Genjot Stok Rudal, AS Guyur Raytheon Rp360 Triliun untuk Produksi 1.000 Tomahawk per Tahun

Rudal Tomahawk diluncurkan dari kapal perang AustraliaADF/AFP
Rudal Tomahawk diluncurkan dari kapal perang Australia.

AIRSPACE REVIEW – Raytheon, anak perusahaan RTX, resmi mengantongi kontrak jumbo senilai 22,9 miliar USD (sekitar Rp360 triliun) dari Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy).

Kesepakatan berdurasi tujuh tahun ini bakal mendongkrak kapasitas produksi rudal jelajah Tomahawk secara masif hingga melampaui 1.000 unit per tahun.

Langkah spektakuler ini menandai lonjakan produksi lebih dari 16 kali lipat dibanding tingkat output saat ini yang hanya berada di kisaran puluhan unit saban tahunnya.

Keputusan strategis tersebut diambil akibat menyusutnya stok amunisi presisi AS setelah intensitas penggunaannya meningkat drastis dalam berbagai operasi militer terakhir.

Pengembangan Terbaru Maritime Strike Tomahawk

Sebagai senjata andalan berbasis kapal perang dan kapal selam, Tomahawk menawarkan jangkauan serangan darat hingga ratusan kilometer dengan tingkat akurasi tinggi.

Pengembangan versi terbaru seperti Maritime Strike Tomahawk kini bahkan dibekali navigasi canggih serta kemampuan menghantam target bergerak di lautan.

Guna mengejar target raksasa ini, Raytheon harus merombak total rantai pasok industri, infrastruktur pabrik, hingga penyerapan tenaga kerja terampil.

Skema kontrak multitahun ini sekaligus memberikan kepastian investasi jangka panjang bagi para pemasok komponen pendukung di seluruh basis industri pertahanan AS.

Peningkatan skala produksi Tomahawk mempertegas fokus Washington dalam mengamankan ketahanan logistik amunisi untuk menghadapi potensi konflik berkepanjangan.

Rudal Andalan AS Sejak Perang Teluk

Kendati AS mulai mengembangkan lini senjata masa depan seperti rudal hipersonik, Tomahawk terbukti tetap menjadi tulang punggung yang tak tergantikan bagi armada tempur Angkatan Laut AS.

Rudal ini merupakan rudal jelajah berpresisi tinggi yang menjadi andalan utama militer Amerika Serikat sejak era Perang Teluk.

Senjata yang terbang rendah mengikuti kontur permukaan bumi ini dirancang untuk menembus benteng pertahanan udara musuh yang sangat rapat.

Baca di Sini: Stok menipis! AS “membakar” rudal Tomahawk dalam jumlah mengkhawatirkan di Perang Iran

Penggunaan rudal Tomahawk secara masif terlihat jelas dalam eskalasi konflik di Iran, di mana ratusan unit diluncurkan dari armada kapal perang dan kapal selam di kawasan Teluk.

Gempuran intensif tersebut diarahkan untuk memukul hancur berbagai situs nuklir, pusat komando militer, serta fasilitas radar utama milik Iran.

Keterlibatan Tomahawk dalam operasi skala besar di Iran inilah yang pada akhirnya menguras drastis persediaan cadangan amunisi strategis AS, hingga memicu keputusan percepatan produksi nasional. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Casanova berkata:

    Rp 360 trilyun = biaya MBG mula2 di Indonesia/ tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *