tangki dan dua kapal pengangkut musuh.
Keberanian melancarkan serangan di permukaan laut saat malam hari menjadi ciri khas kepemimpinan O’Kane yang sangat agresif. Pergerakan cepat ini melumpuhkan jalur pasokan logistik vital lawan.
Serangan Beruntun
Pada tengah malam 24 Oktober, radar USS Tang menangkap pergerakan konvoi iring-iringan kapal Jepang lainnya.
O’Kane dengan kapal selamnya terus membayangi target tersebut hingga kegelapan malam semakin pekat.
Tembakan torpedo pertama berhasil merobek salah satu kapal perang pengawal iring-iringan armada Jepang tersebut. Serangan beruntun itu membuat barisan kapal musuh kocar-kacir di lautan.
Serangan beruntun dilanjutkan dengan menghantam kapal dagang Jepang, Matsumoto Maru, yang berbobot 7.024 ton hingga meledak hebat.
Bagian buritan kapal dagang tersebut tenggelam terlebih dahulu sebelum akhirnya seluruh badan kapal tertelan samudera.
Kehancuran Matsumoto Maru menambah daftar panjang korban keganasan sang pemburu bawah laut.
Kehancuran kapal tersebut mengukuhkan rekor fantastis USS Tang, yaitu menenggelamkan total 24 kapal musuh dengan bobot kumulatif mencapai 93.184 ton.
Dapat dikatakan, US Navy tidak memiliki kapal selam lain yang mampu menyamai pencapaian monumental ini dalam kurun waktu delapan bulan saja. Seluruh awak kapal merasa bangga atas pencapaian luar biasa yang baru saja mereka raih.
Namun, kesuksesan luar biasa itu menyisakan satu masalah kecil di mana USS Tang hanya memiliki satu torpedo tersisa di peluncurnya.
Bintara Senior Bill Leibold, salah satu awak kapal, sempat berseloroh agar torpedo terakhir itu disimpan saja sebagai cenderamata perjalanan.
Namun, O’Kane membulatkan tekad untuk memaksimalkan hasil operasi sebelum kembali. Ia berniat menggunakan torpedo terakhirnya itu untuk menghabisi kapal pengawal yang sebelumnya sempat mereka hajar.
O’Kane membawa kapal selam ke posisi tempur baru dengan tenang dan penuh perhitungan. Torpedo terakhir disiapkan di tabung haluan melalui ruangan terpisah.
Kepanikan Tiba-Tiba Menyeruak
Perintah tembak pun akhirnya diberikan dari anjungan kapal. O’Kane membayangkan bahwa setelah pelepasan torpedo itu, USS Tang bisa langsung melaju pulang menuju pangkalan mereka di Pearl Harbor.
Namun, tak lama setelah perintah diluncurkan, suasana tenang di anjungan seketika mendadak berubah menjadi kepanikan. Salah satu dari delapan awak di anjungan berteriak seraya menunjuk ke arah air laut.
Beberapa pasang mata melihat jalur jejak air berpendar yang meluncur deras di kegelapan. Bencana menyapa ketika alur torpedo tersebut malah terlihat menuju langsung ke arah USS Tang di mana mereka berada.
O’Kane yang bersiaga langsung mengambil tindakan darurat untuk mengelak dari hantaman. Kapal selam segera dipacu ke kecepatan maksimum, juru mudi mengendalikan kemudi sekuat tenaga.
O’Kane yang kebingungan mencoba mencari tahu asal serangan tersebut. Namun, tidak ada kapal perang musuh yang berada dalam jarak tembak, dan sistem sonar canggih milik USS Tang pun tidak menangkap gelombang suara keberadaan musuh.
Misteri itu kemudian terkuak di mana penyebabnya adalah kegagalan mekanis senjata mereka sendiri. Torpedo terakhir yang diluncurkan itu rupanya mengalami kerusakan teknis pada sistem roda gigi kemudinya (steering gear).
Bukannya meluncur lurus ke target, senjata pemusnah itu malah bergerak memutar dalam lingkaran besar. Diameter lingkaran itu lambat laun kian menyempit dan berbalik mengepung USS Tang.
Ledakan Dahsyat di Buritan
Di dalam kompartemen terpisah, sebagian besar awak sama sekali tidak menyadari marabahaya yang sedang mengintai. Yang mereka rasakan berikutnya hanyalah guncangan ledakan dahsyat di bagian buritan kapal.
Para awak awalnya menduga kapal mereka telah menyenggol ranjau laut musuh.
Akibat ledakan yang keras itu, tiga awak di ruangan buritan tewas seketika, sementara sisanya pingsan saat air laut mulai membanjiri kompartemen.
Sesaat sebelum torpedo menghantam, O’Kane sempat berteriak memerintahkan agar pintu bawah menara komando segera ditutup rapat.
Sejurus kemudian, ledakan hebat melempar O’Kane beserta delapan awak yang berada di anjungan ke tengah lautan.
Tanpa sempat mengenakan pelampung dan dalam kondisi terluka, hanya empat orang yang sanggup bertahan mengapung di permukaan. Mereka adalah O’Kane, Leibold, Larry Savadkin, dan seorang spesialis radar bernama Floyd Caverly.
Sementara itu, air laut berton-ton masuk dengan cepat, menyeret buritan USS Tang jatuh ke dasar laut sedalam 180 kaki dengan kecepatan mengerikan.
Benturan keras terjadi ketika bagian belakang kapal menabrak dasar samudera, meninggalkan bagian haluan kapal yang masih sedikit menonjol di atas permukaan.
Di dalam ruangan yang terperangkap, kondisi berubah menjadi sangat kacau akibat asap kabel terbakar dan uap panas.
Seorang mekanik laut bernama Clayton Oliver mengambil langkah berani dengan mengendalikan tangki pemberat No. 2 guna menstabilkan posisi kapal yang mulai tenang.
Tindakannya berhasil memberi kesempatan bagi para survivor untuk merencanakan evakuasi menggunakan alat bantu pernapasan darurat Momsen Lung.
Namun, perjuangan mereka makin berat ketika kapal pengawal Jepang mulai melepaskan bom laut (depth charge) secara acak selama empat jam penuh.
Gelombang kejut ledakan bawah air tersebut menyebabkan gegar otak parah dan pingsan pada para awak yang terperangkap.
Di bawah arahan kepala petugas torpedo, Jim Flanagan dan Ensign Pearce, prosedur evakuasi darurat dijalankan secara bertahap lewat ruangan paking kedap air.
Awak kapal dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk naik ke permukaan menggunakan perahu karet dan kabel pelampung.
Namun, proses tersebut berjalan sangat lambat dan penuh keputusasaan. Banyak awak yang gugur karena kehabisan oksigen atau pingsan di dalam ruangan akibat kebakaran baterai yang kian meluas.
Pintu darurat akhirnya tak bisa lagi diakses ketika cat dinding sekat melepuh dan paking karet segel pintu (rubber gasket) mulai terbakar serta mengepulkan asap beracun.
Harapan bagi mereka yang masih tertinggal di dalam reruntuhan USS Tang pun sirna sepenuhnya. Semua akses evakuasi tertutup rapat oleh kerusakan struktur kapal yang parah.
Dari total 88 awak kapal selam USS Tang, hanya 15 orang yang berhasil keluar dan selamat sampai ke permukaan, sebelum akhirnya diambil oleh kapal perang Jepang.
Ironisnya, di antara awak kapal Jepang terdapat para survivor dari kapal barang Matsumoto Maru yang sebelumnya ditenggelamkan oleh USS Tang.
Para prajurit Amerika ini lantas mengalami penyiksaan dan perlakuan sangat brutal sebagai aksi balas dendam sebelum dijebloskan ke kamp penjara di Formosa.
Amerika Tidak Percaya
Selama berbulan-bulan, penenggelaman USS Tang dipublikasikan sebagai propaganda kemenangan militer Jepang, sementara Angkatan Laut AS menganggap nasib kapal tersebut sebagai misteri tak terpecahkan.
Pihak AS tidak percaya bahwa kapal terbaik mereka bisa dirusak begitu saja oleh musuh. Keberadaan kapal selam itu di hari-hari terakhir Perang Pasifik terus menyisakan tanda tanya besar.
Tabir misteri baru terkuak sepenuhnya ketika kamp tawanan Omori dibebaskan oleh pasukan Sekutu pada 29 Agustus 1945.
Dari 15 orang yang ditangkap, hanya 9 prajurit yang berhasil bertahan hidup hingga akhir perang, termasuk Mayor O’Kane dan Letnan Flanagan.
O’Kane yang selamat kemudian menceritakan kebenaran bahwa USS Tang tenggelam oleh torpedonya sendiri akibat kerusakan steering gear.
Atas kepemimpinan dan perjuangannya, Letkol Richard H. O’Kane akhirnya dianugerahi penghargaan tertinggi Congressional Medal of Honor.
Ia meneruskan kariernya di US Navy dan pensiun dengan pangkat terakhir Laksamana Muda. (RNS)
