Integrasikan HIMARS dan M270 MLRS, Singapura dan AS Gelar Latihan Tembak Amunisi Tajam

Singapura dan AS latihan bersama penembakan amunisi tajam di OklahomaMINDEF
Singapura dan AS latihan bersama penembakan amunisi tajam di Oklahoma.

AIRSPACE REVIEW – Unit artileri Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) dan Angkatan Darat AS (US Army) menggelar latihan penembakan amunisi tajam (live-fire exercise) gabungan di Pangkalan Fort Sill, Oklahoma.

Latihan bersandi Daring Warrior 2026 tersebut mengintegrasikan peluncur roket artileri M142 HIMARS milik Singapura dengan sistem roket rantai M270 MLRS milik AS dalam satu skenario tempur terpadu.

Berlangsung mulai 29 Agustus hingga 28 September 2026, latihan ini melibatkan sekitar 110 personel dari Batalion Artileri ke-23 Singapura dan 50 personel dari Brigade Artileri Lapangan ke-75 US Army.

Integrasi kedua jenis sistem peluncur ini bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas taktis serta menguji koordinasi tembakan presisi jarak jauh (long-range deep fires).

Uji Komparasi Roda Ban vs Rantai Berat

Integrasi kedua alutsista dalam satu garis tembak memberikan kesempatan bagi kedua negara untuk membandingkan karakteristik teknis dan operasional masing-masing platform.

Sistem M142 HIMARS milik Singapura berbasis roda ban 6X6 dengan bobot sekitar 16 ton. Desain ini mengutamakan mobilitas tinggi di jalan raya, penggelaran cepat, serta fleksibilitas logistik karena dapat diangkut dengan pesawat kargo C-130 Hercules.

Namun, HIMARS hanya membawa satu pod peluncur yang berisi enam roket seri GMLRS atau satu rudal taktis ATACMS/PrSM.

Sebaliknya, M270 MLRS milik US Army menggunakan sasis rantai (tracked chassis) turunan kendaraan tempur Bradley.

Meski berbobot lebih berat dan membutuhkan logistik besar, M270 sanggup membawa dua pod peluncur berisi total 12 roket siap tembak, atau dua kali lipat dari kapasitas HIMARS.

Sasis rantai juga memberikan daya jelajah lebih baik saat mengawal formasi lapis baja di medan off-road yang berat.

Siklus Serangan Presisi dan Kecepatan Penembakan

Kedua sistem peluncur ini mengandalkan amunisi berpandu presisi berbasis GPS/INS, mulai dari roket GMLRS standar berjangkauan 70 km, GMLRS-ER hingga 150 km, rudal ATACMS berdaya jangkau 300 km, hingga rudal PrSM yang sanggup menjangkau jarak melampaui 499 km.

Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) menegaskan efektivitas serangan artileri roket modern tidak hanya ditentukan oleh jarak jangkau amunisi, melainkan oleh kecepatan siklus penembakan.

Proses yang dimulai dari akuisisi target oleh sensor, pengiriman koordinat ke sistem kontrol tembakan, penembakan, hingga perpindahan posisi (shoot-and-scoot) harus dilakukan secara cepat guna menghindari balasan artileri lawan maupun rudal musuh.

Atasi Keterbatasan Geografis Singapura

Bagi Singapura, Pangkalan Fort Sill di AS menyediakan ruang fisik dan jangkauan area tembak yang luas, hal yang tidak tersedia di Singapura karena keterbatasan wilayah geografisnya.

“Latihan Daring Warrior memungkinkan awak Batalion ke-23 untuk tidak hanya melatih teknik penembakan, tetapi juga prosedur pergerakan taktis, bongkar muat amunisi, serta koordinasi tembakan bersama unit artileri berat AS,” tulis MINDEF dalam rilisnya.

Latihan Daring Warrior 2026 merupakan penyelenggaraan ke-11 sejak pertama kali digelar pada tahun 2010.

Selain menjaga kesiapan tempur personel Singapura, latihan rutin ini makin memperkuat kerja sama militer praktis dan kemitraan strategis antara Singapura dan Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *