Denmark Menguji Drone MQ-9B untuk Awasi Armada Rusia di kawasan Arktik

MQ-9B SeaGuardianGA-ASI
MQ-9B SeaGuardian.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Bersenjata Denmark mulai menggelar uji coba pesawat nirawak (drone) pengintai MQ-9B di wilayah udara domestik mereka. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pelatihan untuk melacak pergerakan kapal-kapal perang Rusia di kawasan Arktik, sebagaimana dilaporkan oleh media lokal Denmark, TV 2.

Pada penerbangan uji coba tahap awal ini, para spesialis militer Denmark berlatih melalui kolaborasi dengan Angkatan Udara Jerman, yang juga mengerahkan drone milik mereka di sepanjang pesisir Jutland.

Denmark telah membeli empat unit drone MQ-9B SeaGuardian dengan nilai kontrak mencapai 600 juta USD (sekitar Rp9,1 triliun). Armada nirawak ini dijadwalkan resmi beroperasi pada tahun 2028 mendatang.

Pantau Celah GIUK Gap

Secara operasional, UAV tersebut akan ditempatkan di Pangkalan Udara Aalborg. Saat ini, pembangunan infrastruktur pendukung serta pelatihan bagi sekitar 100 personel militer di pangkalan tersebut tengah berlangsung.

Misi utama dari pengoperasian drone MQ-9B ini adalah memantau wilayah celah GIUK Gap, yaitu kawasan strategis di antara Greenland, Islandia, dan Britania Raya, guna mendeteksi potensi pergerakan armada kapal dari Armada Utara Rusia.

Untuk mendukung operasional tersebut, Angkatan Udara Denmark telah membentuk Skadron 729 secara khusus guna mengoperasikan keempat unit MQ-9B tersebut.

“Pengoperasian platform ini memberikan peningkatan signifikan dalam kapasitas pemantauan maritim jangka panjang bagi pertahanan Denmark,” ungkap pihak militer dalam pernyataan resmi terkait uji coba tersebut.

Misi ISR Berdurasi Panjang

MQ-9B dikembangkan oleh perusahaan pertahanan asal Amerika Serikat, General Atomics Aeronautical Systems, Inc.

Varian ini merupakan generasi modern dari keluarga pesawat nirawak berbodi besar berbasis sistem penerbangan MALE (Medium-Altitude Long-Endurance) yang dirancang khusus untuk menjalankan misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) berdurasi panjang.

Dibangun dengan standar sertifikasi kelaikan udara militer maupun sipil, MQ-9B menjadi salah satu dari sedikit drone kelas berat yang dapat dioperasikan secara aman di ruang udara sipil yang tidak terisolasi.

Aset Strategis NATO

Tersedia dalam dua varian utama, yaitu SkyGuardian untuk operasi multidomain dan SeaGuardian yang dioptimalkan untuk pengawasan maritim, platform ini dibekali dengan berbagai sensor canggih.

Peralatan tersebut mencakup radar maritim multimode, sensor elektro-optik/inframerah (EO/IR), sistem identifikasi otomatis (AIS), serta kemampuan untuk membawa pod peperangan elektronik maupun peluncuran sonobuoy untuk misi antikapal selam.

Dengan bentang sayap mencapai 24 meter dan ditenagai mesin turboprop Honeywell TPE331-10GD, MQ-9B mampu terbang secara berkelanjutan selama lebih dari 40 jam pada ketinggian di atas 40.000 kaki.

Kemampuan jelajah jarak jauh yang dikendalikan melalui sistem satelit membuat MQ-9B menjadi aset strategis bagi negara-negara anggota NATO dan sekutu utamanya dalam menjaga keamanan kawasan maritim serta perbatasan.

Selain Denmark, beberapa negara lain seperti Britania Raya, Belgia, Jepang, dan India juga telah memilih atau mengoperasikan varian MQ-9B untuk memperkuat armada pengawasan udara dan pertahanan laut mereka secara komprehensif. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *