Krisis Rudal Melanda Armada Jet Tempur F-16 Ukraina
AFUAIRSPACE REVIEW – Ukraina dilaporkan menghadapi krisis rudal udara ke udara bagi armada jet tempur F-16 milik mereka. Saking terbatasnya pasokan, Angkatan Udara Ukraina (UAF) dilaporkan harus melakukan rasionalisasi penggunaan rudal dan secara intensif memantau pengiriman amunisi dari negara mitra.
Para personel bahkan menghitung setiap jam dan menit pergerakan pasokan amunisi di perbatasan demi memastikan rudal tiba tepat waktu sebelum gelombang serangan udara Rusia berikutnya menerjang.
Komandan Wing ke-107 UAF yang diidentifikasi dengan nama panggilan “Phantom” membenarkan kondisi darurat tersebut.
Ia menegaskan bahwa jet tempur secanggih apa pun tidak akan ada artinya tanpa ketersediaan amunisi.
Akibat krisis ini, seperti diberitakan The War Zone, beberapa misi patroli siang hari terpaksa dilakoni para pilot F-16 hanya dengan mengandalkan kanon internal pemutar M61A1 Vulcan kaliber 20 mm untuk merontokkan ancaman udara Rusia.
Berisiko Tinggi
Penggunaan kanon ini memiliki risiko tinggi dan berbahaya, terutama saat menargetkan sasaran berukuran kecil atau bergerak lambat seperti drone, terlebih jika penerbangan dilakukan pada malam hari.
Berbeda dengan rudal yang bisa mengunci dan ditembakkan dari jarak belasan hingga puluhan kilometer, kanon 20mm hanya efektif pada jarak yang sangat dekat (biasanya di bawah satu kilometer). Pilot harus mendekati target dalam kecepatan tinggi.
Saat drone berhasil ditembak dan meledak di udara dari jarak dekat, puing-puing, serpihan logam, atau sisa bahan bakar drone bisa langsung menghantam pesawat F-16.
Pada kecepatan ratusan kilometer per jam, serpihan kecil pun bisa merusak kaca kokpit atau masuk ke dalam intake mesin dan menyebabkan kegagalan mesin seketika.
AIM-120 AMRAAM dan AIM-9 Sidewinder
Armada F-16 Ukraina, yang telah beroperasi sejak musim panas 2024, sejatinya memegang peranan vital dalam lapisan pertahanan udara untuk menghalau drone dan rudal jelajah Rusia.
Senjata utama yang biasa diandalkan meliputi rudal jarak menengah AIM-120 AMRAAM dan rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder.
Namun, amunisi tersebut juga dibutuhkan oleh sistem pertahanan udara berbasis darat seperti NASAMS.
Kondisi ini makin diperparah oleh menipisnya pencegat untuk sistem pertahanan Patriot dan tingginya permintaan rudal secara global akibat ketegangan geopolitik di wilayah lain seperti Timur Tengah.
Minta Dukungan Rudal
Meskipun dihadapkan pada krisis amunisi, “Phantom” mengakui bahwa kehadiran F-16 membawa lonjakan teknologi yang signifikan dibandingkan armada jet peninggalan Soviet seperti MiG-29 dan Su-27.
Jet F-16 Ukraina telah terbukti sukses menghancurkan sejumlah besar drone dan rudal jelajah Rusia, bahkan sempat mencatatkan rekor menjatuhkan jet tempur Rusia dalam pertempuran. Namun, keunggulan teknologi ini tetap bergantung penuh pada keberlanjutan pasokan senjata.
Menghadapi ancaman serangan Rusia yang diperkirakan akan meningkat menjelang musim dingin, khususnya terhadap infrastruktur energi, ia mendesak negara-negara Barat untuk tidak sekadar memberikan bantuan pesawat, melainkan menjamin keberlanjutan pasokan amunisi.
“Phantom” mendorong peningkatan kapasitas produksi amunisi, penyediaan lisensi produksi lokal di Ukraina atau negara-negara Eropa, serta pengetatan sanksi guna mencegah Rusia mendapatkan komponen teknologi tinggi melalui pihak ketiga untuk memproduksi rudal mereka sendiri. (PN)
