F-15EX Eagle II Sukses Jatuhkan Bom BLU-111, Resmi Jadi Jet Tempur Multiperan

F-15EX Eagle II sukses menjatuhkan bom BLU-111US ANG
F-15EX Eagle II sukses menjatuhkan bom BLU-111,

AIRSPACE REVIEW – Jet tempur operasional Boeing F-15EX Eagle II milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) berhasil melaksanakan penjatuhan bom amunisi tajam (live bomb) untuk pertama kalinya.

Misi bersejarah ini dijalankan oleh Wing ke-142 Air National Guard Oregon saat beroperasi dari Pangkalan Angkatan Udara Nellis dalam rangka mendukung Weapons Instructor Course.

Dalam penembakan tersebut, amunisi yang digunakan teridentifikasi sebagai bom serbaguna kelas 227 kg (500 pon) jenis BLU-111.

Keberhasilan ini menandai transisi penting F-15EX dari platform yang sebelumnya didominasi peran keunggulan udara (air superiority) menjadi platform serangan darat (strike role) yang jauh lebih luas.

Uji penjatuhan bom amunisi tajam ini membuktikan bahwa unit lini depan F-15EX mulai mengintegrasikan misi serangan udara ke darat konvensional dengan memanfaatkan kecepatan tinggi, jarak tempuh jauh, dan kapasitas angkut muatan kelas berat yang dimiliki pesawat.

Hal ini memperluas nilai operasional Eagle II dalam kampanye tempur di wilayah sengketa, di mana satu kekuatan udara dituntut memberikan keunggulan udara, serangan presisi, dan daya tembak berkelanjutan secara bersamaan.

Pencapaian ini terjadi pada 27 Agustus 2026 selama penempatan pasukan selama tiga minggu yang berlangsung dari akhir Agustus hingga awal September.

Kemajuan Nyata

Pilihan penggunaan bom BLU-111 sangat strategis karena badan bom serbaguna ini dirancang untuk menghasilkan efek ledakan dan fragmentasi terhadap sasaran yang dilindungi ringan, konsentrasi peralatan, hingga infrastruktur musuh.

Selain itu, komponen bom BLU-111 juga dapat diintegrasikan ke dalam konfigurasi senjata berpenuntun presisi, sehingga penembakan amunisi tajam ini membantu awak pesawat dan teknisi membangun prosedur operasional untuk misi serangan presisi yang lebih canggih di masa depan.

Perkembangan ini melengkapi tahap latihan sebelumnya yang dimulai 142nd Wing pada Mei 2026 di Pangkalan Udara Mountain Home, Idaho, saat awak pesawat baru menjatuhkan bom latihan tanpa peledak jenis BDU-50 (227 kg) dan BDU-56 (907 kg).

Transisi dari amunisi inert ke bom tajam menunjukkan kemajuan nyata dari prosedur pelepasan dasar menuju kemampuan serangan operasional penuh yang melibatkan pilot, pengisi amunisi, spesialis amunisi, teknisi pemeliharaan, hingga perencana misi.

Kapasitas Senjata Sangat Besar

F-15EX Eagle II merupakan varian terbaru dari keluarga F-15 yang dirancang untuk menggabungkan kecepatan, jarak jelajah, dan muatan besar khas Eagle dengan sistem avionik modern, peperangan elektronik, serta perangkat lunak misi berarsitektur terbuka.

Berbeda dengan F-15C lama yang murni dioptimalkan untuk pertahanan udara, F-15EX dirancang sejak awal untuk menjalankan pertempuran udara ke udara, serangan presisi, hingga pengangkutan senjata jarak jauh dalam satu armada multiperan.

Salah satu keunggulan paling menonjol dari F-15EX adalah kapasitas senjatanya yang sangat besar, yakni mampu membawa muatan eksternal hingga 13.400 kg (29.500 pon).

Kapasitas ini jauh melampaui volume senjata jet tempur siluman (stealth) yang terbatas oleh ruang penyimpanan internal (internal weapons bay).

Dengan kemampuan ini, F-15EX dapat membawa kombinasi besar rudal udara ke udara, bom berpenuntun presisi, hingga senjata standoff jarak jauh di masa depan untuk menghantam banyak sasaran sekaligus dalam satu kali sortie.

Kapasitas muatan yang masif ini menjadi inti dari konsep operasi USAF yang menyatukan keunggulan pesawat siluman dan jet tempur bermuatan berat.

Dalam konflik intensitas tinggi, F-15EX tidak perlu meniru karakteristik siluman F-35A atau F-22 untuk memberikan kontribusi besar di medan tempur.

Sebaliknya, F-15EX dapat beroperasi dari posisi yang lebih aman sambil membawa lebih banyak senjata, sementara jet tempur siluman seperti F-35A menembus wilayah udara musuh untuk mendeteksi sasaran dan membagikan data bidikan secara waktu nyata.

Saling Melengkapi

Konsep ini menciptakan hubungan saling melengkapi, di mana F-35A menjamin kelangsungan hidup di garis depan dan mengidentifikasi target, sedangkan F-15EX bertindak sebagai “truk amunisi” dari jarak aman.

Dokumentasi penempatan pasukan di Nellis juga memperlihatkan F-15EX beroperasi dengan targeting pod AN/AAQ-33 Sniper yang memperkuat akurasi serangan darat.

Pod ini menyediakan pencitraan elektro-optik dan inframerah, penjejakan sasaran, serta penunjukan laser (laser designation) untuk memandu bom presisi secara akurat di medan tempur yang kompleks.

Untuk perlindungan diri, Eagle II dilengkapi sistem Eagle Passive Active Warning Survivability System (EPAWSS) yang memberikan peningkatan kesadaran ancaman dan perlindungan elektronik canggih dari radar maupun rudal musuh.

Kehadiran kokpit dua kursi pada varian ini juga mendukung kompleksitas misi serangan, di mana awak kedua dapat mengelola sensor, peperangan elektronik, serta tautan data taktis untuk mengurangi beban kerja pilot.

Bagi 142nd Wing, momen ini menandai pergeseran peran secara total dari armada F-15C lama yang murni berfokus pada pertahanan udara menjadi skadron tempur multiperan.

Sementara bagi USAF secara keseluruhan, keberhasilan uji tembak ini membuktikan bahwa F-15EX siap menjadi pendamping bersenjata berat bagi armada jet siluman, sekaligus memperbesar daya hancur yang dapat dilepaskan dalam setiap misi tempur. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *