Amankan Super Hornet dan Growler hingga 2031, US Navy Kucurkan Rp45 Triliun ke GE

FA-18 Super Hornet Block IIIBoeing
F/A-18 Super Hornet Block III.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) resmi memberikan kontrak logistik bernilai hingga 2,87 miliar dolar AS (sekitar Rp45,2 triliun) kepada General Electric untuk mendukung pemeliharaan mesin F414-GE-400 armada F/A-18E/F Super Hornet dan EA-18G Growler miliknya.

Kesepakatan berdurasi lima tahun hingga Agustus 2031 ini dirancang untuk menjaga kesiapan tempur kedua armada utama tersebut, terutama saat lini produksi Super Hornet baru mulai memasuki babak akhir dan masa transisi ke jet tempur generasi berikutnya masih berlangsung.

Pengumuman yang dirilis pada awal September 2026 ini mencakup dukungan logistik berbasis kinerja untuk 17 komponen mesin utama, dengan pesanan pengiriman awal sebesar 198,22 juta dolar AS (sekitar Rp3,12 triliun).

Sediakan Suku Cadang dan Perbaikan

Lewat kontrak bernomor N00383-26-D-UA01 ini, GE akan melakukan 90 persen pekerjaan di Lynn, Massachusetts, dan 10 persen sisanya di Jacksonville, Florida.

Skema performance-based logistics (PBL) ini mewajibkan GE menjaga ketersediaan suku cadang, melakukan perbaikan, serta memastikan komponen siap pakai sesuai standar ketat, sehingga kesiapan terbang pesawat tidak terhambat oleh kelangkaan suku cadang mesin di lapangan.

Langkah ini menjadi krusial mengingat setiap jet Super Hornet dan Growler diandalkan dalam berbagai misi vital, mulai dari pertahanan udara, serangan darat, hingga perang elektronik.

Seiring dengan selesainya produksi unit baru oleh Boeing dan perpanjangan masa pakai pesawat yang ada hingga 10.000 jam terbang melalui program modernisasi Block III, kepastian pasokan mesin F414 menjadi jaminan utama agar kekuatan tempur penerbangan kapal induk AS tetap tangguh dan siap beroperasi di seluruh dunia.

Kebutuhan akan perawatan intensif ini didasari oleh pengalaman US Navy di mana ketersediaan modul mesin berbanding lurus dengan jumlah pesawat yang siap menjalankan misi.

Pengoperasian yang intensif pada bagian mesin bersuhu tinggi seperti kompresor, ruang bakar, dan turbin sering kali memicu kelangkaan suku cadang siap pakai di depo pemeliharaan.

Jamin Kesiapan Operasional

Melalui kontrak berbasis ketersediaan ini, risiko penumpukan pesawat yang tidak dapat terbang akibat menunggu perbaikan mesin dapat ditekan secara signifikan.

Kondisi tersebut makin mendesak seiring munculnya penundaan dan ketidakpastian jadwal pada program pengembangan jet tempur generasi berikutnya, F/A-XX.

Keterlambatan dalam meluncurkan pesawat pengganti memaksa armada Super Hornet dan Growler untuk terus memikul beban operasi lebih lama dari rencana awal.

Oleh karena itu, investasi besar pada dukungan sistem pendorong ini berfungsi sebagai langkah antisipasi untuk mencegah munculnya celah kemampuan tempur selama masa transisi armada.

Secara industri, kontrak jangka panjang ini memberikan kepastian pasokan serta menjaga keberlangsungan ekosistem manufaktur militer AS.

Fasilitas GE di Lynn akan terus menjadi pusat keahlian rekayasa dan perbaikan spesialis yang sulit diperbarui jika sempat terhenti.

Meskipun keluarga mesin F414 juga digunakan oleh beberapa negara sekutu seperti Australia, dana sebesar 2,87 miliar dolar AS (sekitar Rp45,2 triliun) ini dikhususkan untuk menjaga fondasi kesiapan udara Angkatan Laut AS di tengah penuaan armada dan dinamika ancaman global. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *