Leonardo Siap Sesuaikan Eurofighter Typhoon untuk Kebutuhan Jet Tempur Filipina
AFPAIRSPACE REVIEW – Perusahaan manufaktur kedirgantaraan dan pertahanan multinasional, Leonardo S.p.A, menyatakan kesiapannya untuk menyesuaikan jet tempur bermesin ganda Eurofighter Typhoon agar sesuai dengan standar dan kondisi operasional militer Filipina.
Penyesuaian siap dilakukan apabila pemerintah Filipina secara resmi memilih jet tersebut untuk memenuhi kebutuhan program Jet Tempur Multi-Peran atau Multi-Role Fighter (MRF).
Enrico Fossatti, Kepala Kampanye Ekspor Eurofighter Leonardo untuk Pemasaran dan Penjualan, menegaskan bahwa platform Typhoon memiliki fleksibilitas desain yang sangat baik dengan dukungan pengalaman rekayasa teknik yang mendalam.
Menurutnya, program Eurofighter secara konsisten selalu mengonfigurasi pesawat agar sesuai dengan kondisi lingkungan dan operasional spesifik dari setiap negara pengguna.
Beroperasi di Berbagai Iklim Dunia
Eurofighter Typhoon, yang diproduksi oleh konsorsium Leonardo, Airbus, dan BAE Systems, saat ini menjadi salah satu kandidat utama yang dilirik oleh Departemen Pertahanan Nasional Filipina (DND).
Fossatti menjelaskan bahwa konfigurasi mesin ganda dan rekam jejak keselamatan pesawat ini memang dirancang untuk menunjukkan ketangguhan dalam kondisi cuaca ekstrem, termasuk operasional di atas wilayah perairan.
Selama ini jet Typhoon telah beroperasi di berbagai wilayah dengan kondisi iklim yang sangat kontras, mulai dari Kepulauan Falkland, Islandia, Laut Baltik, hingga Australia.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk mengadaptasi jet tempur ini ke dalam karakteristik iklim Filipina yang tropis dan didominasi wilayah maritim.
Jika kesepakatan tercapai, tambah dia, Leonardo bersama negara-negara mitra akan bekerja sama langsung dengan DND dan Angkatan Udara Filipina untuk merancang konfigurasi yang paling sesuai.
Selain ketangguhan fisik, keunggulan utama Typhoon terletak pada paket persenjataan dan sistem elektronik yang dibawanya. Jet tempur ini dirancang untuk mengusung rudal udara-ke-udara jarak jauh atau beyond-visual-range serta dilengkapi perangkat perang elektronik komprehensif.
Kombinasi tersebut memungkinkan pesawat beroperasi secara efektif di tengah berbagai tingkat ancaman udara.
Bersaing dengan Kandidat Lain
Mengenai komposisi pasti dari paket senjata yang akan diterima Filipina, hal itu nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan akhir dan perjanjian bilateral antara kedua belah pihak.
Di sisi lain, Eurofighter Typhoon bukanlah satu-satunya opsi yang dipertimbangkan oleh pemerintah Filipina.
DND juga sedang mengkaji beberapa kandidat jet tempur lainnya, seperti Saab Gripen dari Swedia, KF-21 Boramae dari Korea Selatan, F-16V Viper dari Amerika Serikat, hingga Dassault Rafale dari Prancis.
Info Lainnya: Setelah sukses di Thailand, Saab incar pesanan 40 jet tempur Gripen dari Filipina, bersaing dengan F-16 dan KF-21
Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro Jr., menyatakan pihaknya memang mencari setidaknya lima calon pemasok potensial untuk memperkuat kapabilitas pertahanan udara negara tersebut.
Program pengadaan jet tempur ini masuk ke dalam tahap Rehorizon Three dari modernisasi Angkatan Bersenjata Filipina, dengan alokasi anggaran awal diperkirakan mencapai PHP 60 miliar hingga PHP 150 miliar (sekitar Rp17 triliun hingga Rp43 triliun). (RNS)
