Lebih dari Hitungan Trump, Korsel Sebut Korea Utara Punya 120 Hulu Ledak Nuklir

Hwasong-17 ICBM_airspace reviewKRT, Yonhap
Kim Jong-un menyaksikan uji coba peluncuran rudal Hwasong-17.

AIRSPACE REVIEW – Intelijen Korea Selatan menyebut Korea Utara saat ini memiliki 80 hingga 120 hulu ledak nuklir, sebuah angka yang jauh melampaui pernyataan Donald Trump terkait hal yang sama.

Estimasi tersebut disampaikan oleh Menteri Pertahanan Korea Selatan, Ahn Gyu-baek, dalam sidang Majelis Nasional di Seoul pada 20 Agustus 2026.

Pernyataan Menhan Korea Selatan ini merespons klaim Donald Trump pada 19 Agustus 2026 yang menyebut Pyongyang memiliki 57 hulu ledak nuklir saat membahas pemimpin Korea Utara dan rencananya untuk bertemu akhir tahun ini.

Menanggapi perbedaan tersebut, Ahn secara singkat mengomentari bahwa angka-angkanya tampak agak berbeda.

Hindari Pengungkapan Rinci

Korea Selatan sendiri secara tradisional menghindari pengungkapan rinci terkait estimasi arsenal nuklir Pyongyang serta tidak mengakui Korea Utara sebagai negara berdaya nuklir secara resmi demi menjaga kebijakan denuklirisasi.

Dalam kesempatan itu, Ahn juga mempertegas posisi Seoul terkait senjata nuklir.

“Kami tidak dapat mengembangkan senjata nuklir. Kami juga tidak boleh menyetujui penempatan senjata nuklir taktis AS,” kata dia di depan para anggota parlemen negaranya, dikutip Reuters.

Dinamika ini berkembang di tengah upaya Trump menghidupkan kembali dialog dengan Kim Jong Un, yang diawali dengan keputusannya memangkas skala latihan militer gabungan AS-Korea Selatan.

Sementara itu, dari sisi diplomatik, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada 15 Agustus 2026 telah menyerukan agar Korea Utara terlibat dalam pembicaraan guna memastikan koeksistensi damai serta mengganti perjanjian gencatan senjata dengan “rezim perdamaian” yang penuh.

Meski upaya diplomasi terus didorong, potensi ketegangan tetap membayangi kawasan, terbukti dari insiden di perbatasan pada 17 Agustus 2026 ketika sekelompok prajurit Korea Utara menerobos Garis Demarkasi Militer sehingga memaksa pasukan Korea Selatan melepaskan tembakan peringatan.

Rudal-Rudal Berhulu Ledak Nuklir Korea Utara

Dalam catatan Airspace Review, Korea Utara memiliki sejumlah arsenal rudal pembawa hulu ledak nuklir yang dikelompokkan berdasarkan jangkauan jelajahnya, mulai dari sistem taktis jarak pendek hingga rudal antarbenua.

Di strata tertinggi terdapat Rudal Antarbenua (ICBM) seri Hwasong yang dirancang untuk menjangkau daratan Amerika Serikat.

Korea Utara memiliki Hwasong-18 berbahan bakar padat yang dapat diluncurkan secara cepat, Hwasong-17 berukuran raksasa dengan jangkauan hingga 15.000 km yang mampu membawa beberapa hulu ledak sekaligus, serta generasi pendahulunya yaitu Hwasong-14 dan Hwasong-15.

Untuk jangkauan kawasan, Pyongyang mengandalkan Rudal Jarak Menengah (IRBM/MRBM) seperti Hwasong-12 berkemampuan jelajah 4.500 km yang membidik pangkalan AS di Guam, serta seri Pukguksong-2 dan Rodong yang menyasar target di wilayah Jepang dan Asia Timur.

Rudal-rudal balistik yang dikembangkan Korea Utara
Rudal-rudal balistik yang dikembangkan Korea Utara.

Sementara itu, untuk potensi konflik langsung di Semenanjung Korea, mereka menyiagakan Rudal Taktis Jarak Pendek (SRBM) presisi tinggi seperti KN-23 (Hwasong-11Ga) dan varian Hwasong-11 yang menggunakan bahan bakar padat dan sanggup bermanuver rendah guna menghindari sistem pertahanan udara lawan.

Lini pertahanan ini melengkapi kemampuan serangan balasan dari laut melalui Rudal Balistik Kapal Selam (SLBM) seri Pukguksong-3, 4, dan 5.

Pengembangan seluruh persenjataan rudal ini didukung oleh modernisasi teknologi pendukung yang pesat, terutama transisi dari bahan bakar cair ke bahan bakar padat serta miniaturisasi hulu ledak nuklir Hwasan-31.

Penggunaan bahan bakar padat membuat rudal-rudal Korea Utara dapat disiapkan dalam hitungan menit dari peluncur bergerak (TEL), sehingga makin sulit dideteksi atau dihancurkan secara inkursif oleh sistem intelijen lawan sebelum diluncurkan.

Dengan kombinasi jangkauan yang luas, kemampuan jelajah laut melalui kapal selam, dan fleksibilitas taktis di perbatasan, arsenal rudal Pyongyang ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pencegah serangan asing (deterrence), tetapi juga memberikan daya tawar politik yang sangat kuat dalam dinamika diplomasi global. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *