Su-35S Gelombang Ketiga Tiba, Taring Serangan Militer Rusia Meningkat
UACAIRSPACE REVIEW – Militer Rusia kembali memperkuat armada tempurnya setelah induk perusahaan pertahanan negara Rusia, Rostec, menyerahkan unit baru jet tempur Su-35S.
Pengiriman yang dikonfirmasi pada Kamis ini menjadi pasokan gelombang ketiga yang diterima militer Rusia sepanjang tahun 2026.
Pesawat berteknologi canggih tersebut diproduksi oleh anak perusahaan Rostec, United Aircraft Corporation (UAC), di Pabrik Penerbangan Yuri Gagarin yang berlokasi di Komsomolsk-on-Amur.
Sebelum diterbangkan ke pangkalan utamanya, seluruh jet telah melalui serangkaian uji coba pabrik secara menyeluruh dalam berbagai mode operasional untuk memastikan kesiapan tempurnya, Rostec menyatakan.
Dua atau Tiga Unit yang Dikirimkan
Meskipun Rostec tidak merinci jumlah pasti armada yang diserahkan maupun satuan penerima, analis pertahanan Guy Plopsky mengonfirmasi bahwa pasokan ini merupakan gelombang ketiga yang terverifikasi tahun ini, menyusul dua pengiriman sebelumnya pada bulan April dan Mei.
Berdasarkan dokumentasi foto dan video yang dirilis resmi oleh UAC, diperkirakan terdapat minimal dua atau lebih unit jet tempur dalam pengiriman kali ini.
Seluruh pesawat yang dikirimkan dalam tiga gelombang di tahun 2026 tersebut tampak mempertahankan ciri khas nomor lambung berwarna biru.
Sistem Modern
Jet tempur Su-35S dikategorikan oleh Rusia sebagai pesawat tempur generasi 4++. Kategori ini merujuk pada pengembangan jet berbasis kerangka generasi keempat.
Su-35S yang dikembangkan dari varian induk Su-27, telah mendapatkan perombakan besar-besaran pada sistem avionik, radar, serta persenjataan, meski belum menerapkan teknologi siluman penuh seperti pesawat generasi kelima.
Keandalan jet bermesin ganda ini diakui langsung oleh salah satu pilot Angkatan Dirgantara Rusia (VKS) untuk penguasaan ruang udara, mencegat target jarak jauh, mengawal armada pemukul, mengeliminasi drone, hingga melancarkan serangan presisi ke target darat maupun laut.
Kemampuan lain Su-35S yang dijuluki Super Flanker ini adalah melakukan pengintaian mendalam di wilayah musuh menjadikannya aset krusial dalam memetakan posisi lawan di luar garis kontak.
Dukungan teknologi radar canggih dan manuver tinggi memungkinkan jet tempur ini mendeteksi serta menetralisir ancaman udara sebelum berhadapan dalam jarak dekat.
Fleksibilitas misi inilah yang membuat militer Rusia terus mengandalkan Su-35S sebagai ujung tombak untuk mempertahankan keunggulan udara di kawasan-kawasan konflik aktif.
Sejarah panjang produksi Su-35S bermula dari kontrak perdana sebanyak 48 unit pada tahun 2009 yang rampung di akhir 2015, lalu berlanjut ke kontrak kedua untuk 50 unit tambahan.
Hingga memasuki tahun 2026, lini produksi jet tempur ini terus berjalan aktif guna memenuhi kebutuhan armada militer Rusia yang terus meningkat. (PN)
