Hapus Staf Sipil CASI, USAF Terancam Kehilangan Lembaga Riset Dirgantara Tiongkok
IstimewaAIRSPACE REVIEW – Keputusan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) untuk memangkas seluruh posisi sipil di China Aerospace Studies Institute (CASI) per 1 Oktober mendatang memicu perselisihan mengenai masa depan lembaga riset tersebut.
Direktur CASI menyebut langkah ini secara efektif akan mengakhiri operasi institut, sementara pihak USAF mengklaim misi lembaga akan tetap berlanjut.
USAF menyatakan, restrukturisasi tenaga kerja sipil di bawah Air Education and Training Command (AETC) menjadi alasan di balik keputusan ini.
“Sebagai bagian dari restrukturisasi sipil yang sedang berlangsung di AETC, posisi sipil tidak lagi ditugaskan di China Aerospace Studies Institute (CASI),” ujar Juru Bicara USAF dikutip Defense News (23/9).
Misi CASI, lanjutnya, tetap berlanjut dengan memanfaatkan personel militer yang ditugaskan untuk mencapai tujuannya.
Juru bicara tersebut menambahkan bahwa staf sipil yang terdampak akan tetap berada di posisi mereka saat ini sampai pemberitahuan lebih lanjut sembari dievaluasi untuk alokasi ulang (reassignment).
Dampak Pemangkasan
Namun, Direktur CASI Brendan Mulvaney memberikan pandangan yang berbeda. Menurutnya, penghapusan 10 posisi sipil di CASI secara praktis membubarkan institut tersebut karena riset utama selama ini sepenuhnya dijalankan oleh tenaga sipil.
“Semua penelitian selalu dilakukan oleh personel sipil,” tegas Mulvaney.
Ia menjelaskan, CASI tidak memiliki posisi peneliti dari unsur militer. Lembaga tersebut hanya memiliki dua posisi Master Sergeant dan satu posisi wakil direktur yang telah kosong selama lebih dari satu tahun.
Mulvaney menyebutkan bahwa pemangkasan ini merupakan mandat pemotongan posisi sipil di seluruh Departemen Angkatan Udara dan tidak berkaitan dengan kinerja atau misi CASI.
CASI terdampak karena tidak menghasilkan siswa pendidikan militer profesional (professional military education), yang merupakan misi utama dari Air University —induk organisasi CASI.
Hingga saat ini, belum ada lembaga lain yang ditunjuk untuk mengambil alih riset kedirgantaraan Tiongkok yang dilakukan CASI.
Belum dipastikan pula apakah laporan, terjemahan, dan materi kursus publikasi CASI akan tetap dapat diakses oleh publik.
Keprihatinan Komunitas Analis
Kabar mengenai pembubaran ini mulai mencuat setelah catatan internal dari seorang pegawai CASI beredar di media sosial.
Pegawai tersebut menuliskan bahwa staf sipil akan menjadi surplus federal employees, istilah untuk pekerja yang posisinya dihapuskan.
Will Yale, seorang perwira peperangan permukaan Angkatan Laut AS, menilai keputusan ini sangat disayangkan mengingat CASI telah memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan pemahaman mengenai Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) baik di dalam maupun di luar pemerintahan AS.
Sementara itu, Andrew Erickson, profesor di Naval War College, mengonfirmasi bahwa langkah restrukturisasi ini khusus terjadi pada CASI dan tidak berdampak pada lembaga studi Tiongkok lainnya, seperti China Maritime Studies Institute milik Angkatan Laut atau China Landpower Studies Center milik Angkatan Darat.
Ryan Fedasiuk, peneliti di American Enterprise Institute, menyebut keputusan ini sebagai kerugian besar bagi komunitas analis dan sebuah keputusan yang sulit dipahami.
Rekam Jejak CASI
Didirikan pada 2017 dan diresmikan lewat piagam pada 2021 oleh Jenderal Charles Q. Brown Jr., CASI bertugas mempelajari seluruh kemampuan kedirgantaraan, antariksa, dan rudal Tiongkok.
Berbasis di Maxwell Air Force Base, Alabama, dan Fort McNair, Washington, riset CASI bersifat tidak rahasia (unclassified) dengan memanfaatkan sumber-sumber publik berbahasa asli.
Selain menerjemahkan buku teks dan doktrin PLA, CASI juga menyelenggarakan kursus dasar PLA dan Konferensi CASI dua tahunan.
Pada tahun 2025, situs web CASI mencatat hampir 80.000 pengunjung dan lebih dari 50.000 unduhan laporan riset. (RNS)
