Ambisi Jet Tempur Generasi Keenam Korea Selatan dan Sandungan di Sektor Propulsi

AIRSPACE REVIEW – Korea Selatan resmi melangkah ke era baru militer dengan memulai perancangan jet tempur generasi keenam demi mengejar kemandirian teknologi penerbangan tempur.
Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) telah meluncurkan studi konseptual berdurasi 14 bulan dengan anggaran 900 juta won (sekitar Rp10,4 miliar) untuk mendefinisikan konsep operasional dan peta jalan teknologi pesawat masa depan ini.
Meski nilai investasinya tergolong kecil di tahap awal, studi ini memegang peranan vital karena akan menentukan fondasi dari apa yang diprediksi menjadi salah satu proyek pertahanan terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Desain Pesawat Tanpa Ekor
Konsep awal yang dipresentasikan oleh Badan Pengembangan Pertahanan Korea Selatan (ADD) memperlihatkan desain pesawat tanpa ekor (tailless) yang sangat futuristik dan terintegrasi.
Dengan dimensi yang relatif ringkas, panjang sekitar 16 meter dan bentang sayap 11 meter, pesawat ganda mesin ini menggabungkan sayap double-delta, canard, dan bentuk badan yang menyatu dengan sayap (blended wing-body).
Desain tanpa penstabil vertikal ini sengaja dipilih untuk memangkas jejak radar secara signifikan, meski di sisi lain menuntut sistem kendali terbang yang jauh lebih rumit.
Selain itu, jet tempur ini dirancang memiliki kemampuan jelajah supersonik (supercruise), saluran masuk udara berbentuk S (S-duct), serta tiga ruang senjata internal yang mampu menampung rudal MBDA Meteor dan IRIS-T agar tingkat kerahasiaannya tetap terjaga.
Kendala Terkait Propulsi
Meskipun rancangan fisik dan sistem avionik terus berkembang pesat, sistem propulsi atau mesin pesawat justru menjadi batu sandungan terbesar bagi Seoul.
DAPA menetapkan penggunaan dua mesin siklus adaptif (adaptive-cycle engines) yang dapat mengubah rasio bypass secara otomatis untuk menyeimbangkan efisiensi bahan bakar saat patroli dan daya dorong maksimum saat bertempur.
Saat ini, Korea Selatan memang tengah mengembangkan mesin buatan dalam negeri pertamanya, KTF16000, yang ditargetkan uji terbang pada 2041.
Namun, tenaga yang dihasilkan mesin tersebut diperkirakan belum cukup untuk memacu jet generasi keenam mencapai kecepatan supercruise, mengingat teknologi pengarah dorong (thrust-vectoring) dan pembangkit listrik daya tinggi di dalam negeri masih dalam tahap awal pengembangan.
KF-21EX (Block 3)
Untuk menjembatani jurang teknologi tersebut, Korea Selatan mengandalkan strategi pengembangan bertahap yang memanfaatkan program jet tempur supersonik pertamanya, KF-21 Boramae, yang telah selesai dikembangkan pada pertengahan 2026.
Sambil memproduksi KF-21 yang masih mengusung mesin General Electric asal Amerika Serikat, Seoul berencana mengembangkan varian KF-21EX (Block 3) sebagai platform perantara.
Lewat proyek perantara ini, industri lokal dapat menguji coba teknologi radar, material siluman, hingga integrasi kecerdasan buatan untuk tim manusia-mesin (MUM-T) bersama drone tempur.
Langkah inkremental ini juga diterapkan pada mesin, di mana para insinyur mulai memproduksi mesin turbofan skala kecil untuk drone sebagai batu loncatan menuju mesin tempur utama.
Penguasaan teknologi ini menjadi sangat mendesak karena peta persaingan global sudah bergerak jauh lebih cepat.
Info Lainnya: Perkuat Daya Saing Global, Korea Lengkapi KF-21 dengan Rudal BVR Lokal
Seperti diketahui, Tiongkok telah memulai uji terbang konsep jet masa depannya, Amerika Serikat terus mematangkan proyek F-47 untuk penerbangan perdana 2028, dan konsorsium Eropa-Asia melalui program GCAP kian solid.
Bagi Korea Selatan, studi DAPA ini barulah titik awal dari maraton panjang yang diprediksi baru akan membuahkan hasil operasional pada pertengahan hingga akhir tahun 2040-an.
Keberhasilan proyek ini sepenuhnya bergantung pada kemampuan Seoul untuk mentransformasikan industri penerbangannya dari sekadar perakit pesawat menjadi pembuat mesin jet mandiri. (RNS)
